Ulama Al QaedahPunya Kecenderungan Mengkafirkan Sesama Muslim

Klaten – Dimata Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr Ahmad Thib Raya MA,  nama Syaikh Atiyatullah Al-Libi selaku penulis buku “Mudah Mengkafirkan: Akar Masalah, Bahaya, dan Terapinya”   adalah orang yang alim dan ilmuwan.

“Awalnya saya kaget dengan riwayat hidup penulisnya. Sangat memesona. Perjuangan beliau luar biasa. Penulisnya  ini alim dan ilmuwan. Alimnya karena pengetahuanmnya tentang agama, dan hadis-hadis luar biasa,” ujar Prof. Dr Ahmad Thib Raya MA, di acara Dialog & Bedah Buku tersebut yang digelar Subdit Kewaspadaan BNPT bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah di Hotel Grand Tjokro, Klaten, Jawa Tengah pada Minggu (26/6/2016).

Dikatakannya sebagai seorang ilmuwannya karena Syaikh Atiyatullah Al-Libi ahli dalam membuat bom, roket. Menurut Thib Raya, dia adalah seorang pendidik yang luar biasa, pendidikan anaknya dilakukan sendiri dan tidak mau menyerahkan kepada orang lain.

“Syaikh Atiyatullah Al Libi ini  keluar dari Al Qaedah karena  tidak sependapat dengan ulama-ulama Al Qaeda. Karena ulama di sana punya kecenderungan mengkafirkan sesama muslim. Pengkafirannya bukan main-main. Mengkafrkan ahlusalaf, tabiin, orang-orang  pada masa dia yang bertentantang. Ulama-ulama Al Qaeda juga mengkafirkan umat sesudahnya,” ucapnya.

Dikatan pria yang juga ahli tafsir ini, kita sebagai manusia tidak  boleh mengafirkan secara gampang terhadap orang  lain, seperti Khawarij. Khawarid menurut sabda nabi: khawarij itu memerangi  orang-orang islam sendiri tapi mengajak orang-orang penyembah berhala masuk islam

“Saya  teringat ayat.. Ihdinas sirotol mustaqim : doa dari orang-orang yang  beriman agar ia berada pada jalan  yang  benar. Beliau juga mengungkapkan  sebuah hadis : bahwa kita tdk boleh menjelkkan kaum muslimin. Kaum muslimin sejati adalah  yang menyelematkan dirinya sendiri dari lidahnya dan tangannya Jangan mudah mengkafirkan orang lain,” ujarnya.

Setelah Thib Raya, membaca buku tersebut, dirinya berpendapat bahwa penulis buku ini memberikan  delapan saran agar kita tidak mudah mengkafirkan. Diantaranya adalah bahwa banyak teks hadir yang memerintah agar manusia mencari ilmu dan jangan mudah terprovokasi oleh orang-orang yang ilmunya sedikit.

“Jangan sampai mengkultuskan seseorang lebih dari kebenaran itu. Kalau orang yang baru belajar sandarannya adalah yang diberikan oleh guru, tanpa mencari pendapat dari guru yang lain. Saya mencari tahu kenapa Iman Hanafi dan Imam Syafii berbeda dalam hukum batal wudhu . Tenyata Hanafi  tinggal di daerah yang kekuragan air maka berbeda dengan Syafii  yang tingga di daerah yang banyak air,” ujarnya

Dalam buku ini beliau juga mengungkapkan sebuah hadis yang menarik di halaman 52. Orang yang mengucapkan kalimat-kalimat  yang baik bagi orang lain dan memberikan makan kepada org lain adalah islam sejati.

“Tidak boleh sesama mulim itu saling mengkafirkan. Orang yang menyelamatkan orang lain dari lisan dan tangannya. Beliau juga mengambil hadis-hadis yang  menjadi pegangan dalam hidup,” kata dihadapan 00 peserta  dari organisasi massa, tokoh agama, tokoh masyarakat, di Solo Raya dan sekitarnya yang juga dihadiri oleh beberapa mantan narapidana kasus terorisme.

Menurutnya, dari beberapa paparan tersebut di atas membuktikan bahwa  Syaikh Atiyatullah  adalah mujahid sejati. “Menyerang menurut beliau tidak boleh, tapi mempertahankan diri boleh. Beliau adalah pejuang besar dan tidak mau mengkafirkan orang lain. Karena sangat berbahaya mengkafirkan sesamA muslim,” ujarnya mengakhiri.