Tiga Remaja Singapura Ditahan Terkait Radikalisme, Terpapar karena Konten Online dan Media Sosial

SINGAPURA – Tiga remaja asal Singapura, yang berusia antara 14 hingga 19 tahun, resmi ditahan di bawah payung hukum Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) akibat terpapar radikalisasi ideologi ekstremis yang mengandung kekerasan. Ketiga remaja tersebut ditangkap dalam kasus yang tidak saling terkait setelah terbukti merencanakan berbagai aksi serangan mematikan di wilayah Singapura.

Menteri Senior sekaligus Menteri Koordinator Keamanan Nasional dan Menteri Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam, memberikan peringatan keras mengenai ancaman nyata radikalisasi kaum muda, khususnya terkait pelaku berusia 14 tahun yang merencanakan penusukan massal di sekolahnya pada masa liburan bulan Juni.

“Dia sudah cukup dekat untuk melaksanakan rencananya. Hal ini mengkhawatirkan, tetapi setiap kasus memang mengkhawatirkan,” tegas Menteri Senior sekaligus Menteri Koordinator Keamanan Nasional dan Menteri Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam, saat berbicara kepada wartawan pada 27 Juli, sebagaimana dilansir dari rilis publikasi Singapore Law Watch

Dikutip dari The Strait Times, Shanmugam mengungkapkan bahwa radikalisasi saat ini menyasar anak muda dengan cepat.  Banyak anak muda teradikalisasi melalui konten online dan media sosial. Mereka mendukung berbagai macam ideologi seperti ideologi sayap kanan dan kelompok teror, termasuk Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).  

Berdasarkan laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD), pelaku pertama (14 tahun) yang mendukung ISIS telah menyusun manifesto setebal 21 halaman berisi rencana penusukan terhadap guru dan siswa non-Muslim. 

Selanjutnya, kasus kedua melibatkan mahasiswa berusia 19 tahun bernama Tan Jun Jie, yang merencanakan serangan pisau terhadap personel Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) dan pelajar LGBTQ, serta merancang serangan siber (DDoS) terhadap situs web organisasi Muslim. Sementara itu, kasus ketiga melibatkan pelajar berusia 15 tahun yang mencari cara merakit bom panci tekan (pressure-cooker bomb) guna menyasar warga sipil di area perkotaan.

ISD menyoroti bahwa para remaja ini berada pada berbagai tahap persiapan, mulai dari meriset pembuatan bahan peledak hingga memilih senjata tajam yang mudah didapat. Mengingat para pelaku sempat membagikan video dan pandangan ekstremnya kepada keluarga serta teman-teman melalui grup percakapan, pemerintah mendesak masyarakat dan para orang tua untuk terus waspada guna mencegah meluasnya ancaman radikalisasi di kalangan generasi muda Singapura.