Beranda / Opini / Antara Cinta dan Psiko-Traumatis Penyebab Terorisme

Antara Cinta dan Psiko-Traumatis Penyebab Terorisme

(Tulisan Kedua)

Masa Kanak-kanak dan Perilaku Terorisme dan “Shame-honor Cultures

Mengamati terorisme sebagai sebuah kajian perilaku dan sosial tentu sangatlah menarik. Banyak lahir pro dan kontra karena kajian terorisme itu sungguh kompleks dan multi-dimensional. Misalnya banyak orang yang mengatakan orang menjadi teroris karena lingkungannya. Namun, fakta sosial kekinian telah mematahkan anggapan itu karena kemudian ditemukan kasus-kasus di mana lingkungan yang penuh dengan dinamika dan harmoni heterogenitas ternyata masyarakat lingkungan itu sering tidak tahu kalau ada tetangga mereka yang kondisi sehari-harinya terlihat normal ternyata kemudian diketahui menjadi pelaku teror.

Seorang ahli psikoanalisis dan kontra terorisme, Nancy Hartevelt Korbin, melihat perincian detail tentang pola pengasuhan atau pola asuh Khamzat Azimov pemuda berumur 20 tahun yang pada 12 Mei 2018 lalu diakui ISIS sebagai jaringannya. Dia telah melakukan teror penikaman di Paris. Dia melihat bahwa masa kanak-kanak Azimov yang berada dalam suasana perang Checnya, dalam penderitaan panjang, melihat betapa nyawa manusia sepertinya tidak berharga membuat kepribadian Azimov menjadi berbeda.

Kondisi ini didukung fakta bahwa selama di Paris dia ditinggal terus-menerus hanya bersama ibunya, bahkan hanya dalam satu kamar di apartemen sampai dia ditembak mati oleh polisi saat terjadi kontak tembak. Kondisi seperti ini juga berlaku bagi pemimpin sparatis Checnya, Shamil Basayev, pimpinan Alqaedah kelahiran Yordania Abu Mushab Al- Zarqawi, pembom marathon Boston Dzhokar dan Tamerlan Tsarnaev juga keturunan Checnya.

Mereka ternyata memiliki masalah dengan hubungan ibu dan anak sejak dari bayi, yaitu  dalam model pola pengasuhan yang salah.  Para antropolog menyebutnya sebagai “shame-honor cultures ” atau budaya “ kehormatan dan rasa malu” . Analisa Korbin ini telah mengikis teori tentang perilaku anti sosial penyebab terjadinya kekerasan oleh teroris. Dalam kasus  Pembom Boston Marathon, Dzhokhar Tsarnaev dan saudara lelakinya Tamerlan juga dilahirkan dalam situasi yang oleh Kobrin disebut sebagai berada pada “shame-honor cultures ” atau budaya penghormatan dan rasa rasa malu itu. Dzhkokhar Tsarnev diharuskan menegakan apa yang dianggap sebagai “kehormatan” dalam upaya untuk mencapai “sebuah keadilan”.  Caranya adalah dengan kekerasan dan balas dendam.

Dalam teori budaya kehormatan dan rasa malu, saat kanak-kanak, apabila anak selalu disuguhkan tontonan atau melihat kekejaman dan penindasan, apalagi terhadap keluarga dan ibu sang anak, maka akan lahir luka psikotraumatis dan dendam.  Kasus seperti ini sangat jamak ditemukan di daerah yang sedang berkonflik dan perang seperti;  invansi di Chechnya, perang Afghanistan, konflik Pakistan, radikalisme di Nigeria, kekerasan di Suriah, kekerasan di beberapa negara di Timur Tengah dan Arab.

Secara teory di sinilah persoalannya berawal. Dari sinilah “rasa malu” digunakan oleh sang ibu untuk mendisiplinkan bayi dan anak-anaknya.  Anak anak dipaksa untuk disiplin agar tidak menjadi korban kekerasan. Diceritakan pada mereka hal-hal terkait penderitaan, kekerasan dan pelecehan serta perilaku menyakitkan lainnya. Kobrin menjelaskan bahwa bayi dalam budaya penghormatan rasa malu, juga sering diperlakukan seperti benda dan dipaksa belajar untuk menekan perasaan mereka ke titik di mana kemarahan internal dapat mendidih di dalam sanubari mereka. Lahirlah sakit hati, luka perasaan dan dendam, dan masalah yang paling berakibat pada psikotraumatis yang fatal.

Kata Kobrin, wanita dalam budaya penghormatan rasa malu juga sering didevaluasi, dijadikan objek atau bahkan dilecehkan secara fisik. Wanita yang juga ibu-ibu bagi anak-anak mereka dilecehkan dan terganggu kehormatannya juga menjadi sangat pemarah. Catatan penting bagi kondisi ini bahwa reaksi bawah sadar para ibu muda terhadap pelecehan berdampak serius pada perkembangan awal anak-anak mereka. Apalagi kalau anak-anak yang masih balita itu melihat bagaimana ibu mereka diperlakukan dengan kejam.

Empat tahun pertama kehidupan seorang anak adalah saat yang krusial ketika bayi mulai mengembangkan empati terhadap manusia lain. Kurangnya empati dan kepedulian terhadap rasa sakit yang disebabkan oleh teroris kepada orang lain adalah hampir lebih buruk daripada serangan teroris itu sendiri. Dia akan melahirkan dendam.

Menurut Kobrin, para ekstremis ISIS menunjukkan perilaku yang penuh dengan akibat kehancuran, kekejaman, dan sadisme di luar batas. Tetapi sebagai ahli Kobrin mengingatkan psikoanalis harus berhati-hati untuk tidak “mendiagnosis” sama pada seluruh kelompok orang. Kobrin juga mengatakan pemahaman yang lebih baik tentang keterikatan ibu dalam budaya penghormatan rasa malu akan membantu dalam memahami akar kekerasan teroris. Keterikatan dan rasa malu ibu memainkan peran yang sangat traumatis karena anak-anak yang menyebabkan lahirnya kemarahan. Ketika anak-anak ini tumbuh dewasa, mereka memperlakukan orang lain sebagai objek dan siklusnya akan berlanjut terus.

Mewaspadai Radikalisme yang Tumbuh Sejak Dini

Mungkin semua manusia di muka bumi ini percaya bahwa seseorang dilahirkan ke dunia ini tidaklah membawa gen penjahat. Kalau kemudian setelah dewasa seseorang membunuh orang lain, seseorang mencuri, maka itu bukanlah bawaan orok atau ada gen pembunuh atau pencuri dalam dirinya. Begitupun dalam dunia terorisme. Terorisme bukanlah bawaan lahir. Terorisme bukanlah karena dalam tubuhnya ada gen terroris. Bukan pula karena bapaknya terroris, maka otomatis anaknya akan menjadi terroris Juga. Walaupun ada fakta untuk hal yang terakhir bahwa ada beberapa kasus di mana terroris berasal dari satu klan atau keluarga. Seperti Kasus Achmat Kandai dari NII di mana dia dan anak anaknya menjadi teroris atau keluarga Abbas Malaysia, atau Hamzah been Ladeen adalah kasus kekeluargaan terroris yang patut dikaji dengan berbagai disiplin ilmu mulai kajian psikologi, kriminologi, sosiologi , budaya  dan berbagai kajian ilmu lainnya.

Namun suatu hal yang pasti bahwa seseorang menjadi teroris dipengaruhi oleh berbagai hal, di antaranya  Pertama ; keluarga. Pola pengasuhan dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak hingga dia dewasa. Anak anak yang dididik di lingkungan agamais, maka akan menjadi agamais. Anak yang dididik dilingkungan agama yang sangat fanatik maka dia akan menjadi seorang agamais yang fanatic yang cenderung tidak moderat dan kurang toleran. Tetapi anak yang diajari agar menjunjung moderasi dia akan menjadi seorang agamais yang memelihara toleransi. Tetapi yang dari kecil diajarkan agamais dan tidak toleran dengan lingkungan apapun di luar keluarganya akan menjadi anak yang tertutup dengan pendangan radikal. Kalau radikalnya ditambah dengan ajaran kekerasan, maka dia akan menjadi seorang radikal agama yang pro terhadap kekerasan.

Kedua ; trauma lingkungan masa lalu saat masih kanak-kanak. Lingkungan penuh penderitaan, kekejian, maka akan melahirkan apa yang disebut Korbin sebagai teori “shame-honor cultures ” atau budaya “kehormatan dan rasa malu”. Anak yang lahir di lingkungan ini apalagi dibekali dengan ajaran radikal agama pro kekerasan, di sinalah awal dia akan menjadi teroris. Orang orang yang tidak takut mati demi sebuah tujuan yang subjektif yaitu Jannah.

Untuk mengatasi persoalan keluarga atau anak, keponakan agar tidak menjadi terrorist, maka ada beberapa hal yang harus kita pahami , di antaranya ; haruslah kita pahami bahwa lingkungan keluarga akan sangat mempengaruhi kepribadian anak. Pendidikan agama merupakan keharusan sebagai sarana kontrol personal, namun pembelajaran agama sesuai dengan ajaran dasar harus dibekali dengan moderasi dan narasi kedamaian sebagaimana diajarkan dalam Al Quran atau kitab kitab dalam agama lain. Tidak boleh menterjemahkan jihad atau hijrah dengan tafsiran sendiri sehingga menghasilkan tujuan dan empati semu (ekslusif namun intoleran). Tidak boleh Belajar hadist tanpa Ulumul hadis.

Lingkungan juga tidak kalah penting. Anak-anak harus dikontrol pergaulannya. Kalau anak-anak bergabung dengan kelompok ekslusif agama maka harus didalami arahnya kemana. Waspadai apabila anak sudah mengutamakan agama di atas kegiatan sosial kemasyarakatan lain. Apalagi bila agama dianggap lebih penting dari realita kehidupan nyata yang penuh dengan dinamika ini. Intinya tanamkan keseimbangan antara aqidah, amaliyah, kebutuhan dunia yang tak melanggar aturan agama dan persiapan Ahkirat nanti.

Semoga bermanfaat 

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Uighur, Isu HAM dan Akses Informasi

Keamanan Nasional Cina: Antara Terorisme dan Separatisme Sama halnya dengan dengan negara yang rentan terhadap …