Tingkatkan Kewaspadaan Ancaman Terorisme di Media Massa, BNPT Gelar FGD Bersama Pers

Jakarta – Media massa (pers) merupakan modal besar dalam upaya pencegahan terorisme, namun kesalahan pengelolaan akan berdampak sebaliknya. Dengan kemajuan teknologi, pers mampu menyebarkan informasi secara cepat dan up to date. Waktu dan jarak/tempat tidak menjadi halangan. Banyak informasi bertebaran baik secara offline ataupun online.

Namun demikian ada dampak negatif yang ditimbulkan oleh pers jika informasi yang tersebar tersebut bersifat hoax dan tersusupi paham radikal terorisme. Karena di media massa dan media sosial, banyak ditemukan propaganda radikal yang bernuansa kebencian, penghasutan, permusuhan, dan ajakan kekerasan.

Untuk itu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Subdit Kontra Propaganda pada Direktorat Pencegahan di Kedeputian I bidang Pencegahan, Perlindungandan Deradikalisasi menggealar acara Focus Group Discussion bersama Media Massa (Pers) dalam rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme.

“Suatu kebahagian luar biasa bagi kami untuk senantiasa merekatkan silaturahmi dan berkumpul bersama dengan para pakar dan jurnalis dalam rangka niat baik kita untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai isu dan potensi ancaman terorisme yang dapat menganggu keamanan dan perdamaian bangsa yang kita cintai,” ujar Kasubdit Kontra Propaganda BNPT, Kolonel Pas. Sujatmiko dalam sambutannya saat membuka acara di Hotel Mercure Sabang, Jakarta, Selasa (25/9/2018)
.
Dijelaskannya pihaknya sengaja menggelar FGD dengan insan pers dikarenakan kebijakan kontra radikalisasi yang dilaksanakan oleh BNPT mempunyai tujuan bagaimana meningkatkan daya tangkal dan daya tahan masyarakat dari pengaruh paham radikal terorisme. Penyebaran paham tersebut bisa menyebar melalui berbagai saluran di ruang sosial baik ruang nyata maupun maya.

“Karena itulah, negara melalui bnpt menyadari bahwa melawan penyebaran paham tersebut tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi butuh keterlibatan semua pihak baik tokoh agama, tokoh masyrakat, tokoh pendidikan, pemuda, dan insan pers,” ujar alumni Sepa PK TNI tahun 1995 ini.
.
Selain itu menurutnya, melalui kegiatan ini BNPT ingin memberikan gambaran kepada para insan pers dan industri media massa tentang pentingnya keterlibatan media massa pers dalam upaya pencegahan terorisme sehingga tercipta sinergi antara pemerintah dan media massa di dalam meningkatkan daya tangkal dan kewaspadaan masyarakat.

“Tterorisme senantiasa mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. penting untuk dipahami bahwa tidak ada strategi tunggal dalam penanggulangan terorisme karena kelompok teror selalu bergerak dinamis mengadaptasi perubahan lingkungan strategis baik lokal, nasional, maupun global,” ujar alumni Fisip Universitas Diponegoro Semarang ini
.
Selain itu menurutnya, kelompok terorisme selalu mengalami perubahan, baik menyangkut modus, bentuk ancaman, maupun sasaran dan target aksi teror. dari berbagai perubahan pola tersebut, hal yang paling patut diwaspadai adalah pergeseran paradigma ancaman teror dari sasaran fisik kepada pola pikir masyarakat.

“Dalam beberapa tahun terakhir, gejala pergeseran paradigma ini dapat dilihat dari banyaknya propaganda radikal yang bernuansa kebencian, penghasutan, permusuhan, dan ajakan kekerasan yang dilontarkan oleh kelompok radikal terorisme yang menyasar pada perubahan pola pikir dan cara pandang masyarakat,” ujar pria yang dalam karir militernya di besarkan di lingkungan Satuan Bravo 90 Paskhas TNI-AU ini.

Dengan pergeseran paradigma ini tentunya kelompok terorisme ini menemukan momentumnya dengan pemanfaatan kemajuan teknologi khususnya media internet sebagai media propaganda, recruitment, dan kepentingan aksi terror lainnya.

“Dan dewasa ini, kita sedang menghadapi tantangan maraknya penyebaran konten propaganda dan narasi radikal di dunia maya yang menandai perubahan pola baru radikalisasi. Masyarakat khususnya generasi muda tidak lagi mengalami proses radikalisasi di tempat-tempat tertutup dan ruang rahasia meskipun pola ini masih dilakukan oleh kelompok teror,” ujar pria kelahiran Magelang ini.

Untuk itu dengan pertemuan ini dirinya berharap media massa mampu melakukan pencegahan terutama kontra radikalisasi dengan menyebarkan informasi yang berimbang yang mampu menyampaikan pesan-pesan positif dan melakukan perlawanan terhadap berita negatif terkait penyebaran paham radikal terorisme baik offline maupun online.

“Inilah sebenarnya tujuan esensial dari pertemuan pada hari ini. semoga kegiatan kali ini tidak hanya dapat memperkuat silaturrahmi dan sinergi antara bnpt dengan insan pers, tetapi juga mampu mengeuarkan satu rekomendasi yang tepat bagi keterlibatan insan pers dalam menghadapi ancaman terorisme,” kata mantan Komandan Batalyon Komando 466/Pasopati Paskhas ini mengakhiri.