Bangka – Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 Anti Teror Polri berkolaborasi dengan komunitas budaya Generasi Emas Indonesia (GESID) menggelar pagelaran budaya tradisional dalam acara adat “Tintang Tue dan Doa Sekampong” di Desa Bintet, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Minggu (19/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan soft approach dalam upaya pencegahan penyebaran ideologi radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Pagelaran budaya ini dihadiri berbagai unsur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga Desa Bintet. Turut hadir anggota DPD RI Dapil Bangka Belitung Zuhri Muhammad Syazali, perwakilan Bupati Bangka, Ketua Umum GESID Bangka Belitung Suwardian Ramadhan, Kapolsek Belinyu AKP Singgih Aditya Utama, budayawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian, serta sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi kemasyarakatan.
Rangkaian kegiatan menampilkan beragam kesenian tradisional khas Bangka Belitung, seperti Tari Dambus Selamat Datang, Tari Dambus Kedidi, pencak silat tradisional, Tari Samber Kelayang Putih, pembacaan Titang Tue, Saji Buk Idang dari lima dusun, doa bersama dengan prosesi Ketupat Lepas, hingga Tari Bedincak sebagai penutup acara.
Tradisi Tintang Tue dan Doa Sekampong merupakan ritual adat masyarakat setempat yang menandai pergantian musim dari musim barat atau musim hujan menuju musim timur atau musim kemarau. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan hasil laut, sekaligus permohonan keselamatan serta keberkahan bagi kampung.
Selain memiliki nilai spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga karena melibatkan partisipasi masyarakat dari berbagai dusun dalam satu rangkaian kegiatan adat. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjaga identitas budaya lokal.
Katim Pencegahan Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 AT Polri IPDA Hariyadi mengatakan pelestarian budaya lokal memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat dari pengaruh paham radikal. Menurutnya, kegiatan budaya dapat menjadi benteng sosial dalam mencegah penyebaran ideologi ekstrem.
“Melalui pelestarian budaya lokal seperti ini, diharapkan dapat menjadi benteng sosial dalam menangkal pemahaman radikalisme dan terorisme. Selain itu, kegiatan budaya juga mampu memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, serta kecintaan masyarakat terhadap tradisi dan kearifan lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan budaya menjadi strategi efektif dalam pencegahan radikalisme karena mampu menyentuh langsung kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, kegiatan tersebut juga memperkuat identitas kebangsaan dan nilai toleransi.
Kegiatan pagelaran budaya berlangsung aman dan tertib serta mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Desa Bintet. Kolaborasi antara Densus 88, komunitas budaya, dan pemerintah daerah diharapkan terus berlanjut guna memperkuat upaya pencegahan radikalisme melalui pendekatan humanis, inklusif, dan berbasis kearifan lokal.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!