Tokoh Muda Papua Soroti Film “Pesta Babi”, Nilai Narasi Provokatif Bisa Ganggu Stabilitas Papua

JAKARTA – Tokoh Muda Papua Yulianus Wenda menyoroti beredarnya film berjudul Pesta Babi yang dinilai memuat narasi provokatif dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan serta harmoni sosial di Papua.

Menurut Yulianus, di tengah berbagai upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, munculnya konten yang memicu polarisasi justru dapat menjadi hambatan serius bagi agenda pembangunan yang sedang berjalan.

“Papua saat ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik. Pemerintah sedang fokus membangun, masyarakat juga mulai merasakan berbagai program pembangunan. Karena itu, narasi-narasi provokatif seperti dalam film Pesta Babi harus disikapi secara kritis agar tidak merusak proses positif yang sedang berlangsung,” kata Yulianus dikutip dari tulisannya di suaradewata.com, Selasa (12/5/2026).

Ia menilai film tersebut berpotensi membangun persepsi negatif di ruang publik, terutama jika dikonsumsi tanpa pemahaman yang utuh terhadap kondisi Papua saat ini. Menurutnya, konten yang sarat provokasi dapat memunculkan kesalahpahaman, memperuncing perbedaan, bahkan memicu konflik horizontal di tengah masyarakat.

“Yang harus dipahami adalah Papua membutuhkan suasana damai untuk bertumbuh. Ketika muncul konten yang justru membangun emosi negatif dan memperkuat sentimen tertentu, maka itu bisa mengganggu persatuan yang selama ini sedang kita bangun bersama,” ujarnya.

Yulianus mengatakan, stabilitas keamanan merupakan syarat utama agar pembangunan di Papua dapat berjalan optimal. Tanpa situasi yang aman dan kondusif, berbagai program pemerintah yang telah dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat akan sulit mencapai hasil maksimal.

Ia mencontohkan sejumlah program pembangunan yang saat ini tengah berjalan di Papua, mulai dari penguatan sektor pertanian melalui program cetak sawah rakyat hingga percepatan sertifikasi lahan untuk masyarakat.

Menurut dia, program-program tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun Papua secara inklusif dan berkelanjutan.

“Pemerintah sedang bekerja nyata. Ada pembangunan sektor pangan, ada penguatan legalitas tanah masyarakat, ada berbagai program pemberdayaan ekonomi. Semua itu tujuannya agar masyarakat Papua lebih mandiri dan sejahtera,” katanya.

Karena itu, Yulianus menilai seluruh elemen masyarakat harus ikut menjaga iklim sosial yang kondusif agar pembangunan tersebut tidak terganggu oleh isu-isu yang bersifat destruktif.

Ia menegaskan, kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif dan bertanggung jawab.

“Kalau ada kritik, sampaikan dengan cara yang membangun. Jangan justru membuat konten yang bisa memecah belah masyarakat atau menciptakan ketegangan baru,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yulianus mengingatkan bahwa Papua memiliki sejarah panjang yang tidak mudah. Karena itu, seluruh pihak harus berhati-hati dalam membangun narasi mengenai Papua agar tidak membuka kembali luka sosial yang justru dapat menghambat proses rekonsiliasi dan pembangunan.

Menurutnya, saat ini masyarakat Papua membutuhkan optimisme dan semangat kebersamaan, bukan narasi yang menumbuhkan rasa saling curiga.

“Papua hari ini butuh energi positif. Anak-anak muda harus diajak bicara soal masa depan, soal pendidikan, ekonomi, dan pembangunan, bukan terus-menerus dijejali narasi konflik,” ujarnya.

Yulianus juga mengajak generasi muda Papua untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial maupun platform digital lainnya.

Ia menilai literasi digital menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum tentu memberi manfaat bagi kemajuan Papua.

“Anak muda harus jadi filter pertama. Jangan semua informasi diterima mentah-mentah. Harus dilihat, dipahami, dan dipikirkan dampaknya bagi masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa masa depan Papua sangat bergantung pada kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan dan stabilitas keamanan.

Menurutnya, pembangunan hanya dapat berjalan dengan baik apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama untuk menjaga kedamaian.

“Menjaga Papua tetap aman bukan hanya tugas pemerintah atau aparat, tetapi tanggung jawab kita semua. Kalau Papua aman, pembangunan berjalan. Kalau pembangunan berjalan, kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” tutur Yulianus.