Beranda / Berita / Terorisme Seperti Penyakit, Sudah Dijaga Tapi Masih Bisa Menyerang

Terorisme Seperti Penyakit, Sudah Dijaga Tapi Masih Bisa Menyerang

Jakarta – Terorisme itu seperti penyakit. Meski sudah dijaga dan diantisipasi, tetapi masih bisa menyerang. Pernyataan itu diungkapkan Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan Dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Persiapan Identifikasi Terhadap Tersangka Dan Terdakwa Tindak Pidana Terorisme yang digelar oleh Direktorat Deradikalisasi Subdit Bina Dalam Lembaga Pemasyarakatan BNPT di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

“Terorisme seperti diri kita yang selalu ingin sehat, tapi masih bisa sakit, seperti itulah terorisme yang datang. Namun sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana agar kita tidak sakit atau bagaimana terorisme tidak sampai terjadi, mari kita jaga diri kita dan lingkungan,” ujarnya Hendri.

Kegiatan tersebut merupakan yang pertama, setelah terbitnya UU Terorisme No 5 Tahun 2018 yang memberikan penguatan kewenangan bagi BNPT untuk mengkoordinasikan kementerian dan lembaga terkait dalam rangka melakukan pencegahan terorisme. Mayjen Hendri Lubis mengatakan seperti kejadian teror bom di Sibolga, tentu tidak ada yang menginginkan. Dan mau tidak mau itu menimbulkan pertanyaan klasik, mengapa masih terjadi bom dan kenapa masih kecolongan?

“Sesungguhnya tidak ada istilah kecolongan, karena baik BNPT dan kementerian telah mengerahkan seluruh kemampuanya untuk mencegah terorisme. Namun itu tadi terorisme itu seperti penyakit yang meskipun telah dijaga tapi masih bisa menyerang kapan saja,” tuturnya.

Lebih lanjut Mayjen Hendri Lubis menjelaskan bahwa BNPT sebagai leading sector penanggulangan terorisme telah melakukan sinergi dan mengkoordinasikan 36 Kementerian dan Lembaga untuk dapat bersama-sama melakukan upaya penanggulangan terorisme sehingga persoalan terorisme dapat dicegah secara semesta.

Ia juga bercerita bahwa Sibolga letaknya tidak jauh dari daerahnya. Selama ini Sibolga merupakan daerah yang aman. Tetapi tiba-tiba kejadian bom meledak di Sibolga.

Mantan Komandan Grup III Kopassus menegaskan bahwa terorisme ada di sekitar kita dan terorisme tidak mengenal tempat, waktu dan kondisi. Dengan demikian bagi yang paham bahaya radikalisme perlu terus untuk meningkatkan kewaspadaan baik diri sendiri atau lingkungan karena radikalisme dan terorisme sesungguhnya ada disekitar kita.

“Mari kita jaga tempat, lingkungan kita dari terorisme, tingkatkan Siskamling agar tidak ada terorisme,” ungkapnya.

Diakhir sambutanya, Mayjen Hendri Paruhuman Lubis menekankan agar rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga seperti yang dilaksanakan oleh Direktorat Deradikalisasi Subdit Bina Dalam Lembaga Pemasyarakatan BNPT dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga outputnya dapat dirasakan dan bermanfaat kedepannya.

Hadir dalam kegiatan tersebut dari Kemenkumham, Detasemen Khusus Anti Teror 88 Polri, Kejagung, Mahkamah Agung dan beberapa stakeholder lainnya.

Tentang Budi Hartawan

budi hartawan seorang pemerhati sosial dan keagamaan, menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Jurusan Ilmu Perbandingan agama. aktif di beberapa organisasi antara lain CRSe dan Ansor NU.

Baca Juga

Mantan Tahanan ISIS Beberkan Penyiksaan ISIS ‘Beatles’ Jihadi John

Roma – Federico Motka (35), seorang warga Italia membeberkan model penyiksaan yang dialaminya saat ditawan …