Beranda / Opini / UFC dan Emosi atas Tudingan Teroris

UFC dan Emosi atas Tudingan Teroris

(Studi Kasus Khabib dan McGregor)

Akumulasi dan Kompilasi Kebanggaan, Harga diri dan Hinaan

Tentu masih segar dalam ingatan para penggemar olahraga tanding perkelahian bebas Ultimate Fighting Championship (UFC) tanggal 6 oktober 2018 yang lalu di layar kaca yang dilaksanakan di Las Vegas Amerika Serikat.  Tontonan yang tentu  saja menjadi paling fenomenal sepanjang perjalanan UFC. Justru karena Khabib sang juara yang melemparkan pelindung mulut dan melompat pagar dan menyerang orang di luar ring.

Mmengapa dan bagaimana hal itu terjadi? Pertanyaan yang sulit dijawab karena kita hanya menonton dari penggalan berita saja. Kita tidak paham kalau di situ sudah terjadi akumulasi dan kompilasi antara kebanggaan, harga diri dan hinaan terhadap sebuah aqidah seorang juara Khabib Nurmagomendov asal Rusia, yang dihina secara terbuka oleh Conor McGregor yang berasal dari Irlandia beserta timnya.

Kejadian memalukan itu persis terjadi setelah Conor McGregor dikalahkan dengan kuncian leher pada ronde ke empat. Khabib sang juara dunia memiliki rekor yang mencengangkan. Ia telah mengoleksi 27 piagam dan piala kemenangan dengan rekor tak terkalahkan 11-0. Secara tehnik Mc Gregor dan Khabib sama-sama memiliki keunggulan, sehingga menarik orang di seluruh dunia untuk menontonnya. Penulis juga tidak mau ketinggalan menonton sampai tuntas.

Sportifitas dan Hinaan

Sungguh banyak orang menyayangkan tindakan Khabib yang selama ini dikenal sportif dan posisinyapun sebagai pemenang harus meradang dan menyerang tim pemenangan McGregor.  Khabib seperti kesetanan meloncat pagar oktagon T-Mobile Arena Las Vegas dan mengejar Dillon Danis dan team Mc Gregor.

Terungkap bahwa Danis terdengar menyampaikan kata-kata kotor dan hinaan terhadap ayah Khabib dengan menyebutnya sebagai teroris. Begitupum hinaan  Danis terhadap agama Islam. Sang jagoan dari Rusia itupun tersulut emosi.

Bagi orang yang berbeda aqidah, tindakan barbar ini tentu tidak bisa ditawar-tawar, tetapi tidak bagi Khabib orang yang setiap saat menyebut nama Allah SWT dan selalu bersujud syukur setiap kali keberuntungan berpihak padanya.

Tak tanggung, atas ulah khabib tersebut, Dana White, Presiden UFC adalah orang yang pertama menyatakan bahwa Khabib telah melakukan sebuah pelanggaran yang sangat serius yang merusak citra UFC. Karenanya, honor Khabib yang akan menjadikanya kaya raya tersebut harus ditunda pemberiannya.

Tetapi situasinya tentu akan berbalik seandainya Khabib berada pada posisi pihak yang kalah. Di sinilah harga sebuah sportifitas dipertaruhkan.

Conor McGregor, Petarung Rasialis versus Agamis.

Sebagai seorang muslim yang patuh menjalankan aqidahnya, Khabib Nurmagomedov sebetulnya sudah sangat sabar. Banyak kata-kata yang tidak layak disampaikan kubu  McGregor yang didengar langsung oleh Khabib. Selama ini, dia cukup kuat, namun mulai terlihat terpengaruh setelah mendapat provokasi dari penonton yang ada di luar octagon.

Penonton pendukung McGregor yang tak senang jagoannya kalah tercekik mulai mengolok-olok Khabib. Dan Khabib pun melemparkan pelindung mulutnya ke arah kubu McGregor, namun hanya menghantam jaring.

Sebetulnya jauh sebelum kasus pelemparan pelindung mulut tersebut, kubu Mc Gregor juga menyerang bus yang ditumpangi oleh Khabib dan rombongan adegan yang mirip dengan sandiwara Stone Cold menyerang kendaraan lawan di luar arena.

Bahkan saat timbang badan Conor McGregor juga melakukan pelecehan kasar  yang  tidak beradab. Conor Mc Gregor berusaha menjatuhkan mental Khabib.

Persoalan lain yang menyulut Khabib yang memendam emosi, yang pada akhirnya menjadi triger kemarahan Khabib adalah saat dialog bersama. Mc Gregor memaksa minum wine dalam toast yang bagi seorang muslim yang taat pasti akan ditolak. Begitupun dengan Khabib. Tapi penolakan itu kontan dijadikan bahan olok-olok Mc Gregor. Sambil melotot McGregor mengatakan bahwa manajer Khabib, Ali Abdelaziz adalah seorang “teroris”, dan menyampaikan bahwa dia akan sangat kejam, akan membuat lubang di tengkok Khabib juga akan menembus pelipis khabib  dengan tinju”.

Di sisi Khabib dia banyak diam, sambil berdoa tak henti-hentinya “Ya Allah berikan kesempatan padaku untuk mengalahkan orang yang zalim ini”. Dan faktanya doa itu terkabulkan. Dan khabibpun melakukan sujud syukur.

Ada beberapa hal yang begitu sensitif yang membuat Khabib yang agamis itu pada akhirnya melakukan tindakan yang sangat emosional.

  1. Orang tua Khabib dan Manajer Ali abdel azis di depan publik dikatakan dengan sebutan “teroris”.
  2. Mc Gregor dan Manajer Dillon Danis bersikap sangat rasialis.
  3. Terjadi aksi vandalisme pengrusakan terhadap bus yang mengangkut Khabib
  4. Penghinaan karena Khabib tidak minum Alkohol atau wine saat toast.
  5. Sudah menang di Ringpun tim McGregor, Manejer Dillon Denis, masih melakukan pengejekan dengan memanggil Khabib Nurmagomedov sebagai “Tikus muslim breng***k“. Hal tersebut juga diperkuat oleh ketetangan pers, seorang saksi yang diwawancarai stasiun Tv TMZ yang juga menjelaskan bahwa Dillon Danis telah memprovokasi Nurmagomedov sepanjang pertandingan.

Saat isu agama yang diangkat dan ada yang menjadi korban, maka solidaritas bisa terbangun. Inilah yang harus disadari bagi kelompok mayoritas terhadap minoritas. Pada situasi seperti ini biasanya kelompok radikali teroris akan mengambil perannya.

Semoga Khabib menjadi semakin sabar menghadapi cercaan dan julukan teroris terhadap diri dan agamanya itu. Amin.

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Bekal Berselancar Terbebas dari Terorisme

Masih segar dalam ingatan masyarakat ketika seorang wanita ditangkap saat akan meledakkan bom dalam kemasan …