Kecewa Pada (Tampilan Buruk) Agama (Bag 1)

Apa yang tergambar di benak Anda ketika mendengar istilah Muslim? Orang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah kah? Orang bersarung kah? Orang berjenggot dengan jubah menempel di badannya kah? Orang yang hafal alquran dan beberapa hadist Nabi kah? Orang yang menenteng senjata sembari berkoar ALLAHU AKBAR! kah? Atau ada gambaran lainnya?

Umumnya istilah yang diserap dari bahasa Arab ini diartikan sebagai orang yang beragama Islam. Namun, lagi-lagi pengertian ini juga punya banyak tafsir di kalangan ahli. Ada yang menafsirkannya dengan mengacu pada aspek formalnya, ada juga yang menafsirkannya dengan mengacu pada nilai-nilai subtansialnya.

Berpangkal dari hal ini, penulis sengaja memberikan tanda petik pada kata muslim sebagai bentuk penekanan makna. Sebab, ada sebagian orang yang punya ‘sinisme’ dan bahkan ‘phobia’ terhadap istilah ini. Pertanyannya adalah; mengapa phobia itu terjadi?

Setidaknya ada dua model cara pandang dalam menyikapi munculnya phobia terhadap Islam; cara pendang pertama adalah dengan menitikberatkan persoalan pada hal-hal diluar dirinya (external locos of control), sementara cara kedua adalah menitikberatkan medan refleksi pada diri sendiri (internal locus of control).

Mereka yang menitikberatkan persoalan pada hal-hal diluar dirinya akan cenderung menyalahkan hal-hal lain selain dirinya sendiri, seperti; media asing, aqidah lain, dan menyalahkan cara pandang orang-orang yang tidak sepakat pada Islam.

Sementara cara pandang yang menitikberatkan pada refleksi pribadi akan melakukan evaluasi pada diri sendiri. Orang orang yang masuk kelompok kedua ini akan mencoba menggali kekurangan diri dan selalu mencoba memperbaikinya. Kali ini penulis ingin mengajak para pembaca untuk menyikapi munculnya phobia terhadap Islam dengan melakukan refleksi internal sebagai muslim.

Adalah buku Leaving Islam: Apostates Speak Out yang merupakan kumpulan ‘penuturan’ sejumlah  ‘eks-Muslim’ yang diedit oleh Ibnu Warraq (nama samaran) sebagai bentuk ‘gambaran/suara’ tentang keironian Muslim di beberapa negara bersimbolkan Islam seperti Pakistan, Bangladesh, Afganistan, Iran, dan Arab Saudi.

Sebelumnya para penulis buku ini merupakan para sarjana-aktivis muslim, namun karena kesaksian mereka atas fenomena-fenoma ironis nan mengerikan dalam kehidupan mereka terkait dengan kemusliman, mereka pun akhirnya memilih untuk menanggalkan label muslim.

Buku ini—menurut penulis—penting untuk disimak sebagai kritik atas ironi Muslim yang kerap ditampilkan dengan citra yang sangat buruk oleh kelompok radikal-ekstrim. Kelompok yang menebarkan kekerasan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan, khusunya agama Islam ini dinilai Muhammad Said Ashmawi (pemikir Islam dari Al-Azhar Mesir) sebagai kelompok Islam ekstrim.

Tanpa disadari, perilaku sadis yang ditampilkan oleh kelompok Islam ekstrim itu telah membuat sebagian umat Islam frustasi dan kehilangan kepercayaan terhadap agamanya, pada akhirnya mereka memilih untuk menyatakan ‘good bye’ pada  Islam.

Lantaran muncul dalam sebuah ruang yang amat kompleks, maka persoalan apostasi bukan semata-mata tentang ranah teologis-keagamaan, melainkan juga tentang ranah sosial, politik, ekonomi dan kemanusiaan.

(bersambung…)