Beranda / Opini / Hubungan Homegrown dan Tantangan Global: Membaca Prediksi Ancaman Terorisme 2019 (Tulisan Kedua)

Hubungan Homegrown dan Tantangan Global: Membaca Prediksi Ancaman Terorisme 2019 (Tulisan Kedua)

Membaca Serangan dan target di Asia Tenggara

  1. Serangan di Indonesia lebih menyasar Polisi, mengapa ?

Sesungguhnya terorisme dengan target polisi bukan hanya terjadi pada tahun 2018 saja. Bahkan jauh sebelumnya, ada beberapa kasus di mana polisi menjadi target seperti Al Aljamaah Al Islamiyah. Sebelum tahun 2018 ada beberapa catatan di mana polisi menjadi target teroris, sebut saja misalnya:

 

Pertama: periode 2016 dan 2017;  a) pada tanggal 5 Juli 2016 betapa seorang teroris mencoba menerobos masuk Kemapolresta Solo, Jawa Tengah, tepatnya di depan sentra pelayanan masyarakat  Pelaku dapat dilumpuhkan, namun seorang Polisi terluka . b)Tanggal 20 Oktober 2016 Kompol Efendi seorang Kapolsek di Tangerang dan dua personil lainnya diserang oleh Sultan Aliansyah yang ingin berangkat ke Suriah. c). Tanggal 8 April 2017 teroris mencoba menyerang Pos Polisi Tuban. Pelaku yang berasal dari JAD itu berhasil dilumpuhkan. d). Tanggal 11 April 2017 Terjadi serangan juga di Mapolres Banyumas. e) Tanggal 24 Mei 2017 Bom bunuh diri di Terminal halte Bus di Kampung melayu yang ingin mentargetkan polisi yang sedang melaksanakan Pengamanan Pawai Obor Ramadhan. f). Tanggal 25 juni 2017, dua teroris mencoba menyerang penjagaan Mapolda Sumatera utara. Seorang polisi tewas dan seorang pelaku langsung ditembak ditempat. g). Tanggal 30 juni 2017 saat sedang sholat di masjid Faletehan, Mabes Polri – Jakarta selatan mengakibatkan dua Polisi luka luka dan pelaku tewas ditembak ditempat.

 

Kedua: Periode Januari 2018 sampai akhir Desember 2018 a). Peristiwa yang paling menggemparkan adalah Peristiwa Kerusuhan Lapas Teroris di Mako Korbrimob Kelapa dua tanggal 8 Mei 2018 yang berdampak besok harinya 5 Polisi meninggal dunia. Napi berupaya merampas senjata petugas serta mengambil alih rumah tahanan tersebut. Satu polisi disandera dan seorang teroris ditembak mati di dalam rumah tahanan dan 2 orang teroris lainnya yang akan mendatangi Korbrimob juga ditembak mati – seorang polisi ditikam. b). Kamis tanggal 10 Mei 2018 perlawanan napi di Rutan Korbrimob berhasil digagalkan, rumah tahanan diambil alih kembali oleh petugas 145 narapidana dipindahkan ke Nusa Kambanagan.  c) Tanggal 11 Mei 2018 seorang teroris yang ditangkap polisi karena mencurigakan menusuk polisi hingga tewas akhirnya terroris tersebut ditembak mati berikut ketiga rekannya di Tambun Bekasi. d) Sabtu tanggal 12 Mei 2018 dua perempuan Dita Siska Meilina dan Siska Nur Azizah ditangkap karena kedapatan membawa senjata tajam dan terungkap mau menusuk anggota brimob di rutan Kelapa dua. e)Tanggal 13 Mei 2018 jam 02,00 empat orang terduga teroris JAD dari Cianjur tewas ditembak polisi karena berniat berangkat ke Mako Korp Brimob untuk menyerang  polisi. f). Minggu tanggal 13 Mei 2018 jam 07.30 Bom Meledak ditiga gereja di Surabaya (Pantekosta, Santa maria tak bercela dan GKI ) pelaku satu keluarga tewas. Mereka pimpinan JAD Jawa Surabaya, Dita, istri dan keempat anaknya. g). Tanggal 13 Mei 2018 pukul 22,50 Bom meledak Prematur di rumah susun Wonocolo di Sidoarjo. Anton Febrianto umur 47 tahun bersama istrinya Puspita sari yang memegang saklar Bom, anak nya masing masing berumur 17 tahun, 15 tahun, 2 orang berumur 11 tahun mengalami luka serius. H). Tanggal 14 Mei 2018 pukul 08,50 serangan bom bunuh diri ke Polrestabes Surabaya oleh dua orang menggunakan sepeda motor, pelaku meninggal dunia, empat polisi dan enam warga sipil luka luka.i). Senin 14 Mei 2018 Polisi menangkap Sembilan teroris di Graha pena Surabaya dan jembatan merah Surabaya. Empat pelaku ditembak mati.

  1. Serangan di Filipina sebagai Sinyal dan upaya memperpanjang darurat militer

 

Pertama ; Serangan sebagai sinyal. Penulis pernah menulis judul ini, sebagai berita penutup tahun, tepatnya akhit November.  Pada tanggal 15 November 2015 yang lalu haruslah diakui Militer Filipina mengalami kekalahan di atas situasi yang sudah dikuasai dan darurat militer telahpun ditegakan. Duka dan belasungkawa digelar akibat terbunuhnya lima prajurit pilihan negara itu;  Kopral Renhart Macad, pemuda kelahiran Tabuk provinsi Kalinga, Kopral Bryan Apalin dari kota Abra Capital Bangued, Kopral Jhin Raphy Francisco yang berasal dari Isabella kota Illegan City, Kopral Marlon dari Cuayan dan Jordan Labbutan dari Kota Rizal provinsi Kalinga. Mereka bertempur habis-habisan menghadapi 60-an kelompok Abu Sayyaf di kota Patikul yang juga menyebabkan 23 lainnya terluka. Kini mereka, para prajurit itu, telah dimakamkan dengan tenang dengan atribut prestisius dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa (anumerta). Medali kehormatan atas keberanian mereka diberikan santunan beasiswa bagi anak-anak mereka serta santunan yang diberikan langsung melalui Komandan Divisi 5 Infantri Filipina, Mayjend Army Perfecti Rimando. Akan tetapi, ini adalah sinyal bahwa kelompok radikal di Filipina belumlah sepenuhnya menyerah. Pemerintah Filipina harus ekstra waspada menghadapi serangan serupa itu secara dadakan. Pesan yang disampaikan jelas sekali bahwa “kami masih ada”.

Kedua : Masih adanya desakan yang kuat untuk memperpanjang tenggang waktu Darurat Militer saat Abu Sayyaf mulai lagi melakukan penyerangan terhadap markas, pos militer dan Polisi, telah membuka pintu perdamaian untuk mempercepat BOL (Bangsamoro Organic Law). Namun, bersamaan dengan itu CPP pun mencoba menginisiasi keinginan perundingan dengan menyampaikan keinginan bertemu Presiden Duterte. Timbul silang pendapat pro dan kontra perpanjangan waktu darurat militer di Filipina Selatan pasca Marawi. Keinginan untuk mempercepat perdamaian terganjal oleh situasi curi-curi untuk meneror dan merugikan militer yang bisa terus berkembang dan menjadi sangat tidak kondusif. Sehingga terbaca oleh masyarakat Filipina dan dunia bahwa Manila ingin memperpanjang darurat militer sampai 2019.

Hal ini misalnya terlihat dari beberapa indikasi; a) Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Carlito Galvez Jr. merekomendasikan untuk memperpanjang status darurat militer di Mindanao berdasarkan hasil penilaian militer dan umpan balik yang baik dari kepala daerah di wilayah rawan serangan. b) Komando Mindanao Timur (Eastmincom) juga memberikan penilaian yang sangat rinci, lengkap dan panjang dengan melihat bahwa sebagian besar pemerintahan di daerah merekomendasikan untuk menghendaki perpanjangan atau perluasan waktu darurat militer. c) Panglima Angkatan bersenjata Galvez juga mengklaim bahwa sebagian besar gubernur provinsi di Mindanao ingin darurat militer diperpanjang. d) Mayor Jenderal Cirilito Sobejana, komandan Divisi Infanteri ke-6 yang berbasis di Mindanao juga mengatakan militer akan mampu mencegah pelanggaran hukum di bidang tanggungjawabnya bila situasi tetap dalam keadaan darurat militer. Walaupun demikian, beliau sangat menyadari bahwa masih banyak kelompok-kelompok yang menentang darurat militer. Umumnya mereka mengkritik ketidakmampuan militer untuk menghentikan serangkaian pemboman di Selatan dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah daerah Provinsi Lanao del Sur memberikan dukungan bagi upaya memperpanjang dan perluasan waktu bagi darurat militer di Maguindanao dan Sultan Kudarat Jenderal Carilito masih menunggu respon Cotabato Utara. e) Jenderal Divino Rey Pabayo, komandan Satuan Tugas Gabungan Sulu, juga merespon dengan mengatakan bahwa tujuan darurat militer adalah menegakan hukum dan ketertiban di provinsi Sulu. f) Walikota Ben Estino juga mengatakan darurat militer merupakan bantuan besar dalam perang melawan kelompok-kelompok teror seperti Abu Sayyaf.

  1. Situasi Myanmar

Dengan Banyaknya pengungsi Myanmar yang tersebar di berbagai negara Asean seperti Indonesia, Malaysia dan Bangladesh, ada beberapa asumsi tentang Myanmar. Pertama, Burma sedang mengalami gejolak politik di mana pemerintahan yang baru mengalami konflik berat yang menjadi fokus perhatian PBB saat ini. Kedua, di Myanmar, gejala kekuatan separatisme yang masih kuat dengan adanya kelompok-kelompok pemberontak seperti RSO (Rohingya Solidarity Organization), ARIF (Arakan Rohingya Islamic Front ), RNC ( Rohingya National Council) yang disempurnakan menjadi ARNC (Arakan Rohingya National Council) yang secara tidak langsung telah disukung oleh kelompok Radikalis. Ketiga, terdapat kekuatan lain yang senantiasa ditekan oleh muslim garis keras di luàr, yaitu RLA (Rohingya Liberation Army) atau tentara pembebasan Rohingya yang menghendaki agar ARNO (Arakan Rohingya National Organization) untuk menyatukan semua pemberontak di Burma.

Sementara itu, ARNO sendiri telah menghubungi KNPP (Kareni National Progressive party) untuk memindahkan pangkalan ke wilayah KNPP yang berada di perbatasan Thailand dan Burma. ARNO sebagai sebuah kekuatan besar berusaha menjadi aliansi DAB (Diplomatic Alliance Burma) yaitu kelompok pemberontak Burma di perbatasan Thailand. Akan tetapi, KNPP dan DAB juga menolak walaupun aliansi militer di antara mereka telah terbentuk.

Dengan melihat beberapa fakta tersebut, kenapa Burma layak diperhitungkan sebagai ancaman terorisme di kawasan Asia Tenggara? Apabila kita melihat dalam perspektif jaringan global, ARNO tidak bisa dilepaskan dari hubungan yang kuat dengan al-Qaeda. Begitu pula beberapa gerakan Rohingya juga berafiliasi dengan al-Qaeda. Dan tidak bisa disangkal bahwa a-Qaeda telah mencancapkan cabang di Myanmar. Individu dalam gerakan Rohingya mempunyai akses dan kontak langsung dengan harkatul jihad al-Islami sebagai underbow al-Qaeda di Bangladesh. Selain itu, isu sentral yang mulai beredar bahwa orang-orang Timur Tengah sangat tertarik dengan wanita Budha.

Pertanyaan berikutnya, seberapa penting Burma dalam jaringan terorisme global? Pimpinan al-Qaeda, Syeikh Ayman al-Zawahiri, telah meminta muslim garis keras di berbagai negara seperti Pakistan, Bangladesh, India dan Myanmar. Al-Qaeda yang mempunyai cabang di beberapa negara di Pakistan, Yaman, Checnya, Afrika dan Syam. Kekuatan ISIS tersebar dan yang terkuat ada di Bangladesh. Bangladesh sendiri berbatasan langsung dengan Burma. Fakta tersebut cukup untuk dijadikan variable-variable yang dapat memprediksi Burma sebagai salah satu ancaman terorisme di kawasan Asia Tenggara.

Prediksi ancaman dari Burma tidak boleh dipandang sebelah mata. Ancaman terorisme di Burma ibarat api dalam sekam. Bisa dibayangkan apabila ISIS dan Al-Qaeda bersatu dan bersama-sama menggarap Burma sebagai lahan perjuangan. Burma telah memiliki akar radikalisme yang kuat. Di situ juga ada potensi konflik agama yang kuat dengan hadirnya isu diskriminasi muslim Rohingya yang bisa dimainkan sebagai sumbu sentimentasi keagamaan yang dapat menumbuhkan proses radikalisasi yang cepat di tengah masyarakat. Konflik berbasis agama akan cepat menjadi sumbu radikalisme sebagaimana pengalaman Indonesia dalam konflik Poso dan Ambon.

Krisis di Rohingya telah menyebabkan setengah juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada bulan pertama konflik. sebanyak 200 ribu orang lebih menyusul beberapa bulan kemudian. Hingga kina sebagian besar mereka masih bertahan di Cox’s Bazar sebagi kamp pengungsi terbesar di dunia.  Sebuah berita dari  AFP memberitakan bahwa pada tanggal 4 Desember 2018 lalu Sebuah perahu dengan 20 orang yang diduga etnis Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar tiba di Aceh pada hari selasa 4 Desember lalu dengan berlayar menggunakan perahu kayu yang sudah tua. Usia mereka diduga berusia antara 20-40 tahun.

Dalam bulan April tahun 2018 sudah 80an pengungsi Rohingya berlabuh di Aceh setelah beberapa minggu sebelumnya puluhan tiba di Malaysia. Padahal, diketahui bahwa otoritas Myanmar dan Bangladesh telah menghentikan perahu-perahu yang membawa para migran Rohingya menuju Malaysia. Sejuta lebih migran etnis Rohingya Muslim saat ini masih tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh.

Bersambung…

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Uighur, Isu HAM dan Akses Informasi

Keamanan Nasional Cina: Antara Terorisme dan Separatisme Sama halnya dengan dengan negara yang rentan terhadap …