Beranda / Opini / Suku Fulani : Fenomena Penggembala Sapi dengan Senjata Api

Suku Fulani : Fenomena Penggembala Sapi dengan Senjata Api

Siapakah Suku Fulani?

Mungkin kita belum pernah melihat segerombolan ratusan sapi dan kambing berjalan di tengah padang rumput, yang hanya dikawal oleh 2 orang penggembala, namun di belakang punggungnya tersandang 2 pucuk senjata Ak-47 dengan magazen terpasang penuh. Terlihat sangat aneh, namun itulah pemandangan yang saya lihat ketika baru mendarat di Bandara Abuja saat perjalanan menuju Wisma KBRI.

Pertanyaan yang timbul, untuk apakah senjata api itu? Untuk menghalau sapi dan kambingkah? Untuk mencegah pencurian sapi dan kambingkah? Atau para penggembala itu memiliki musuh yang dapat mengancamnya sehingga harus berjaga-jaga dengan senjata?

Suku Fulani atau lebih dikenal dengan Fula atau Fulani atau Fulbe berasal dari bahasa Nigeria, merupakan suku atau kelompok etnis yang diyakini sebagai kelompok nomaden di dunia. Mereka tersebar di banyak negara di Afrika Barat dan Afrika Tengah, mulai dari Senegal hingga ke Republik Afrika Tengah, Afrika Tengah, sampai Afrika Timur. Di Nigeria, beberapa kelompok suku ini meneruskan tradisi hidup dengan berpindah-pindah, walau ada juga yang sudah tinggal menetap di kota-kota.

Sebagian besar waktu penggembalaan yang nomaden ini dilakukan di kawasan yang bersemak-semak. Mereka menggembalakan ternak mereka di kawasan yang luas dan sering kali memicu bentrokan dengan masyarakat petani. Presiden Nigeria yang saat ini dijabat oleh Bapak Muhammadu Buhari merupakan salah satu contoh Suku Fulani yang berhasil.

 Menggembala Hingga Peperangan

Di wilayah Nigeria bagian tengah, komunitas petani yang menetap sering bentrok dengan para penggembala ternak atau lebih dikenal dengan Suku Fulani yang berpindah-pindah ini. Biasanya bentrok dipicu oleh akses atas tanah dan hak untuk memberi makan ternak di padang rerumputan. Konflik ini sebenarnya sudah lama berlangsung, namun beberapa waktu belakangan memasuki tingkat kebrutalan yang baru.

Aksi balas dendam sudah meledak menjadi perang komunal antar-suku, yang sepanjang tahun lalu menewaskan ribuan orang. Dan kawasan ini juga rawan dengan ketegangan agama, tepatnya antara umat Islam yang umumnya tinggal di sebelah utara dan Kristen yang berdiam di selatan.

Para peternak umumnya merupakan suku Fulani yang beragama Islam sedangkan mayoritas petani adalah umat Kristen. Namun tidak jelas kenapa kekerasan sering terus terjadi antara komunitas petani dan Suku Fulani. Sedikitnya 86 orang tewas di negara bagian Plateau, Nigeria akibat bentrokan komunal antara para petani dan penggembala ternak pada Kamis 21 Juni 2018, ketika petani warga suku Berom menyerang para peternak suku Fulani dan menewaskan lima orang serta 50 rumah, 15 sepeda motor dan dua mobil dibakar.

Kawasan Plateau di Nigeria bagian tengah ini memang sudah lama memiliki sejarah konflik dan kekerasan antara kelompok-kelompok etnis dengan alasan memperebutkan lahan. Dengan situasi tersebut, Gubernur negara bagian Plateau, Bapak Simon Lalong, juga turut angkat bicara bahwa pemerintah telah mengambil langkah untuk mengamankan masyarakat yang terkena dampaknya dan mencari pelakunya serta meminta masyarakat untuk berdoa kepada Tuhan agar diberikan petunjuk dalam peristiwa tersebut.

Selain itu dituturkannya bahwa pemerintah akan melakukan semua hal yang bisa dilakukan untuk dapat mengamankan negara bagian sesegera mungkin. Aparat keamanan juga sudah dikerahkan ke negara bagian Benue, Nasarawa, dan Taraba untuk mengamankan komunitas yang diserang serta mencegah terjadinya serangan lanjutan.

Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari, berulang kali menuding eskalasi bentrok dipicu oleh imbas meningkatnya konflik di Libia. Sebagian pihak ada juga yang menuding kegagalan aparat keamanan, yang sedang sibuk menghadapi dua pemberontakan, kelompok radikal Islam Boko Haram di utara dan para militan di kawasan selatan yang kaya minyak.

Belakangan peternak suku Fulani melakukan serangan balasan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang lebih besar. Banyak pula timbul pertanyaan terkait kejadian yang belum lama terjadi itu, apakah memiliki keterkaitan dengan peningkatan eskalasi menjelang pemilihan tahun 2019 mendatang?

 Jihad Fulani : Sisi Lain Sejarah Suku Penggembala

Ternyata sejarah Suku Fulani tidak hanya pandai menggembala dengan berpindah-pindah, akan tetapi masa lalu menjelaskan bahwa Suku Fulani juga pernah melakukan Jihad yang lebih dikenal dengan Jihad Fulani atau disebut Jihad Usman Dan Fodio. Jihad Fulani merupakan perang yang meletus di wilayah yang kini merupakan bagian dari Nigeria dan Kamerun pada tahun 1804–1808.

Perang itu dimulai setelah Usman Dan Fodio (seorang ahli dan pengajar agama Islam) dibuang dari Gobir oleh Raja Yunfa, salah satu mantan muridnya. Usman Dan Fodio mengumpulkan angkatan bersenjata yang terdiri dari anggota Suku Fulani untuk melancarkan jihad terhadap kerajaan-kerajaan Hausa di Nigeria utara. Tentara Usman Dan Fodio secara perlahan menguasai kerajaan-kerajaan Hausa hingga akhirnya Gobir direbut pada tahun 1808. Yunfa kemudian dihukum mati, dan Kekhalifahan Sokoto yang dikepalai oleh Usman Dan Fodio didirikan. Negara tersebut menjadi salah satu negara terbesar di Afrika pada abad ke-19 dan menginspirasi jihad sejenis di Afrika Barat.

Sejarah lain juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 1960 pernah terjadi pembantaian Suku di Nigeria, ketika Nigeria merdeka dari Inggris pada tahun 1960, hampir 60 juta orang lebih dari 300 suku bangsa dan agama hidup di perbatasan. Karena banyak etnis yang berbeda hidup saling berdekatan hingga menimbulkan konflik SARA. Salah satu kelompok terbesar di daerah tersebut, Igbo, memutuskan untuk memisahkan diri dari Nigeria dan membentuk Republik Biafra. Pemerintah Nigeria segera meluncurkan kampanye untuk merebut kembali wilayah yang kaya minyak memisahkan diri.

Dari tahun 1967, ketika Republik Biafra dibentuk, hingga akhir tahun 1970, perang sipil antara pemerintah dan pemberontak Biafra pun berkobar. Pemerintah Nigeria melakukan segala yang mereka bisa untuk menghancurkan bangsa Biafra. Kematian warga sipil juga terjadi saat itu karena akses kemanusiaan ditutup. Mereka bahkan memblokir makanan dan air masuk ke Biafra, berkontribusi terhadap hampir 3 juta orang meninggal dalam perang sipil. Hampir 5.000 meninggal setiap hari, sebagian besar dari mereka keturunan Igbo.

Pada akhirnya, pemerintah Nigeria harus jeli dengan sejarah masa lalu dan pertikaian yang terus terjadi antara Suku Fulani sang penggembala ternak dengan komunitas petani. Jika hal itu tidak dapat diatasi dengan bijaksana dimungkinkan dapat memicu ke arah yang lebih besar dan dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan aksi teror di wilayah Nigeria.

Tentang Letkol Sus R.Tjandra S, M.Han

Baca Juga

Menanti Perdamaian di Filipina

Serangan Sebagai sinyal: “Kami Masih Ada” Tentu masih ingat betapa pasukan elit Filipina pada Jumat, …