Sektarianisme Kerap Picu Aksi Terorisme

JAKARTA, (PRLM).- Indonesia masih tetap terancam dan rentan terhadap serangan teroris. Pasalnya, sektarianisme masih kerap muncul, kemudian meletup menjadi pemicu konflik dan kekerasan di masyarakat.

“Sektarianisme di negara-negara muslim seperti Pakistan dan Indonesia kerap menjadi pemicu konflik dan kekerasan di masyarakat. Oleh karena itu, perlu penyadaran bagi generasi muda untuk menghilangkan paham sektarianisme berlebihan,” kata tokoh muda Pakistan Dr. Hussain Mohi-Ud-Din Qadri dalam public lecture di hadapan sekitar 5.000 generasi muda, di Jakarta, Kamis (18/4).

Hussain Mohi-ud-Din Qadri datang ke Indonesia atas undangan Lazuardi Birru, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pencegahan terorisme.

¬†Hussain merupakan putera dari Muhammad Tahir ul Qadri, pendiri Minhaj-ul Qur’an International (MQI), sebuah lembaga sosial yang berpusat di Lahore, Pakistan dan hingga kini telah memiliki cabang di sekitar 100 negara.

Dia mengatakan, sikap toleransi yang tinggi di antara pemeluk agama sangat penting untuk meminimalisir kekerasan yang kerap terjadi.

“Negara perlu turun tangan untuk mendorong agar sikap toleransi dapat tumbuh di generasi muda sejak dini melalui berbagai perangkat yang ada termasuk Undang-Undang,” katanya.

Menurut Hussain, pendidikan karakter tolerasi harus terus didorong oleh pemerintah terutama negara-negara yang memiliki keberagaman agama.

Dialog kondusif di antara para pemimpin agama perlu dilakukan agar tercipta keharmonisan yang bisa menekan terjadinya tindakan radikalisme dan kekerasan atas nama agama.

“Di Pakistan dan negara manapun termasuk Indonesia dialog antar pemimpin agama itu sangat penting untuk menciptakan harmonisasi yang pada akhirnya bisa menekan bibit anarkisme dan kekerasan. Selain itu, Saya juga menyarankan kepada generasi muda Indonesia untuk tidak mudah terpancing hasutan-hasutan yang bisa menjerumuskan dalam tindak kekerasan yang merugikan orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lazuardi Birru Dhyah Madya Ruth SN menegaskan, hingga saat ini telah terjadi sekitar 1.000 aksi bom bunuh diri di Pakistan dalam jangka waktu 10 tahun, dengan korban telah mencapai lebih dari 1 juta rakyat sipil. Sekitar 40 hingga 50 nyawa hilang setiap harinya karena penembakan langsung oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sementara di Indonesia sejak pasca reformasi telah terjadi 12 kali aksi bom bunuh diri dengan korban lebih dari 300 rakyat sipil. Apabila kita tidak mampu melakukan pencegahan, bukan tidak mungkin prediksi bahwa Indonesia akan seperti Pakistan dalam waktu 10 tahun akan terjadi.

“Kita semua tentu tidak mengharapkan Indonesia seperti Pakistan kini, yang jauh dari rasa aman. Untuk itu generasi muda Indonesia perlu belajar dari pengalaman Pakistan, agar Indonesia mendatang tidak menjadi seperti Pakistan kini,” ujarnya.

Lebih jauh, Dhyah menjelaskan, MQI merupakan gerakan sosial keagamaan yang aktif dalam mereformasi politik di Pakistan melalui kegiatan pendidikan.

“MQI telah melakukan kerja-kerja sosial dan edukasi yang luar biasa dalam menanggulangi ekstrimisme dan terorisme serta menciptakan harmoni antara masyarakat yang berbeda budaya, etnis, dan agama. Peace of Humanity Conference dan London Declaration for Global Peace and Resistance Against Extrimism yang diselenggarakan MQI telah mengecam berbagai aksi kekerasan atas nama agama,” kata Dhyah.

Dikatakan, MQI dalam melakukan edukasi guna menanggulangi extrimisme dan terorisme tersebut, telah diakui UNESCO dan the United Nations Economic and social Council (ECOSOC) dan menganugerahkan Special Consultative Status atas kinerjanya dalam mempromosikan perdamaian toleransi dan harmoni antar agama.

Dhyah menyatakan, Indonesia dan Pakistan memiliki ikatan historis yang kuat antara lain pada masa perjuangan pra-kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan hingga kemudian aktif bersinergi dalam Gerakan Non Blok.

Persamaan keadaan juga terjadi pada masa kini, di mana kedua negara ini sedang memerangi ideologi pro-kekerasan. Seperti diketahui, bahwa ideologi pro kekerasan telah menyusup dan berkembang di lingkungan generasi muda Pakistan, yang terus berupaya menjaring kader-kader baru terutama generasi muda Islam.

“Rentannya generasi muda terhadap ideologi pro kekerasan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti krisis ekonomi, isolasi dari lingkungan sekitar dan represi serta pengaruh internet sebagai media dalam menyebarluaskan ideologi pro kekerasan mengatasnamakan agama di kalangan muda. Hal yang relatif sama juga terjadi di Indonesia,” katanya.

Dhyah berharap kegiatan public lecture ini merupakan salah satu upaya pencegahan atas maraknya pengaruh ideologi pro kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Setelah kegiatan ini, diharapkan generasi muda Indonesia mendapat pencerahan dan dapat belajar dari perjuangan Pakistan dalam memerangi ideologi pro-kekerasan.

“Generasi muda Indonesia diharapkan mampu menjadikan perbedaan pandangan keagamaan, visi dan misi kehidupan berbangsa sebagai kekuatan yang mampu menyatukan mereka di dalam perdamaian, toleransi dan harmoni,” ujar Dhyah.

Sementara itu Purek II Bidang Akademik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. M. Mastna, MA menyampaikan, pandangan-pandangan dan pengalaman-pengalaman Dr. Hussain Mohi-ud-Din Qadri sangat menarik, patut menjadi inspirasi dan contoh generasi muda Indonesia dalam mengatasi ideologi pro-kekerasan. Pidato-pidatonya dalam memperjuangkan perdamaian di Pakistan seolah mengingatkan kita kepada Soekarno di masa muda.

“Stabilitas keamanan dan perdamaian merupakan dua sisi menarik yang harus tetap bersinergi bila ingin mencapai Indonesia yang lebih baik di masa mendatang,” tegas Mastna. (A-78/A-89)***

Sumber: pikiran rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *