Warisan KH Sholeh Darat: Dakwah Damai dan Nasionalisme Kultural sebagai Benteng Melawan Intoleransi

Semarang – Di tengah meningkatnya ancaman intoleransi, radikalisme, serta terorisme yang terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa, masyarakat Kota Semarang memilih untuk menggali kembali kearifan dari seorang ulama besar yang telah jauh lebih dahulu mengajarkan jalan damai, inklusif, serta penuh cinta terhadap sesama. Kirab budaya dalam rangka haul KH Sholeh Darat digelar di Kota Semarang bukan sekadar perayaan tradisi tahunan biasa. 

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneladani nilai-nilai perjuangan seorang ulama yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk membangun kesadaran kebangsaan, memperkuat toleransi, serta melawan dominasi asing melalui kekuatan ilmu, budaya, serta dakwah yang membumi. Kegiatan ini dilakukan pada Minggu (19/4).

Kirab dimulai dari Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, kemudian bergerak menuju Masjid Kyai Sholeh Darat, hingga akhirnya tiba di Lapangan Kuningan, tempat di mana sang ulama pernah mengasuh pesantren serta memberdayakan masyarakat sekitar. Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom, menegaskan bahwa kegiatan ini membawa makna yang jauh melampaui aspek seremonial semata.

“Kiai Sholeh Darat menginspirasi kiai-kiai yang pernah menjadi murid-muridnya. Seperti Kiai Hasyim Asy’ari pendiri NU, Kiai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Bu RA Kartini, Kiai Asnawi, banyak,” jelas Anasom.

Pernyataan itu mengandung pesan kontranarasi yang sangat kuat terhadap ideologi intoleran dan ekstremis. KH Sholeh Darat adalah bukti hidup bahwa Islam Indonesia sejak awal adalah Islam yang ramah, inklusif, serta mampu melahirkan tokoh-tokoh lintas organisasi yang justru memperkuat, bukan memecah belah, persatuan bangsa. Murid-muridnya mendirikan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yang hingga hari ini terus menjadi pilar moderasi beragama di tengah lautan provokasi serta narasi kebencian yang terus mencoba mengoyak kerukunan masyarakat.

Anasom menjelaskan bahwa KH Sholeh Darat mengembangkan strategi dakwah yang cerdas sekaligus subversif terhadap kekuasaan kolonial. Beliau menulis kitab-kitab keagamaan menggunakan bahasa Jawa, bukan bahasa Arab atau bahasa Indonesia yang sudah dikuasai oleh intelijen kolonial Belanda pada masa itu. Strategi ini bukan hanya memudahkan masyarakat awam dalam memahami ajaran agama, tetapi juga menjadi alat perlawanan kultural yang efektif terhadap dominasi penjajah.

“Kiai Sholeh Darat mencoba mencari sisi lain menggunakan bahasa Jawa, supaya Belanda ribet dan harus belajar lagi. Itu adalah salah satu strategi,” ungkap Anasom.

Relevansi strategi ini terhadap konteks masa kini sangat nyata. Kelompok-kelompok radikal dan intoleran masa kini pun menggunakan bahasa yang tampak akrab, diksi yang terkesan islami, serta narasi yang seolah membela kepentingan umat untuk menyusupkan ideologi kebencian ke dalam benak generasi muda. Melawan mereka tidak bisa hanya dengan pendekatan represif semata. Dibutuhkan kontranarasi yang sama kuatnya, dikemas dalam bahasa yang dipahami masyarakat, serta bersumber dari akar budaya serta tradisi keilmuan yang telah teruji selama berabad-abad. Itulah warisan terpenting KH Sholeh Darat yang masih sangat relevan hingga hari ini.

Salah satu nilai yang diajarkan beliau adalah pentingnya menjaga identitas lokal sebagai benteng terhadap pengaruh luar yang merusak. Dalam kitabnya, Majmu’ah Syari’ah al-Kafiyyah lil Awam, KH Sholeh Darat pernah mengingatkan masyarakat Nusantara agar tidak meniru gaya hidup penjajah, termasuk cara berpakaian seperti dasi, jas, serta celana ala Belanda. Anasom menjelaskan bahwa pesan tersebut harus dipahami secara kontekstual. Inti ajarannya bukan soal larangan berpakaian modern, melainkan tentang membangun sikap anti-kolonial serta memperkuat kebanggaan terhadap identitas sendiri sebagai modal utama perlawanan.