FKUB Melawi Temui Tokoh Lintas Agama dan Suku Rawat Toleransi Beragama

Jakarta – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaen Melawi
menginisiasi temu tokoh lintas agama, suku dan organisasi melalui
diskusi terfokus sebagai bentuk memperkuat silahturahmi dan menjaga
serta merawat toleransi di daerah itu.

“Melalui kegiatan ini agar gesekan kecil beberapa waktu lalu jangan
sampai berlarut, mari kita jaga kerukunan dan eratkan tali
persaudaraan untuk membangun Melawi yang rukun,” ujar Plh. Ketua FKUB
Kab. Melawi, Qomarul Khair dalam rilisnya, Senin (6/5).

Dalam diskusi terfokus tersebut FKUB Melawi mengangkat tema
silaturahmi tokoh lintas agama, suku dan organisasi masyarakat dalam
rangka penguatan toleransi guna meningkatkan kesatuan dan keharmonisan
antar suku dan agama di Wilayah Kabupaten Melawi.

Kegiatan menghadirkan narasumber yaitu Asisten II Perekonomian dan
Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Melawi P. R. Beni Rubin,
Kapolres Melawi yang diwakili oleh Kasat Binmas Polres Melawi IPTU
Sofian Efendi, Ketua FKUB Kabupaten Melawi Qomarul Khair dan Ketua
Bamagnas Kabupaten Melawi Pdt. Paulus Timang M. Th, peserta FGD adalah
sejumlah tokoh lintas agama, suku dan ormas yang terdapat di Kabupaten
Melawi sebanyak 35 orang.

Salah satu narasumber dari Kepolisian yaitu Kasat Binmas Polres
Sekadau dalam materinya menyampaikan bahwa peran Polri dalam menjamin
keharmonisasian adalah sebagai dinamisator dan mendinamisir
terwujudnya kerukunan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka
Bhineka Tunggal Ika.

Menurutnya, Polri harus terus menjadi katalisator untuk mendorong
terwujudnya toleransi, penetralisir terhadap perbedaan pendapat untuk
mencegah terjadinya konflik ditengah masyarakat, termasuk mempercepat
proses kerukunan dan toleransi antar suku dan umat beragama.

Harapan Polri dalam membina kerukunan antar suku dan umat beragama
dapat melalui beberapa langkah yaitu dengan Jalin komunikasi yang baik
antar suku dan umat beragama. Jika komunikasi dan silaturahmi terjalin
dengan baik, bagaimana dan apa pun isu dan masalahnya dapat
diselesaikan.

“Konflik horizontal dapat diatasi ketika setiap warga masyarakat
mengedepankan toleransi, menghargai perbedaan dan mau menerima
kemajemukan sebagai kenyataan dan rahmat tuhan dan Kunci dari upaya
menghilangkan konflik adalah mau berdialog dan tetap memiliki semangat
Bhinneka Tunggal Ika,” kata dia.