Beranda / Opini / Abu Walid al-Indonesi yang Saya Kenal

Abu Walid al-Indonesi yang Saya Kenal

(Tinjauan Psiko-kriminologis)

Membaca judul ini tentu akan membuat orang sedikit terusik dan penasaran. Apakah betul penulis mengenal tokoh yang satu ini ? Tokoh yang pada tanggal 23 Agustus 2018  lalu oleh PBB baru saja dimasukan dalam UN Sanction List.  Artinya dunia yang beberapa waktu yang lalu tidak banyak mengenal tokoh ini, kini harus menganggap orang ini sangat berbahaya.  Dia adalah tokoh yang mulai saat ini harus diwaspadai oleh masyarakat di seluruh dunia.  Kemudian timbul pertanyaan lain, bagaimana dan seberapa dekat hubungan penulis dengan  tokoh ini?

Banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab. Tapi kiranya harus dipahami bahwa penulisan Judul ini  tidaklah bermaksud untuk mengeksploitasi dan mengglorifikasi seseorang. Tidak pula bermaksud untuk membuka aib dan luka lama sang tokoh yang ada dalam tulisan ini. Karena toh dunia belum tahu persis di mana keberadaannya saat ini. Semua hanya membuat perkiraan bahwa dia sedang berada di Suriah ataupun Iraq.

Bagi Penulis, sesungguhnya justru saat memulai tulisan penulis baru merangkai ingatan kembali kepada pertemuan pertama dengan sosok ini pada tahun 2007.  Melihat sorot mata foto pada judul ini, pada awalnya penulis merasa dia bukanlah sahabat yang sangat komunikatif. Tatapan kebencian sangat terlihat dan terasa. Di sinilah penulis merasa bahwa  konsep dan stigma  “setan ” dan “thogut” telah melekat pada penulis. Penulis tak diacuhkan apalagi dicuekin. Pertanyaan dan jawaban  seperti “open ended question“.

Di sinilah sebenarnya kesabaran sedang diuji. Kemudian, Alhamdullilah  hanya dengan dialog intens dua hari berturut turut, akhirnya dia mulai dapat memposisikan dirinya sebagai teman dan sahabat. Walau bicaranya terbata-bata, sulit merangkai kata dengan alur cerita yang pas, dan bicara loncat- loncat, Penulis akhirnya dapat menyimpulkan bahwa sosok ini sebetulnya adalah sosok pribadi yang menarik dan cerdas. Walau tertutup di awal, akhirnya ia bisa mengumbar riwayat dan cerita tanpa polesan skenario dan pencitraan.

Dalam sesi kunjungan dan silahturahmi dengan kelompok,  orang dan jaringan terorisme di Filipina, Penulis sempat menyambanginya sebanyak tiga kali. Tapi laksana orang jatuh cinta, tentu pertemuan pertamalah yang paling mengesankan. Pada kunjungan berikutnya semua berjalan sangat cair.

“..Tapi sebagai manusia biasa tentu dan pasti  kita pernah khilaf dan lupa atau kelalen. Kesalahan harus kita perbaiki. Hukuman harus juga dijalani…”. Inilah kata bijak yang Penulis ingat dan dengar langsung dari seorang tokoh yang di dalam negeri wajahnya tidak  banyak dikenal ini.  Orang selama ini hanya mendengar dan mendapat informasi tentang sosok ini dari media.  Sementara bagi yang paham sepak terjang dan perjuangan tokoh satu ini sungguh akan tercengang. Setidaknya dia pernah  menjelajah di dua atau tiga negara dalam melaksanakan amaliyah jihadnya. Mulai dari Ambon, Poso,  Jakarta, dan Filipina adalah  deretan wilayah amaliyahnya.

Dia adalah salah satu di antara ratusan radikalis  yang memiliki akses untuk berhubungan dengan petinggi markaziah  terorisme dunia saat itu, sebuta saja Al Qaedah dan Aljamaah Al Islamiyah. Dialah Abu Walid yang bernama asli Mohamad Yusuf Karim Faiz atau biasa di Panggil Saefudin.

 

Pertemuan dengan Penulis

Saat itu tanggal 8 September 2007, pagi-pagi sekali jam 06.00, Penulis dengan 3 orang rekan sudah siap di Lobby sebuah Hotel di Makati, Manila untuk berangkat menuju Rumah tahanan di Markas PNP ( Philipina National Police). Hari itu sesungguhnya ada tiga agenda kegiatan penulis yaitu ; bertemu Saefudin alias Fais yang sekarang dikenal dengan Abu walid, Zulkifli alias Dony Oprasio, dan Baihaki di Camp Crame Markas Militer Filipina. Dengan didampingi oleh seorang penyidik dan seorang perwira dari Shanglahi Task Force (Densus 88-nya Filipina ) dari PNP akhirnya Penulis  sampai di sana dan dapat bertemu langsung dengan sang tokoh setelah beberapa prosedur yang harus penulis  jalani dilaksanakan. Dan Alhamdulillah pertemuan bisa berjalan dengan baik.

Lalu, siapakah Abu Walid al Indonesi? Saat kunjungan sebetulnya nama Abu walid belumlah dia pakai. Sebagaimana kita sudah mahfum orang atau kelompok seperti Saefudin ini tidak akan pernah menggunakan nama asli atau nama lahir. Dia akan menggunakan banyak nama atau alias. Penggunaan nama  sangatlah  tergantung pada situasi dan kebutuhan penghilangan identitas atau penyamaran demi keamanan agar tidak tertangkap.

Bagi penulis, Saefudin tetaplah Saefudin. Faiz tetaplah Faiz. Sungguhpun kini dia menggunakan nama Abu Walid tetaplah dia Faiz atau Saefudin. Dia bukanlah tokoh filsuf seperti halnya Abu Walid Muhammad bin Rusyd yang lahir di Kordoba Spanyol pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi) yang sering dipanggil Averroes. Seorang filsuf dan pemikir dari Andalusia yang banyak menulis dalam berbagai disiplin ilmu filsafat, teologi, kedokteran, astronomi, fisif, fiqih, hukum Islam, dan linguistik itu.

Di dunia terorisme global dia bukan pula tokoh yang sangat dikenal sampai keluar UN sanction list. Dia juga tidak boleh dibandingkan dengan ideolog Al-Qaeda  dari Palestina yang sangat kharismatik  Abu Al-Walid Al-Ghazi Al-Anshari Al-Filistini, tokoh ulama formal dan dekat dengan Al-Qaeda. Ia juga bukan Abu Walid  atau Abu al Walid Ghamdi, mujahid yang berperang di Balkan, pemuda kelahiran 1967 di Albaha yang mulai terkenal sejak terbunuhnya Ibn-al-khatab pada 20 Maret 2002 dan terbunuh 16 April 2004 itu.

Namun penggunaan nama Abu walid bukan tanpa alasan dan sekedar main-main semata. Secara psikologis dia telah menempatkan dirinya setara dengan orang-orang yang penulis uraikan tadi.  Dia pemuda biasa saja. Saat bertemu pertama kali, kesan yang timbul bahwa dia adalah orang yang sederhana. Pemuda yang berperawakan kurus. Bahkan menurut Penulis saat itu mungkin dia sedang sakit. Tapi nyatanya tidak. Dia sehat sekali. Penulis sempat bertanya apakah dia sehat?  Dia jelaskan bahwa dia sangat sehat. Begitupun petugas yang mengawasi menyatakan bahwa dia sehat dan sangat prima.

Dalam dialog awalnya dia menjawab setiap pertanyaan secara sepotong-sepotong. Penjelasannyapun tidak lancar. Kalau boleh dibilang tuturnya terbata-bata. Dia sering melakukan penyebutan sesuatu secara berulang. Senyumnya sangat irit. Fais atau Saefudin adalah adik kandung tokoh agama ternama DR Mu’inudinnilah Basri MA. Ketua Dewan Syariah kota Solo. Dia terlahir kembar pada tanggal 11 oktober 1977 dengan saudara kembarnya yang bernama Nurrudin yang tewas dalam kerusuhan Ambon.

Orang tuanya, ayahnya bernama Basri dan ibu bernama Sa’adah. Saefudin  pernah sekolah di Ngruki Solo. Hanya 4 tahun dia jalani dan tidak tamat. Selanjutnya Faiz sekolah di Khuliaffatul Mua’limin (setara SMA). Di SMA inipun dia tidak sempat tamat. Selanjutnya dia pindah ke Jatibarang. Saat kerusuhan Ambon Faiz dan kembarannya Nurrudin berangkat. Namun naas kembarannya Nurrudin terbunuh. Pulang dari Ambon Faiz berangkat ke Riyad Arab Saudi dan kuliah di University of Ibnu Sa’ud.

Bersentuhan dengan Radikalisme Agama Pro Kekerasan: Dari Ambon sampai Filipina

Sangatlah dipahami bahwa Faiz adalah sahabat lama Sonata, tepatnya sejak tahun 2000 karena mereka sama-sama anggota Kompak Solo. Dan atas ajakan Sonata juga akhirnya Faiz bersama kembarannya berangkat berjihad ke Ambon. Dalam kasus Ambonlah sang Kembaran tewas.

Walau tugas utama LSM Kompak adalah untuk membantu pengungsian, membantu obat-obatan,  membantu medik, membuka Poliklinik, serta menjadi guru pada berbagai pengajian. Tapi, pergerakan pada akhirnya melenceng karena juga turut membantu men-supply persenjataan.

Tahun 2004, saat membawa bantuan ke Ambon, Sonata bertemu dengan Mahfud alias Firdaus yang biasa dipanggil Tomy yang punya keinginan sangat kuat berangkat ke Filipina untuk berjihad. Untuk itu, Sonata meminta bantuan sahabatnya Arnold dan Sholeh untuk memfasilitasi semua mekanisme keberangkatan. Di sinilah awal Faiz berangkat dan bolak-balik Indonesia Filipina.

Peran menonjol Faiz yang lain adalah perantara apabila Sonata mau bertemu khusus dengan Noordin M Top di Solo. Namun, apabila tidak ada Faiz maka perantara yang lain adalah Usama alias Joko Pitono. Tahun 2004 Sonata pernah berangkat ke Filipina bersama Faiz atas undangan  Umar Patek untuk melihat keindahan Pawas. Di sinilah Faiz menjadi target penangkapan Polisi Filipina.

Sungguhpun bagian dari terorisme pengadilan menganggap pekerjaan polisi dianggap illegal. Awalnya penangkapan Mohammad Nasir Hamid dan Mohammed Yusop Karim Faiz asal Indonesia dan Ted Yolanda warga negara Malaysia bersama seorang pemandu Filipina yang ditangkap oleh polisi pada tanggal 11 Desember 2004 di dermaga feri di kota Zamboanga sangat membuat decak kagum masyarakat Filipina dan negara-negara kawasan termasuk Indonesia. Hal ini pula yang mendorong Penulis berketetapan hati untuk menemui tokoh dalam tulisan ini Mohamad Yusof Faiz alias Saefudin ini didalam penjara. Namun seiring dengan berjalannya proses peradilan sesuai “do proccess of law”,  pengadilan Filipina ternyata sangat sulit untuk membuktikan bahwa Faiz dan rekannya terlibat dalam kasus terorisme sebagaimana dituduhkan jaksa. Walaupun kepolisian saat itu sudah sangat meyakini keterlibatan ketiganya dalam jaring Al jamaah Al islamiah, namun apa daya.

Bak nyanyian dan sebuah simponi yang indah. Pernyataan penyidik kepolisian yang mengatakan kepada empat terdakwa saat pemeriksaan “Talagang huhulihin kahit walang dala”  yang artinya mereka benar-benar akan akan ditangkap, sekalipun jika mereka tidak memiliki bukti apapun pada mereka telah membawa konsekuensi profesionalisme polisi yang dipertaruhkan dan diuji.  Buntutnya, seperti digambarkan oleh banyak pemerhati hukum, hakim akhirnya menjatuhkan vonis bebas kepada ketiganya dan memerintahkan agar mereka segera dikeluarkan dari Special Intensive Care Area, Penjara Distrik Metro Manila di Camp Bagong Diwa, serta memerintahkan Biro Imigrasi agar segera mendeportasi ketiganya.

Saat penulis berkesempatan untuk mengunjunginya, seperti dalam cerita awal, Faiz dan kawan kawan baru saja menjalani proses penahanan. Dan barulah beberapa tahun terakhir Penulis mendengar kabar bahwa Faiz dan dua rekannya tersebut telah dibebaskan. Pembebasan Faiz dan kawan-kawan, bukan pokok topik atau bahasan utama yang relevan dalam tulisan ini.  Karena bagi kita Indonesia, tentu criminal justice system dalam sistem hukum kita dan Filipina tentu berbeda.  Pembebasn dan perintah deportasi mereka pada hari Rabu tanggal 11 Desember 2013 ternyata merupakan titik tonggak perjalanan jihad baru bagi Faiz sampai klaim dirinya sebagai Abu walid al Indonesi. Proses penahanan terhadap para terdakwa ini telah berlangsung sangat panjang. Bisa dibayangkan sejak tahun  2008. Praktis lima tahun tanpa Surat perintah penangkapan dan penahanan.

Hakim Senior Eleuterio Bathan sampai pada kesimpulan menilai bahwa ketiga tersangka telah ditahan tanpa surat perintah penangkapan dan penahanan saat mereka baru turun dari kapal feri di Kota Zamboanga pada Desember 2004. Beliau berpendapat proses itu Illegal. Dalam penangkapan tanpa surat perintah penangkapan itu sebetulnya telah disita seperti granat, TNT, dan pistol. Inilah fatalnya, sungguhpun polisi meyakini mereka adalah teroris, bagian dari Aljamaah Al Indonesia, tapi penangkapan dan penyitaan terhadap kasus mereka tanpa didukung administrasi yang memadai.

Setelah dideportasi itulah, Faiz kembali ke tanah air dan menikahi janda urwahrekan Noordin M Top di Indonesia sebelum dia mengambil keputusan untuk berangkat ke medan jihad baru di tanah Syam, Syria.

Fais alias Saefudin alias Abu Walid, apapun namamu. Seberapa hebatnya dirimu. Satu hal yang penulis ingat tentangmu, yaitu apa yang engkau pernah ucapkan, yang saat itu membuat Penulis menilai bahwa sejatinya kamu pintar, cerdas dan hatimu sebetulnya baik. Saat itu Engkau mengatakan ” …..sebetulnya saya tidak mau berbuat seperti ini. Sakit hatipun percuma. Siapa yang kubela kepada siapa harus sakit hati.. akupun tak tahu…”

Dulu Penulis sempat berpikir bahwa engkau lakukan itu, karena dendammu karena kembaranmu Nurudin tewas di Ambon. Tapi engkau menolak penulis mengungkapkan alasan itu.  Kini engkau telah jauh melangkah.  Musuhmu adalah dunia. Tapi penulis sebagai sesama muslim, bahkan semua muslim di dunia, tentu percaya akan Kebesaran Allah. Allah swt  tidaklah pernah menutup pintu taubat.  Allah Ta’ala, pernah berfirman;

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Az Zumar:

Ayolah Abu walid, serahkan dirimu pada negara. Berpasrah dan bertaubatlah hanya pada Allah. Tidak ada kata terlambat.

Semoga bacaan ini bermanfaat. Semoga Faiz kembali kejalan yang benar.

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Asian Games : Bukti Indonesia Selalu Menjadi Tuan Rumah yang Baik

Di Asia, Indonesia  dikenal sebagai bangsa yang ramah, baik dan dan memegang teguh adat istiadat …