Beranda / Berita / Kegiatan / Bersama Generasi Muda / Video Nuansa Kearifan Lokal Cegah Radikalisme

Video Nuansa Kearifan Lokal Cegah Radikalisme

Gowa- Sejumlah pelajaran dari berbagai sekolah se-Sulawesi Selatan dikumpulkan oleh Forum Koordinasi Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dimas dalam bentuk Workshop Video Pendek dengan menghadirkan penulis skenario film “tiga srikandi” Swastika Nohara dan aktor nasional Jajang C Noer.

Menurut Ketua FKPT Sulawesi Selatan bahwa kegiatan tersebut untuk membangun kesadaran pelajar terhadap kebangsaan dan nasionalisme. Dan dijewantahkan dalam pelatihan pembuatan video pendek. “Saya berharap output dari kegiatan ini dapat melahirkan video-video yang mampu bersaing ditingkat nasional, bahkan jika bisa Sulawesi Selatan harus mendapat akan juara” kata Prof. Dr. Arifin Hamid, MH.

Swastika sebagai penulis skenario memberikan tip-tips agar dapat menghasilkan video yang baik. Termasuk jalan cerita yang mampu menyampaikan pesan-pesan toleransi, saling menghargai dan perdamaian.

“Salah satu cerita yang menarik diangkat oleh pelajar di Sulawesi Selatan adalah yang berkaitan dengan kearifan lokal. Dan dikombinasikan dengan nilai-nilai nasionalisme, saya pasti akan sangat menarik, seru dan dramatis” kata Swastika

Di kesempatan yang sama Bu Jajang memberi motivasi yang sama kepada para peserta yang berjumlah 170 pelajar dari berbagai sekolah di Sulawesi Selatan.

“Jangan membuat video asal-asalan, harus bernilai dan memberi wawasan kepada setiap orang yang menontonnya. Karena itu yang menjadi outcome diharapkan BNPT” kata Aktor senior.

Kepala Bidang Pemuda dan Perempuan FKPT Sulawesi Selatan juga mengharapkan agar para peserta berkontribusi dalam pengiriman video pendek. Ini untuk mengharumkan nama pelajar Sulawesi Selatan ditingkat nasional, jelas Dr. A. Majda Zein juga selaku Rektor Universitas Islam Makassar.

Tentang Rosita Ainun

Baca Juga

BNPT Kembali Gandeng Anak Muda Sumatera Utara Perangi Radikalisme Dunia Maya

Medan- Terorisme sudah tidak lagi bergerak secara konvensional baik komunikasi, indoktrinasi maupun rekruitmen, tetapi telah …