Beranda / Opini / Melawan Narasi Kebencian
Melawan Narasi Kebencian

Melawan Narasi Kebencian

Sentimen kebencian dan permusuhan yang menghantui masyarakat Indonesia saat ini perlu segera disikapi dengan bijak dan tepat. Indonesia sedang tumbuh menjadi negeri yang maju dan mampu, jangan sampai kemajuan ini dilumuri oleh sebaran narasi kebencian dan permusuhan yang malah akan menghempaskan Indonesia jauh ke belakang.

Temuan survei Wahid Foundation belum lama ini perlu dijadikan alarm bersama untuk segera bersatu dan jaga Indonesia. Sebab, survei tersebut menunjukkan betapa kebencian telah menjadi bagian signifikan dari wajah kekinian kita. Survei ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, yang diwakili oleh responden, memiliki sasaran kebencian. Hal ini ditunjukkan dengan adanya 10 kelompok yang paling tidak disukai.

Kelompok yang tidak disukai ini antara lain; Komunis (21,9%), LGBT (17,8%), Yahudi (7,1%) dan Kristen (3,0%). Selain kelompok di atas, atheis, China, Syiah, Wahabi, Katolik dan Buddha juga masuk dalam daftar kelompok yang tak mereka sukai.

Tak hanya berhenti di situ, 92,2% responden yang mengaku memiliki kelompok yang tidak disukai tersebut menyebut tak sudi jika orang-orang yang berasal dari kelompok tersebut menjadi pejabat publik. Bukan lantaran kemampuan mereka tidak memadai, melainkan karena mereka tidak disukai. 82,2% dari responden di atas bahkan berlaku lebih keras lagi; tak rela menjadikan mereka tetangga.

Benci yang telah menyebar dan menjangkiti sebagian masyarakat Indonesia dewasa ini salah satunya dipicu oleh keberadaan narasi-narasi kebencian dan berujung pada permusuhan. Sudah jamak diketahui, kebencian dan permusuhan kerap kali muncul tanpa perlu adanya alasan atau penjelasan.

Ia bisa muncul begitu saja sebagai perasaan/sikap buta, termasuk buta untuk melihat fakta. Masuknya kelompok Yahudi dan Komunis dalam daftar kelompok yang tak disukai seperti di atas adalah bukti betapa kebencian telah membutakan sebagian masyarakat kita dari kenyataan. Yahudi dan Komunis nyatanya hanyalah isu belaka, bukan fakta. Propaganda soal kebangkitan 15 juta komunis lenyap seketika dengan ditangkapnya 14 aggota MCA.

Untuk penangkapan gerombolan penyebar dusta MCA, kita tentu perlu apresiasi kinerja aparat kepolisian RI. Mereka bukan saja telah berhasil menangkap salah satu kelompok produsen narasi kebencian, tetapi juga, dan ini yang lebih penting, berhasil untuk segera memandamkan bara permusuhan yang akan menghasilkan kehancuran di masa mendatang.

Dari kacamata Kriminologi Konflik, penyimpangan yang terjadi di masyarakat lebih dipandang sebagai persoalan politis, bukan moral. William Chambliss dan Richard Quinney dalam The Sosial Reality of Crime (1970) menjelaskan preposisi yang mendeskripsikan hubungan antara kejahatan dan tatanan sosial, menurut mereka,  konsep-konsep yang disebut “jahat”, “tidak etis”, dan sejenisnya dibangun dan disebar dalam segmen-segmen masyarakat tertentu melalui berbagai sarana komunikasi dengan tujuan untuk membangun realitas lain tentang sesuatu yang tidak patut.

Seturut dengan penjelasan di atas, Austin Turk menambahkan bahwa hal ini menyebabkan munculnya pertarungan kesadaran di tengah-tengah masyarakat yang menimbulkan konflik. Dari konflik ini muncul pihak-pihak yang berusaha unggul dalam realitasnya masing-masing.

Bermula Dari Prasangka

Kebencian dan aroma permusuhan yang menghantui kita bermula dari bias dan prasangka. Profesor Daniel Kahneman menjelaskan bahwa keduanya adalah bagian dari sistem berpikir otak manusia. Menurut pakar psikologi penilaian dan pengambilan keputusan ini, sistem kerja otak manusia terbagi kedalam dua pola, yakni jalur cepat dan jalur lambat.

Di jalur cepat, pola kerja otak membantu manusia untuk bertindak responsif, cepat mengambil keputusan. Pola ini tidak memerlukan rasio atau proses berpikir ulang. Pola ini biasanya digunakan pada keadaan-keadaan genting. Semisal, ketika anda sedang mengendarai mobil, lalu mobil di depan anda mengerem mendadak, sistem berpikir di jalur cepat akan membantu anda untuk mengambil keputusan seketika; rem mendadak atau banting setir.

Sementara di jalur lambat, pola kerja otak memerlukan rasio dan proses berpikir ulang, melakukan koreksi dan revisi. Meski tidak cepat, namun pola kerja ini cenderung memberikan hasil yang lebih baik dibanding pola jalur cepat. Sayangnya, bias dan prasangka masuk dalam bagian pola kerja otak di jalur cepat. Tanpa pikir ulang, tanpa revisi.

Dahulu, saat manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden), manusia disebut lebih sering menggunakan sistem berpikri cepat. Manusia saat itu masih diselimuti dengan berbagai bias dan prasangka. Ketika bertemu dengan kelompok lain –kelompok yang tidak mereka ketahui— manusia jaman dulu harus segera memutuskan ‘nasib’ kelompok yang ditemuinya ini; dijadikan teman atau lawan.

Hal ini menunjukkan bahwa bias dan prasangka telah menjadi bagian dari sistem berpikir manusia, dan karenanya sulit untuk dihilangkan. Meski begitu, sebagai manusia modern kita perlu mengetahui bahwa bias dan prasangka berada di sistem berpikir jalur cepat, yang memiliki potensi besar memberi infomasi yang salah.

Bias dan prasangka cenderung berkembang dan beranak-pinak di masyarakat atau individu yang tertutup terhadap kelompok masyarakat lain. Mereka cenderung hanya menerima kebenaran dari kelompoknya sendiri, sementara di luar kelompoknya, kebenaran hanyalah ilusi. Dan benar saja, beberapa eksperimen sosial soal rasisme menguatkan ini.

Dari eksperimen-eksperimen itu diketahui bahwa orang akan cenderung lebih percaya pada informasi yang disampaikan oleh orang yang berasal dari golongan mereka sendiri, meski informasi tersebut terdengar janggal atau bahkan tak masuk akal. Kesamaan golongan ini dapat merujuk pada kesamaan pada agama, bahasa, suku, warna kulit, dsb.

Jika tak diolah dengan benar, bias dan prasangka dapat membuka jalan untuk masuknya narasi kebencian. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa sebaran informasi yang terjadi saat ini tidak menjamin tingginya jumlah masyarakat yang teredukasi, terutama karena masih adanya kencederungan untuk menerima kebenaran yang berasal hanya dari kelompoknya saja, bukan berdasarkan fakta.

Sebelum menyesal di kemudian hari, kebencian dan permusuhan harus diakhiri. Menyeimbangkan sistem kerja otak, bisa digunakan sebagai langkah awal. Tak semua hal hebat harus dilakukan cepat, bukan?

Tentang Didik Novi Rahmanto, M.H

Anggota Satgas Penindakan BNPT, Mahasiswa Doktoral Departemen Kriminologi UI. manaruh minat pada isu foreign terrorist fighters dan global terrorism

Baca Juga

Asian Games 2018: Sukses Bersejarah!

Indonesia sukses menjadi tuan rumah dalam penyelenggaran Asian Games 2018. Apresiasi dan pujian datang tidak …