Beranda / Opini / Boko Haram: antara Jihad Terorisme, Gerombolan dan Kebiadaban

Boko Haram: antara Jihad Terorisme, Gerombolan dan Kebiadaban

Mengapa Mengharamkan Barat?

Dalam sesi diskusi santai, menyaksikan ambasador memainkan jari lentik beliau di atas toots piano mengalunkan lagu beat classic, sambil makan malam bersama menikmati gado-gado Indonesia versi Nigeria, Duta Besar RI untuk Nigeria, Bapak Herry Purwanto, bercerita banyak  pada  Penulis tentang banyak hal menyangkut keamanan Nigeria. Mulai dari kudeta militer, pengembala Fulani, sampai pemilu presiden diulas tuntas dengan mengasikan.

Awalnya beliau bercerita tentang Boko Haram. Memang sungguh sederhana bila dua kata digabungkan menjadi satu menjadi kata baru, apalagi dua kata baru itu setelah diterjemahkan menjadi nama sebuah organisasi teroris. Dua gabungan kata itu mempunyai arti  “Pendidikan Barat Haram” atau “Haramnya Pendidikan Barat”.

Bagi kita yang pernah belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar, nama Boko Haram lebih bersifat penekanan atau statemen.  Sehingga sungguhlah tidak cocok dengan nama sebuah organisasi yang beranggotakan sekelompok orang dalam kelompok militan yang memiliki persenjataan ribuan pucuk. Ada persenjataan modern, persenjataan konvensional  bahkan persenjataan tradisional rakitan. Mereka berada pada posisi lintas kawasan regional negara, seperti ;  Nigeria, Chad, Kamerun utara dan Niger.

Sama dengan kelompok militan teroris lainnya, tahun 2002 kelompok militan yang didirikan  oleh  Muhamed Yusuf  ini mulai menentukan target yang ingin dicapai oleh organisasinya.  Mulai dengan konsep mendirikan negara Islam sebagai basis ideologi perjuangan yang hanya ingin berdasar pada hukum Syariah. Dan lebih tragis dan sadis lagi bahwa mereka  mengharamkan semua yang berbau kebarat-baratan.

Berbicara tentang kapasitas keahlian, tidak perlu diragukan lagi.  Keahlian kelompok ini adalah melakukan amusement, penculikan, penghadangan,  penyerangan turis barat, pos militer, dan kantor polisi.

Dalam lingkungan internal mereka, para penjahat ini memberi nama perjuangannya sebagai “Jama’at Ahl as- sunnah lid-dakwah wal-Jihad“. Apabila diterjemahkan secara bebas menjadi Jemaat Sunnah untuk dakwah dan Jihad.

Kekerasan dan kebiadaban

Menilik dari  berita-berita media lokal Nigeria www.org.news/3bed 1d76ng yang diceritakan Duta Besar RI tersebut sungguh mengerikan. Kekerasan demi kekerasan mereka lancarkan terhadap masyarakat yang tidak berdosa. Bentuknya bisa penyerangan, penculikan bahkan perkosaan. Pada beberapa negara bagian seperti Borno, Kaduna, Yobe, Adamawa, Kano dan Bauci, daerah-daerah itu sudah seperti daerah langganan target mereka. Sudah terlalu sering mereka dijadikan sasaran dan langganan korban kekerasan.

Saat ini, pemimpin kelompok Boko Haram ini adalah Abubakar Shekau. Di tangan Sekaulah anak-anak umur belasan diajarkan menyerang penduduk yang tidak berdosa. Dan ternyata di tangan Sekau pula anak-anak umur belasan ini ternyata memiliki keberanian yang rata-rata melebihi orang dewasa.

Pada akhir tahun lalu, tepatnya pada bulan Desember 2017 serangan bom bunuh diri Boko Haram telah menyebabkan enam orang tewas. Ketika sebuah bom diledakan di sebuah pasar yang ramai dan padat pengunjung di wilayah Amarwa.  Sebelumnya pada bulan April 2017 sebuah bom bunuh diri juga menewaskan 10 orang meninggal setelah dua wanita meledakan diri. Sebelumnya mereka berdua menyerang sebuah desa.

Para pengamat berpendapat bahwa pola serangan Boko Haram saat ini diduga telah memiliki jejaring luas di dalam lingkungan masyarakat sipil, yakni dengan menggunakan pembom bunuh diri warga sipil tanpa pandang bulu, tanpa melihat gender, tanpa melihat usia. Bahkan sudah juga dengan menggunakan modus serangan, seperti halnya ISIS;  serangan tabrak lari, ambusment dan penghilangan.

Sementara  itu ada dugaan bahwa ada sebuah faksi lain terpisah yang didukung oleh kelompok ISIS yang dikenal sebagai ISWAP atau Islamic State in West Africa yang lebih memfokuskan serangan pada target militer dan aparat  pemerintah. Kekawatiran juga cukup beralasan jika seandainya diam-diam Boko Haram telah pula mengambil alih kepemimpinan ISWAP.

Pengambilalihan ini akan sangat memicu peningkatan kekerasan terhadap penduduk setempat. Karena, selama ini sangatlah mudah dipahami bahwa Boko Haram melakukan serangan di luar nalar pejuang lainnya seperti penculikan wanita, pemaksaan kawin atau lebih tepatnya perkosaan. Apalagi setelah ISWAP juga telah terbukti menewaskan seorang pekerja kesehatan Palang Merah (UCRC) yang diculik bersama dua rekannya dalam satu serangan pada enam bulan  terakhir.

Kekejaman demi kekejaman dilalukan oleh Boko haram di luar kebiasaan bahkan oleh Daesh maupun Al Qaedah sekalipun. Misalnya, Pada tanggal 19 Februari 2018 – Sebuah faksi Boko Haram menyerbu Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknik Pemerintah di kota Dapchi di Nigeria timur laut. Mereka berhasil menculik 110 mahasiswa perguruan tinggi itu.

Masih di tanggal yang sama, sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Departemen Kehakiman yang  mengatakan bahwa pengadilan tinggi Nigeria selama ini telah menghukum 205 tersangka Boko Haram atas keterlibatan mereka bergabhng dengan kelompok pemberontak. Para tersangka telah dijatuhi hukuman penjara mulai dari 3 hingga 60 tahun. Pengadilan juga menjelaskan bahwa mereka telah membebaskan juga 526 tersangka, termasuk beberapa di antaranya anak-anak di bawah umur karena kurang kuatnya barang bukti.

Di sisi pemerintah, tidak kurang dari 100 prajurit telah tewas. Banyak prajutit  yang hilang tidak bisa ditemukan, namun tidak didata sebagai kematian. Ada seorang tentara berpangkat  prajurit yang  videonya dirilis dan dishare kemasyarakat umum. Dia mengatakan bahwa “senjata yang dibawa oleh tentara rata rata tidak berfungsi alias senjata tua telah lapuk. Tank-tank sudah tidak laik tempur kemudian dibakar oleh boko haram dan dipertontonkan kepada dunia.

Kendaraan tentara yang sudah ketinggalan zaman dan yang sudah tidak berfungsi dibakar. Mereka tentara hanya bersikap menjaga dan siap siaga.  Mereka para tentara itu di sini untuk formalitas”, kata Prajurit tentara itu. Masih dia katakan, “Bayangkan, mereka membunuh temanmu setiap hari,” katanya.

Situasinya semakin buruk. Dalam Video itu juga ditunjukkan ada kamp yang luas di tengah padang pasir, seluas 260 kilometer (161 mil) dari ibukota negara bagian Borno, Maiduguri. Tidak ada tanggapan segera dari tentara Nigeria atas peluncuran video itu, padahal sudah lebih dari 27.000 orang diperkirakan tewas dalam pemberontakan Islamis sembilan tahun –  yang telah memicu krisis kemanusiaan dan telah membuat masyarakat meninggalkan rumah mereka.

Ada 1,8 juta orang lebih sudah tidak memiliki rumah lagi. Video itu adalah yang pertama kali dilihat oleh publik tentang situasi buruk sebuah pangkalan militer yang diserang. Di dalam video midel jpeg itu terlihat tumpukan lembaran seng yang hangus menghitam yang sebetulnya merupakan barak tempat tinggal para tentara.  Dishooting juga secara closed up betapa panci-panci alat masak tergeletak berhamburan di tanah dan di jalanan ketika tentara bergerak di reruntuhan puing-puing di bawah langit biru cerah di bangunan camp yang telah rata dengan tanah.

Pada hari Senin 26 November 2018  ISWAP (ISIS in West Afrika ) kembali mengatakan bahwa mereka telah menewaskan lebih dari 40 tentara Nigeria di Metele serta merampas dan mengangkut empat tank tentara. Mereka  telah mengambil dengan mudah kendaraan dan ribuan amunisi.  Pada hari Jumat 23 November 2018 kembali kelompok jihadis mengklaim bahwa para pejuang mereka telah menewaskan 118 tentara Nigeria dalam lima serangan di pangkalan militer di seberang timur laut dalam seminggu terakhir. Militer Nigeria kocar-kacir memecahkan keheningannya pada saat kejadian Jumat tanggal 23 November 2018  malam begitu memastikan bahwa pangkalan Metele telah diserang habis habisan tanpa sedikitpun perlawanan.

Dikatakan dalam sebuah pernyataan secara diplomatis bahwa sementara serangan itu   “benar adanya”.   Militerpun protes bahwa beberapa media sosial, dan cetak serta media publikasi online telah menulis angka korban yang salah. Namun militer juga tidak pernah menyebut angka pasti. Media meamstream lokal melaporkan – setidaknya telah terjadi 17 upaya serangan untuk mengambil alih pangkalan militer sejak Juli tahun 2018 lalu.

ISWAP : ISI baru di Provinsi Afrika Barat  dan Prediksi Serangan sebelum Pemilu

Serangan berkali-kali yang dilakukan oleh ISWAP seharusnya benar didalami dan dilihat sebagai tanda bahwa ada upaya pengambilalihan kepemimpinan garis keras dalam faksi oleh pimpinan kelompok kelompok internal teroris yang lebih radikal. Mereka telah memperkuat  tentara terorisnya pada saat tentara negara justu lemah,  mengeluh dan mengalami kelelahan psikologis.

Banyak analis keamanan berbagai sosial media dan NGO yang mengatakan bahwa akan lebih banyak serangan lagi diperkirakan terjadi khususnya menjelang 16 Februari 2019 mendatang, yaitu ketika warga Nigeria sedang pergi ke tempat pemungutan suara untuk memilih presiden dan parlemen baru.

Sebagai sebuah kelompok dan jaringan  radikalis dalam bentuk organisasi tanzim ziri yang penuh kekerasan dengan pengikut yang tersebar hampir merata di seluruh daratan Nigeria dan benua Afrika, maka ada beberapa alasan Boko Haram sulit diberangus.

  1. Adanya dukungan situasi politik

Pasca Pemilihan Presiden Buhari pada tahun 2015 di mana sampai saat ini beliau menjabat serta dalam pemilu yang datang beliau masih akan ikut kontestasi untuk mencalonkan diri kembali selalu menjadi topik bahasan menarik bagi para politisi, akademisi, termasuk di antaranya kelompok militan dan teroris.  Mudah dipahamai bahwa keamanan Nigeria sangat tergantung pada;  patron politik, dukungan suku, penyebaran ras dalam sistem perpolitikan nasional, termasuk dukungan dari kelompok oposisi. Apalagi President Buhari sendiri adalah bagian dari suku pengembala Fulani.

Presiden Buhari sangat menaruh perhatian pada pentingnya pengalihan dan pembagian kekuatan kepada kandidat oposisi.  Tema penting Pemilu adalah harapan bahwa masalah di Nigeria akan segera dituntaskan dan yang paling mendesak adalah menepis anggapan tentang pemerintahan yang lemah, pemerintahan yang koruptif, pemberontakan Boko Haram yang terus menerus dan masif, serta konflik antar kelompok komunis yang persisten. Semua dijanjikan akan dapat segera dikendalikan.

Terlepas dari visi Presiden Buhari untuk segera melakukan reformasi dan mengatasi tantangan keamanan negara yang terus bergolak, ternyata faktor-faktor yang memicu konflik kekerasan tetap tidak kunjung bisa tertangani secara tuntas.  Ada sebuah lembaga dunia yang konsen terhadap perdamaian turut berperan membantu, yakni United State Institute of Peace (USIP). Dalam berbagai kesempatan USIP menyampaikan konsep yang konstruktif agar para gubernur negara bagian dan pemimpin sipil disatukan untuk bersama merancang, membina, dan menerapkan kebijakan inklusif untuk mengurangi kekerasan dan memperkuat keamanan yang berorientasi pada masyarakat. USIP dan pemerintah harus melibatkan berbagai tokoh berpengaruh, memberdayakan warga masyarakat, dan menggunakan segenap keahliannya serta menggalang kekuatan untuk menginformasikan kebijakan Nigeria.

  1. Karena sejak muncul Boko Haram langsung melakukan teror besar-besaran

Kemampuan dan kecanggihan serta pembunuhan masal telah berkembang sejak berdirinya Boko haram. Pada tahun 2014 saja, misalnya, media mencatat bahwa Boko Haram telah membunuh 7.711 orang. Unsur-unsur utama yang membentuk kemampuan Boko Haram adalah  Pertama ;  Pembiayaan Boko Haram menghasilkan aliran pendapatan setidaknya $ 10 juta pada tahun di 2014-2015.  Salah satu sumber pendanaan yang sangat penting agar kelompok itu dapat beroperasi adalah menculik politisi setempat, menculik penduduk desa, menculik orang asing untuk selanjutnya minta tebusan. Pada tahun 2014, uang tebusan sumber pendanaan  $ 1 juta.  Kedua; Faktor yang memicu konflik dan pemberontakan Boko Haram ada di seluruh wilayah utara akibat kesenjangan tantangan tata kelola wilayah, marjinalisasi, dan pengangguran, walaupun sesungguhnya sistem federal Nigeria telah memberikan tanggung jawab besar kepada gubernur untuk mengatasi berbagai persoalan itu.

  1. Lemahnya pengaruh atau pimpinan negara bagian – gubernur.

Dengan bekerja bersama dengan gubernur USIP mencoba  memfokuskan kebijakan  yang lebih inklusif dan mengirim pesan bahwa mengatasi ekstremisme kekerasan harus dicapai secara kolaborasi atau bersama sama. Kolaborasi ini ternyata tidak berjalan.

  1. Lemahnya Militer

Militer di Nigeria sangat lemah, apalagi dengan persenjataan yang ketinggalan karena pemerintah pusat khawatir dengan pengalaman pahit beberapa kali kudeta militer terjadi masa lalu.

Konflik Laten non teroris yang Rawan Disusupi

Di Negeria ada suku yang berpindah-pindah tempat (nomaden). Suku ini disebut Fulani- biasa dipanggil juga Fula-Fulbe- simpelnya  “Fulani” saja. Penyebarannya mengikuti naluri sapi peliharaan mereka yang selalu mencari lahan di mana rumput yang tumbuh subur, dan ketersediaan cukup air mulai dai Afrika Barat, Afrika Tengah, Senegal hingga ke Republik Afrika TengahTimur.

Sebagian besar suku ini masih meneruskan tradisi hidup nomaden, walau ada juga sebagian kecil yang sudah ltinggal menetap di pinggiran kota. Bentrokan dengan masyarakat petani sering terjadi. Perlu dicatat, Presiden Nigeria saat ini Muhammadu Buhari berasal dari Suku Fulani. Konflik dengan masyarakat lokal biasanya secara klasik dipicu oleh akses atas tanah dan hak untuk memberi makan ternak di padang rerumputan.

Konflik laten ini telah berlangsung lama, namun beberapa waktu belakangan semakin brutal bahkan sudah menjadi perang komunal antar-suku yang terbuka. Sedikitnya 86 orang tewas di negara untuk kasus yang terakhir di Plateau. Tanggal 21 Juni 2018 sebaliknya suku Fani diserang oleh suku Berom yang menewaskan lima orang serta menghancurkan 50 rumah dan 15 sepeda motor.  Alasan sepele karena memperebutkan rumput menjadi penyebabnya.

Muhammadu Buhari menuding eskalasi bentrok dipicu oleh imbas meningkatnya konflik di Libia. Namun ada juga yang menuding kegagalan aparat keamanan dalam mencegah bentrok karena sedang sibuk menghadapi dua pemberontakan kelompok radikal Islam Boko Haram di utara dan para militan di kawasan selatan yang kaya minyak.

Memperkuat Keamanan Lokal

Prakarsa pembangunan perdamaian yang dilakukan oleh USIP di Nigeria sebetulnya bertujuan untuk  meningkatkan kemampuan negara dalam mengelola konflik lokal.  Dengan mengujicobakan pendekatan yang berbasis pada:

Pertama ; dialog.

Kedua; memberikan rekomendasi  yang dapat dijadikan pelajaran bagi pihak yang bertikai.

Ketiga; menciptakan kebijakan yang efektif yang dapat dijalankan pada tataran lokal.

Keempat; jaringan fasilitator Nigeria USIP United state  Institute of peace merekrut dan terus memberikan dukungan teknis dan keuangan.

Kelima;  para kader fasilitator untuk terus menerus secara intens mengadakan dialog dengan fihak fihak yang rentan radikalisasi.

Keenam; tegaskan pemisahan isu terorisme yang berkaitan dengan keamanan pemilu, transisi ke pemolisian berorientasi komunitas, dan mengelola pers.

Ketujuh ; tanpa bermaksud menyombongkan program ataupun pongah dan penulis berfikir semestinya bisa, maka kalau boleh sebaiknya Nigeria belajar dari densus 88 At Polri dan BNPT .

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh Nigeria:

  1. a) Lakukan penegakan hukum yang sekeras-kerasnya, gunakan segenap elemen bangsa dengan dibantu TNI dan masyarakat dengan menangkap segenap klaster dan level radikalisme terorisme.
  2. b) lakukan konseling Identifikasi seperti dulu dilakukan oleh Densus 88 terhadap seluruh Napi terorisme WNI baik yang di dalam maupun di luar negeri. Dulu, Densus berperan aktif pula dalam A psy A ( asean Psycologist Asocuatiin ), sekarang  BNPT dengan program deradikalisasinya.
  3. c) buat Rancang Bangun Program Deradikalisasi.
  4. d) ikut program Regional dalam African Union dan ikut pengembangan capacity Building pada lembaga lembaga global.
  5. e) perkuat militer, namun polisi yang dikedepankan. Ingat “do process of law much more effective than the concept of war againts terrorism”

Semoga secuil tulisan ini bermanfaat.

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Menanti Perdamaian di Filipina

Serangan Sebagai sinyal: “Kami Masih Ada” Tentu masih ingat betapa pasukan elit Filipina pada Jumat, …