Beranda / Berita / Terorisme Di Mata Musdah Mulia

Terorisme Di Mata Musdah Mulia

Jakarta – Sorot matanya tampak memandang kosong sejenak usai ditanya perihal tanggapannya tentang terorisme, Prof. Musdah Mulia seolah mengalami sedikit kesulitan untuk menemukan kata yang pas guna menjelaskan kejahatan luar biasa ini.

“Kemunduran,” begitu jawabnya.

Baginya, terorisme bukan saja kejahatan yang merusak bangunan dan kehidupan masyarakat, lebih dari itu, terorisme merupakan penghancuran terhadap segala pencapaian yang telah diraih oleh manusia. Terorisme, dalam pandangannya, menghancurkan seluruh nilai kemanusiaan yang pernah ada. Karenanya ia mengaku sangat prihatin terhadap merebaknya terorisme, utamanya karena gerakan dan ajaran kekerasan ini mulai melibatkan anak-anak dan perempuan, bukan saja sebagai pendukung, tetapi sebagai pelaku yang siap menjemput kematian dengan perusakan dan penghancuran.

“Terorisme ini meruntuhkan sendi-sendi kemanusiaan,” terangnya saat ditemui di ruang dosen Institute PTIQ Jakarta siang tadi, Rabu (10/05/17).

“Terorisme ini menghancurkan dan meruntuhkan peradaban manusia, di mana semuanya bisa lenyap seketika akibat aksi teror,” lanjutnya lagi.

Dibandingkan dengan jenis kejahatan yang lain, terorisme dalam pandangan perempuan yang aktif bergelut di dunia pendidikan dan aktivis ini memiliki ‘kelas’nya tersendiri. Daya hancur terorisme sangat besar, karenanya tidak berlebihan jika terorisme termasuk dalam jenis kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Salah satu daya hancur yang paling menakutkan dari terorisme adalah penghancurannya terhadap seluruh capaian yang pernah diraih oleh peradaban manusia.

Untuk konteks Indonesia misalnya, Bunda Musdah –begitu ia biasa disapa—mencontohkan bahwa bangsa ini dibangun dengan perjuangan yang luar biasa, melibatkan darah dan air mata. Bangsa ini pun telah melalui berbagai jenis pemerintahan, mulai dari orde lama, orde baru, reformasi, dst., dan kini, ketika bangsa Indonesia bersiap untuk menyongsong kemajuan yang lebih baik, terorisme malah muncul untuk menghentikan semua itu.

Tujuan utama terorisme adalah menarik kembali seluruh pencapaian yang telah dihasilkan. Akhirnya, alih-alih menuju gerbang kemajuan, bangsa ini dipaksa untuk berjalan mundur menuju jaman kegelapan. Hal Itu hanya akan terjadi jika terorisme dibiarkan terus ada di negeri ini.

Kok setelah 70 tahun lebih kita merdeka, yang menggejala sekarang malah terorisme, Ini bagi saya sesuatu yang fatal,” lanjutnya.

Ia pun menolak anggapan bahwa aksi terorisme adalah ekspresi pembelaan terhadap agama. Baginya, terorisme bukan saja tidak sejalan dengan ajaran agama, tetapi juga bertentangan dengan semangat dan cita-cita agama, yang damai dan mendamaikan.

 

Menjadi Muslim Memang Tidak Gampang

Bagi perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini, Islam tidak memberi tempat sedikitpun untuk terorisme, karena fungsi utama manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi. Fungsi ini, menurutnya, hanya bisa dijalankan selama manusia bisa menjaga dan melestarikan alam dan seluruh isinya, bukan malah merusaknya. Khalifah diartikannya sebagai dorongan untuk membuat setiap muslim menjadi insan yang berguna, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang di sekitarnya, termasuk berguna untuk alam semesta.

Hal utama yang diperlukan untuk menjadi khalifah yang sesuai dengan visi Islam adalah kemampuan untuk mengontrol, dimulai dari mengontrol diri sendiri.

“Dalam Islam itu jelas sekali tujuan hidup manusia, yakni untuk amar ma’ruf nahi munkar. Saya biasa menjelaskan konsep amar ma’ruf nahi munkar itu dengan istilah upaya-upaya transformatif,” terangnya.

Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa upaya-upaya transformative bisa dilakukan melalui pendidikan, yakni sebuah proses yang dilandasi dengan semangat untuk melakukan perbaikan. Subyek pertama yang menurutnya perlu untuk diperbaiki adalah diri sendiri, sebelum kemudian turut membantu memperbaiki keluarga, masyarakat, dst.

Ia juga menyebut bahwa nahi munkar adalah upaya-upaya humanisasi, yakni sebuah upaya untuk memanusiakan manusia. Upaya ini dapat dilakukan melalui edukasi, advokasi, dan publikasi. “Nah, inilah yang disebut jihad. Bagi saya, jihad adalah usaha untuk memelihara kelangsungan hidup manusia, untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi, yang bermartabat.”

“Itulah makna jihad yang sebenar-benarnya.”

Musdah lantas menyatakan bahwa menjadi muslim tidaklah mudah, karena setiap muslim dituntut untuk aktif dan dinamis.

“Kita harus aktif dan dinamis untuk menjaga kelangsungan hidup, bukan saja diri sendiri tetapi juga manusia di sekitar kita. Bahkan kalo saya lebih dalam lagi, kita juga wajib menjaga kelangsungan hidup alam semesta, termasuk menjaga lingkungan,” jelasnya lagi.

Atas dasar ini, ia dengan lantang menyebut bahwa aksi-aksi terorisme, yang jelas tidak menjaga kelangsungan hidup manusia dan alam, bertentangan dengan visi utama Islam.

Tentang Khoirul Anam

Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

Baca Juga

Pejabat Kampus Harus Berani Ambil Sikap Antisipasi Islam Eksklusif Transnasional

Solo – Pejabat kampus seharusnya berani mengambil sikap dalam mengatur kehidupan keagamaan kampus. Pasalnya saat …