Agus Surya Bakti
Agus Surya Bakti

Mayjen TNI Agus Surya Bakti “Curahkan Bakti Demi Indonesia Damai”

Agus Surya BaktiSelain Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, ada sosok lain yang menjadi tulang-punggung program Pencegahan dan Deradikalisasi BNPT. Sosok satu ini yaitu Mayjen TNI Agus Surya Bakti. Beliau terkenal aktif dalam setiap program kampanye kontra terorisme yang dilakukan BNPT sejak dibentuk 2010. Siapa sesungguhnya sosok pria yang biasa disapa Agus SB ini?

Bagi wartawan yang biasa meliput isu terorisme, pria lulusan Akmil tahun 1984 itukerap diminta pendapatnya tentang berbagai aksi terorisme yang terjadi di tanah air. Ini wajar karena beliau merupakan Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi, di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Setahun terakhir ini, ia bersama koleganya di BNPT sering mengunjungi media lokal dan berdiskusi dengan para jurnalis dalam rangka menjalin sinergi dan kebersamaan untuk pencegahan terorisme. Tak kurang dari puluhan media di Banten, Makassar, Surabaya, Jakarta, Bandung, Balikpapan, Samarinda, Solo hingga Medantelah ia kunjungi.

Setiap kali kunjungan dan berdiskusi dengan media, ia selalu akrab dengan para jurnalis. Kendati ia seorang jenderal bintang dua yang masih aktif, namun tak berarti ia membatasi diri dan menjaga jarak. Tanpa sungkan ia biasa makan bersama dalam satu meja dengan para jurnalis sambil berdiskusi atau menerima wawancara tentang isu terorisme.

 

Saat meyampaikan presentasi pun, Agus tak terlihat kaku. Ia selalu menyelinginya dengan senyuman hangat. Padahal latar belakangnya sebagai seorang prajurit TNI bagi sebagian publik tampak angker. Namun, Agus cepat bisa menyesuaikan diri. Boleh dibilang ia mewakili tipikal seorang jenderal yang santun, hangat,bersahajadan cepat akrab dengan orang yang baru dijumpainya.

“Dulu ia memakai baret merah, tapi sekarang dia berganti menjadi baret putih. Karena mitranya sekarang para ulama, ustadz, kiai, dan para akademisi,” kelakar Kepala BNPT Irjen Pol (Purn) Drs Ansyaad Mbai saat memperkenalkan Agus kepada rekan-rekan jurnalis dalam salah satu acara.

Agus memang lama berkarir di korps baret merah. Selain pernah menjadi Komandan Grup 3 Sandiyudha Kopassus pada 2002, ia juga pernah menjadi Asisten Intelijen Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda. Selain itu, ia juga pernah menjadi Komandan ke-20 di Pusat Pendidikan Intelijen TNI AD pada 2007 hingga 2008.

 

Pada tahun 2009, pria yang lahir di Stabat, Sumatera Utara, 51 tahun lalu itu, juga pernah menjadi Komandan Resort Militer 152/Babullah Kodam XVI/Pattimura.Pada 2010 Agus dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AD. Sejak 2011hingga kini ia menjabat sebagai Deputi I BNPTBidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi.

Sebelum bergabung di BNPT, Agus sempat merasa bahwa menjadi prajurit TNI seolah sudah paling hebat. Tapi sejak bergabung di BNPT ia merasa bahwa ia masih belum ada apa-apanya. Ia pun cepat menyesuaikan diri dengan pekerjaannya yang bukan di lingkungan TNI lagi, Agus banyak bersentuhan dengan berbagai pihak mulai dari ulama, akademisi,psikolog, mahasiswa, tokoh masyarakathingga para wartawan.

 

“Dulu saya merasa menjadi prajurit TNI itu sudah paling hebat, paling bisa segalanya. Tapi ternyata setelah di BNPT saya banyak bertemu dengan para ulama, akademisi, dan rekan-rekan wartawan, ternyata saya tidak ada apa-apanya. Ini juga menjadi berkah bagi saya, makin banyak memiliki teman di seluruh Indonesia,” ungkap Agus dalam salah satu kegiatan BNPT di Medan, akhir Mei lalu.

Sebagai salah satu pimpinan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Agus tak hanya menjalani tugas-tugas secara rutin. Ia jugabanyakberdiskusi,tukar pandangandan bergaul dengan banyak kalangan untuk meningkatkan upaya pencegahan terorisme. Suatu waktu ia berbicara di depan para ulama dan santri pondok pesantren, di lain waktu ia menyampaikan ceramah di depan ibu-ibu majelis taklim dan ibu-bu Muslimat NU.

 

Di satu kesempatan ia menyampaikan briefing bagi lurah-lurah se DKI Jakarta, di kesempatan yang lain ia membriefing para ekspatriat tentang kewaspadaan terorisme. Bahkan, bersama timnya ia pun mengunjungi napi terorisme dari Lapas satu ke Lapas lainnya. Kunjungan ke lapas ini dalam rangka mengembangkan program Klinik Pancasila agar para napi teroris dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Dari presentasinya di sejumlah seminar, baik tingkat nasional maupun internasional, Agus tampak sangat konsen dalamupayapencegahan terorisme. Baginya, pencegahan terorisme harus dilakukan secara semesta. Semua elemen bangsa harus ikut ambil bagian, bukan hanya Kepolisian dan BNPTsaja.

Pemikirannya tentang pencegahan terorisme banyak ia tuangkan dalam bentuk artikel. Hingga kini sejumlah artikelnya telah dimuat di banyak media, baik nasional maupun lokal. Ia cukup menyadari bahwa media menjadi wadah untuk memenangkan hati dan pikiran publik agar bersama-sama mewujudkan Indonesia yang damai dan aman dari segala bentuk kekerasan dan terorisme.**********

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *