Jadikan Nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika Landasan
Beraktivitas di Ruang Digital

Jakarta – Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Bhinneka Tunggal Ika
sebagai semboyan kebangsaan adalah modal besar bagi Bangsa Indonesia
dalam memperkuat persatuan, kesatuan, serta perdamaian di Bumi
Nusantara. Pun di tengah berbagai tantangan, utamanya kemajuan
teknologi informasi, seluruh anak bangsa harus menjadikan

nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan
kecakapan digital sekaligus menjadikannya sebagai panduan karakter
dalam beraktivitas di ruang digital,

Hal itu dikatakan narasumber Muhamad Jamil (bersertifikat TT Literasi
Digital 2024) kegiatan talkshow yang merupakan bagian dari sosialisasi
Gerakan Nasional Literasi Digital yang berlangsung di Desa Wisata
Akebay, Pulau Maitara, Kota Tidore, Maluku Utara bertajuk: “Konten
Kreatif Berbasis Budaya Lokal”, Rabu (24/7/2024).

Jamil yang lebih melihat pada tantangan budaya digital dalam realitas
di kalangan para pengguna internet.

“Beberapa dampak yang dihadapi oleh para pengguna internet saat ini
antara lain mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan
kesantunan, menghilangnya budaya Indonesia, media digital seolah
menjadi panggung budaya asing melalui berbagai konten yang tersebar
luas dikalangan para pengguna internet itu sendiri,” kata Muhammad
Jamil.

Selain itu, imbuhnya, minimnya pemahaman akan hak-hak digital, adanya
fakta yang dapat secara luas kita temua dimana terjadinya kebebesan
berekspresi yang kebablasan, dan juga makin berkurangnya toleransi dan
penghargaan pada setiap perbedaan. Selain itu juga terjadi pula fakta
dalam masyarakat kita sebagai para pengguna internet dimana melakukan
pelanggaran hak cipta dan karya intelektual serta menjadi
menghilaangnya batas-batas privasi dalam relasi sosial masyarakat.

“Menjawab persoalan tersebut, kita dapat menjadikan nilai-nilai
Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital
sekaligus menjadikannya sebagai panduan karakter dalam beraktivitas di
ruang digital,” tambahnya.

Kegiatan itu digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Narasumber lainnya Sasmita
Abdurrahman (bersertifikat TOT Literasi Digital 2024), Abdul Djalil
Djayali (bersertifitat TOT Literasi Digital 2024), dipandu oleh
Maaesara (moderator), serta M. Alief Zidane/Pricilia Charie (konten
kreator) dan Rahman Muhammad/Tete Ko (konten kreator) selaku master of
ceremony (MC).

Sasmita Abdurahman mengungkapkan bahwa Maluku Utara kaya akan
kebudayaannya, memiliki 10 Kabupaten/Kota dengan 34 bahasa serta 34
suku bangsa dan etnis yang menjadikan negeri ini berkembang pesat
sekaligus akan menghadapi berbagai tantangan terlebih di era
multikultural dan era dimana kita tengah berada pada ruang
transformasi digital dunia global.

“Pada konteks ini maka daya tahan budaya lokal akan ditantang untuk
mampuh menjawab tantangan budaya global dengan transformasi digital
yang telah membawa kita menjadi bagian dari tatanan tersebut, sehingga
kita dituntut untuk mejadikan segala kemajuan jaman melalui
transformasi digital tersebut sebagai sebuah peluang bagi kehidupan
yang lebih baik,” kata Sasmita.

“Untuk itu maka kita perlu memiliki strategi tertentu di tengah-tengah
kemajuan jaman dan era yang begitu pesat saat ini yang serba digital
yaitu dengan beberapa cara antara lain: Jauhi diri kita dari sifat dan
kebiasaan untuk memaksa, tidak gampang menghakimi pihak lain atau
pribadi dan golongan atau kelompok tertentu, selalu membiasakan diri
untuk mengapresiasi kemampuan dan karya orang lain diluar diri kita
sembari mempromosikan apa saja yang ada disekitar kita untuk terus
saling berbagi sebagaimana berbagi informasi tentang kesejarahan,
keindahan panorama alam dan kebudayaan serta manusia-manusia hebat
yang terus berkontribusi membangun negeri seperti yang kita saksikan
di Desa Wisata Akebay, disebuah pulau yang dapat kita lihat pada
secarik kertas uang Seribu mata uang negara kita saat ini,” tambah
Sasi, sapaan akrab seorang mantan puteri Indonesia, Sasmita
Abdurahman.

Sementara itu, Abdul Djalil Djayali mengajak para audiens untuk terus
berusaha menjaga keamanan digital (digital safety) dalam bermedia
sosial.

“Kemampuan seorang pengguna internet untuk melindungi data pribadi
atau memproteksi diri dalam berbagai penggunaan platform digital
melalui berbagai cara seperti mengenali, mempolakan, menerapkan,
menganalisis, sembari meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan
bermedia digital sehari-hari termasuk media sosial yang menjadi tren
kaum milenial dan gen Z juga masyarakat luas saat ini. Lebih lanjut
menurutnya pula bahwa sebagai langkah protektif, para pengguna
internet diharapkan mengenali beberapa fitur pada perangkat keras
berinternet seperti: kata sandi, baik melalui fingerprint
authentication maupun face authentication,” kata Abdul.