PURWOKERTO – Penguatan moderasi beragama membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teori. Nilai toleransi, keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu diterjemahkan menjadi program nyata yang menjangkau lingkungan kerja dan masyarakat. Semangat tersebut menjadi fokus Pelatihan Training of Trainers (ToT) Moderasi Beragama Tahun 2026 yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto bersama Pusat Pengembangan Kompetensi dan Moderasi Beragama (Puspenma).
Pelatihan yang berlangsung selama satu pekan itu resmi dibuka di Aula Arimbi, Hotel Aston Purwokerto, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan agar mampu menjadi penggerak moderasi beragama di instansi masing-masing sekaligus memperluas penerapannya di tengah masyarakat.
Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, menegaskan bahwa moderasi beragama memiliki posisi strategis dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah keberagaman Indonesia, nilai-nilai agama yang mengajarkan kebaikan, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Isu moderasi beragama sangat strategis dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Keterlibatan Bapak dan Ibu dalam pelatihan ini menjadi sangat penting untuk menjadi agen moderasi beragama di lingkungan kerja masing-masing,” tegasnya.
Menurut Ridwan, pelatihan tersebut harus menghasilkan lebih dari peningkatan wawasan peserta. Pengetahuan yang diperoleh selama pembelajaran perlu diterapkan melalui kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lembaga dan lingkungan sosial masing-masing.
Karena itu, peserta didorong menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai langkah konkret setelah pelatihan berakhir. Melalui rencana tersebut, gagasan dan materi yang dipelajari diharapkan dapat dikembangkan menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi institusi maupun masyarakat.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat, menambah pengetahuan dan pengalaman, serta menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat dirasakan oleh lembaga dan masyarakat,” harapnya.
Perkuat kapasitas dan jejaring antarlembaga
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Saizu, Prof. Supriyanto, menyambut para peserta dan fasilitator yang mengikuti pelatihan di Purwokerto. Ia menyampaikan bahwa persiapan kegiatan dilakukan dalam waktu relatif singkat, sekitar sepuluh hari sejak pemberitahuan dari Puspenma diterima.
Meski memiliki waktu persiapan terbatas, penyelenggara berupaya memastikan kegiatan berjalan dengan baik. Supriyanto berharap peserta memanfaatkan pelatihan selama sepekan untuk memperluas wawasan, berdiskusi dengan narasumber dan fasilitator, serta berbagi pengalaman dengan peserta dari berbagai latar belakang.
“Isu moderasi beragama merupakan salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, menggali pengalaman dari para narasumber dan fasilitator, serta berbagi pengetahuan dengan sesama peserta,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya partisipasi aktif selama proses pembelajaran. Kurikulum dan sistem pembelajaran ToT Moderasi Beragama yang terus berkembang perlu diimbangi dengan keterlibatan peserta agar pengetahuan yang diperoleh dapat dipahami dan diterapkan secara optimal.
Pelatihan ini menggabungkan penyampaian materi, diskusi, pertukaran pengalaman, dan pendampingan oleh fasilitator. Pendekatan tersebut diharapkan membantu peserta memahami moderasi beragama secara lebih komprehensif, tidak hanya sebagai konsep, tetapi juga sebagai sikap dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena penguatan moderasi beragama membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Aparatur, pendidik, penyuluh, dan penggerak komunitas dapat mengambil peran dalam membangun ruang sosial yang menghargai perbedaan serta mencegah berkembangnya sikap intoleran.
Dari ruang pelatihan menuju masyarakat
Penyusunan RTL menjadi salah satu instrumen untuk memastikan hasil pembelajaran berlanjut setelah kegiatan selesai. Peserta diharapkan mampu merancang program yang relevan dengan kondisi dan kebutuhan instansi masing-masing, sehingga penguatan moderasi beragama dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menempatkan peserta bukan hanya sebagai penerima materi, melainkan sebagai calon fasilitator yang berperan menyebarluaskan pengetahuan dan membangun kesadaran di lingkungannya. Keberhasilan pelatihan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran, tetapi juga oleh penerapan hasilnya setelah peserta kembali menjalankan tugas.
Bagi UIN Saizu, keterlibatan dalam pelatihan tersebut merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kehidupan beragama yang damai dan memperkuat harmoni sosial. Kolaborasi dengan Puspenma juga membuka ruang pengembangan kompetensi serta pertukaran pengetahuan antarlembaga dalam memperluas praktik moderasi beragama.
Melalui Pelatihan ToT Moderasi Beragama 2026, UIN Saizu berharap semakin banyak penggerak yang mampu menanamkan nilai toleransi, keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Dengan tindak lanjut yang terarah, pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda peningkatan kapasitas, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memberikan dampak bagi kehidupan beragama dan kebangsaan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!