Beranda / Opini / Terorisme itu Seperti Singa Tidur

Terorisme itu Seperti Singa Tidur

Sungguh kita harus berbangga saat ini masyarakat dunia secara umum  merasa aman dan dapat tidur nyenyak. Ancaman teror menurun. Berita bam-bim-bum terkait aksi teror hampir tidak terdengar. Pernyataan tokoh Amir kelompok radikalis yang biasa berkoar di sosial  media tidak satupun terdengar. Tidak juga banyak ditemukan video viral tentang sadisme dan pembantaian kecuali yang lama direproduksi, diresharing, dan dimuat kembali dan berulang.

Teman teman mitra kita di luar negeri juga saat ini lebih banyak berkutat pada berita tentang politik, seperti reunifikasi Korea, rencana Asean Games, ataupun mengamati debat politik calon-calon pimpinan daerah di berbagai daerah di Indonesia. Berita global terakhir yang menarik perhatian sungguh beda dengan kondisi pada tahun 2017.

Kali ini berita tahun 2018 yang paling banyak mendapat perhatian dunia misalnya hibah enam drone canggih seharga 13, 76 Juta Dollar Amerika kepada Filipina. Kasus lokal domestik yang mencolok misalnya  tentu kita masih ingat kasus di Bontoala Makasar Sulsel, di mana pada malam tahun baru 2018 kala Markas Polsek diserang bom molotov oleh seorang pria tak dikenal dini hari jam 03.00.

Tahun 2018 sejatinya bukan tidak ada aksi terorisme di tingkat global. Di Amerika, rentetan paketan bom di Wasington DC yang dikirimkan ke sejumlah instalansi militer AS dan kantor surat menyurat CIA ( 28/03/2018). Di Somalia, Kelompok al-Shabaab dilaporkan menjadi dalang serangan bom di dekat hotel Mogadiso yang menyebabkan 14 orang tewas (22/03/2018). Di Myanmar, terjadi teror bom di bank myanmar, 12 orang tewas dan 11 luka ( 21/02/2018). Di Mesir, sebuah bom meledak 2 hari sebelum pemilihan presiden akibatnya 2 polisi tewas yang menargetkan kepala keamanan Alexandria ( 25/03/2018). Sementara di Lybia, jamaah masjid tewas akibat teror bom yang sangat tragis (24/01/2018). Di Perancis, penyandraan terhadap seorang wanita yang dilakukan oleh Lakdim yang menewaskan 5 orang (23/03/2018). Afganistan, bom bunuh diri yang menewaskan 95 orang ( 21/03/2018). Di Nigeria, bom bunuh diri menewaskan 18 orang dan 22 orang terluka (19/02/2018) dn terakhir di Montenegro, terjadi pelemparan bom di kedutaan amerika serikat tetapi tidak ada korban dalam kejadian tersebut (22/02/2018).

Mitigasi dan Prioritas Pencegahan Saat Situasi Damai

Di Tengah situasi masyarakat merasa aman dan damai, dalam berbagai diskusi dan forum regional yang Penulis ikuti, pencegahan menjadi prioritas utama Indonesia saat ini. Pertama; kegiatan Asean Games yang akan dilaksanakan 18 Agustus 2018 telah di depan mata. Fokus pemerintah dalam hal ini bagaimana pesta olahraga ini terlaksana secara aman dan sukses. Tentu saja aman dari berbagai kekerasan dan ancaman teror.

Indonesia memang pada tahun 1962 pernah tercatat sebagai penyelenggara Asean Games tersukses dan teraman di Asean. Kala itu  antusiasme anak bangsa begitu besar.  Baliho banner dan iklan terpasang di mana-mana bahkan hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Hampir setiap jam pemberitaan tentang Asean Games menjadi teman sarapan dan ngopi mayarakat melalui berita RRI. Petani, pedagang sayuran di pasar sampai bakul jamu membahas Asean Games.

Events olah raga regional yang lain juga sama. Salah satu contoh adalah Piala Thomas Cup yang membuat seluruh bangsa tidak tidur. Tv hitam putih yang kadang-kadang kehilangan sinyal yang turun naik, layar bersemutpun tak menjadi penghalang yang mengurangi antusiasme masyarakat. Masyarakat ramai menggelar nonton bersama di kantor-kantor kelurahan.

Tahun 1962 sampai sekarang adalah rentang waktu yang  cukup jauh sekali. Tapi situasi itu melahirkan sebuah keiginan besar untuk mendapat public response yang sama, yaitu dukungan dan  rasa memiliki olah raga.  Situasi yang terjadi tahun 1962 tersebut merupakan sebuah harapan. Dan harapan ini harus diwujudkan dengan menjamin keamanan pelaksanaan Asean Games tahun ini. Korea Selatan yang pernah sukses mengamankan event dijadikan pijakan model dan sistem pengamanan.

Lalu, bagaimana mitigasi ancaman keamanan terhadap Asean Games tersebut bila ingin membangun sistem pengamanan yang handal?  Persoalan sistem keamanan Asean Games bagi aparatur keamanan tetap menjadi ancaman serius.  Tidak mudah mengawasi multi event olahraga yang akan digelar dua kota besar Jakarta dan Palembang itu.

Belajar dari berbagai pengalaman, ajang olah raga internasional seperti Olimpiade adalah event yang paling sering diserang teroris. Sebut saja 1). Kasus 5 September 1972 saat Olimpiade di Munich yang dikenal sebagai serangan Black September yang  dilakukan oleh pemuda Palestina terhadap kontingen Israel, yang mengakibatkan 11 atlet Israel tewas dan beberapa disandera,  yang hanya dalam kurun waktu 2 kali 24 jam sanderapun dibunuh. 2). Pada 15 Juli 1996 sebuah bom yang diletakan di sebuah mobil van oleh IRA di Manchester ketika digelar Piala Eropa 1996, 206 orang mengalami cedera. 3). 27 Juli 1996 saat Olimpiade Atlanta digelar, seorang wanita tewas dan 111 orang cedera setelah seseorang meletakan bom yang disembunyikan di Centennial Olympic park. 4). Pada tanggal 5 April 1997 event olah raga berkuda di Grand National terpaksa ditunda dua hari karena ancaman bom dari IRA. 5). Pada tanggal 1 Mei 2002 sebuah bom mobil meledak tiga jam sebelum semifinal Liga Champions antara Real Madrid dan Barcelona di Santiago Bernabeu yang mengakibatkan korban 17 orang.  6). Pada tanggal 8 Mei 2002 bom bunuh diri di luar hotel di Karachi tempat tim kriket Selandia Baru menginap. 7). Pada mei 2006 sekelompok teroris melakukan serangan terhadap tim Taekwondo Irak ketika ingin menuju Jordan,  13 orang meninggal. 8). Di tahun yang sama, pelatih tenis nasional Irak juga terbunuh bersama dua anggota tim Piala Davis. 9). Pada Juli 2006, sekelompok orang menculik 30 anggota Komite Olimpiade Iran termasuk Ahmed al Samarrai yang merupakan Presiden Olimpiade Iran. 10). Tahun 2008 beberapa kelompok mengancam lomba reli Paris Dakar akibatnya pelaksaan reli terpanjang di dunia harus ditunda dan akhirnya dipindahkan ke Amerika Selatan. 11). Pada tanggal 6 April 2008 seorang menteri di Sri Lanka, Jeyaraj Fernandopulle bersama 14 orang lainnya meninggal setelah  seorang gerilyawan tamil menyerang kegiatan marathon tahunan di Gampaha.  12). Pada 3 maret 2009 Tim kriket Sri Langka diserang di Lahore, 7 orang tewas. 13).  Tanggal 1 Januari 2010, sebuah bom bunuh diri menewaskan 90 orang di arena bola voli di Lakki Marwat, Pakistan. 14).  Tanggal 8 Januari 2010, Tim nasional sepak bola Togo diserang sekelompok orang dengan senapan mesin saat mereka ingin tampil di Piala Afrika. 15). Tanggal 14 Mei 2010,  25 orang tewas dan 100 orang cedera saat bom bunuh diri meledak di sebuah lapangan sepak bola di Tel Afar, Irak. 16). Tanggal 13 maret 2013 tujuh orang tewas, enam cedera setelah bom bunuh diri meledak di Buzkashi, Afganistan dalam sebuah event acara olah raga tradisional. 17). Tanggal 15 April 2013 Maraton Boston diserang tiga nyawa melayang.

Berbagai kasus tersebut menjadi pelajaran penting bagi bangsa ini yang akan menggelar perhelatan akbar yang melibatkan banyak negara. Sasaran terhadap objek lokasi dan peristiwa yang melibatkan banyak orang dan atensi publik merupakan target khusus kelompok teror. Terorisme yang berorientasi pemberitaan sangat memahami betul peristiwa yang akan menyetakkan secara global.  Belajar dari 17 contoh kasus tersebut adalah mitigasi dan contoh prevensi sangat dibutuhkan saat ini.

Kedua ; masalah kepulangan para mantan teroris dari Syria, Irak dan Marawi. Walau angka pasti sulit ditemukan, namun ancaman itu senantiasa ada. Sejarah menunjukan bahwa hampir semua anggota Jama’ah Islamiyah (JI) pada kasus bom Bali, Marriot, Kedubes Australia adalah alumni kombatan di wilayah konflik Afganistan. Hal ini patut menjadi kewaspadaan untuk mengantisipasi kepulangan deportan yang telah berperang di wilayah konflik tersebut. Pengalaman mantan kombatan Afganistan patut menjadi pengalaman berharga agar pencegahan menjadi prioritas utama dalam penanganan terorisme.

Relatif Aman, Singa itu sedang Tidur

Dengan sepinya berita tentang terorisme. Kita semua bisa tidur nyenyak. Kita melihat betapa destinasi wisata mulai bergeliat. Penangkapan penangkapan pelaku terorispun sepi. Namun, apabila kita coba merenung, apakah kondisi ini betul-betul aman? Bagi orang awam sepertinya Iya. Fakta-fakta seperti gagalnya ISIS membangun Walayat Filipina di Marawi, terlukanya Hapilon, direbutnya kembali Marawi merupakan fakta  gagalnya ISIS di Asia. Tapi bagi yang mengerti jaringan dan yang mengikuti perkembangan terorisme di Asia akan timbul pertanyaan besar. Kalau memang sudah aman mengapa BBL (Bangsa Moro Basic Law) belum juga selesai?

Hal yang sama persis seperti Di Indonesia dari zaman ke zaman. Dulu saat beberapa pelaku dalam  rangkaian komando jihad tertangkap pada era Orde Baru kita menganggap rangkaian teror di Indonesia selesai. Saat pelaku pembajakan Woyla 1981 mampu dilumpuhkan kita menganggap terorisme pun tutup buku. Kita baru terkaget-kaget saat Agus Dwikarna ditangkap dan diadili di Filipina.  Ternyata dia adalah panglima Laskar Jundullah underbownya NII ( Negara Islam Indonesia).

Artinya sejak tahun 1949 Kartosuwiryo sampai 2010 NII yang kita anggap mati ternyata seperti cendawan. Dia tumbuh berkembang saat hujan saat media pendukungnya tersiram. Tersiram oleh situasi. Saat negara siaga dia tiarap. Namun saat negara terlena dia akan tumbuh subur. Teroris adalah seperti anak singa lapar yang tertidur. Bila ada kelinci lewat dia akan bangun dan menerkam.

Persis kondisi saat ini. Ketika geliat terorisme baik di tingkat global maupun domestik telah tak terdengar itu bukan berarti mereka punah. Mereka tidak bising bukan karena mereka mati. Mereka sedang tidur. Ketika situasi global bergejolak singa itu akan bangun kembali. Hal ini dapat kita lihat ketika munculnya ISIS pada tahun 2014. Sepinya terorisme pasca jaringan al Qaeda terkoak menemukan momentum ketika ISIS mendeklarasikan diri. Semua berduyun-duyun melakukan bai’at.

Memahami terorisme butuh kerangka teori hibernasi jaringan. Artinya, selama ini mereka sedang tiarap untuk menunggu momentum ataupun kondisi yang menurut mereka menjadi ruang baru untuk bergerak. Karena itulah, kewaspadaan dalam hal terkecil sekalipun harus ditingkatkan.

Waspadalah singa itu sedang tidur

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Bunuh diri adalah Virus Ganas dalam Darah Daging Teroris

Binatang tak Mau Memakan Anaknya Sendiri Singa mungkin binatang yang paling buas di muka bumi …