Teroris Mencabik-Cabik Kebangsaan

Teroris yang senang menyebar kebencian, kekerasan, pembunuhan,  penganiayaan dan permusuhan bukan saja telah merusak citra agama dan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi lebih dari itu ia telah mencabik-cabik rasa persatuan dan kebangsaan karena munculnya saling curiga diantara kita; kafir mengkafirkan dan fitnah memfitnah. Demikian disampaikan oleh Kepala BNPT Drs. Komjen Pol Saud Usman Nasution, SH, MM dalam sambutannya pada acara pembukaan dialog dan seminar pencegahn terorisme dan ISIS yang diselenggarakan di Jogja Expo Center, 28 Oktober 2015.

Acara seminar dan dialog pencegahan terorisme yang diselenggarakan oleh BNPT dirangkaikan dengan peringatan sumpah pemuda yang ke-87 mengambil tema “Peran Generasi Muda dalam Pencegahan Terorisme diikuti oleh ribuan mahasiswa/I dari berbagai universitas di Yogyakarta serta sejumlah perhimpunan kemahasiswaan dan kedaerahan. Menurut Saud, acara ini sangat penting artinya karena selain dimaksudkan untuk membangkitkan kembali semangat sumpah pemuda kepada generasi-generasi muda saat ini, juga dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana gerakan-gerakan radikalisme menjadikan pemuda sebagai sasaran empuk untuk mensukseskan misinya, sehingga BNPT harus mengambil langkah-langkah dini untuk melakukan pencegahan terhadap kaum muda agar tidak terjangkit virus radikalisme.

Dikatakan bahwa sejal awal kemerdekaan, fenomena terorisme sudah mulai muncul di tanah air, namun ketika itu pemerintah melakukan pencegahan melalui jalur penegakan hukum dengan memberikan tindakan subversive bagi oknum-oknum yang melakukan perlawanan terhadap negara. Pendukung ide-ide terorisme terus berkembang hingga orde baru dan kemudian menjadikan Malaysia sebagai tempat perlindungan yang aman untuk selanjutnya melarikan diri ke Afghanistan dan mengikuti pelatihan-pelatihan militer. Pada awal tahun 2000 mereka kembali ke Indonesia dan melakukan aksi-aksi terorisme sebagaimana yang kita saksikan pada Bom Bali dan beberapa tempat umum lainnya, termasuk kedutaan asing di Jakarta.

Terorisme akan selalu berkembang khususnyaa di era digital ini karena mereka telah menjadikan internet sebagai sarana utama untuk menjalin komunikasi bahkan mereka menyusun strategi perintah dan pembuatan bom melalui jaringan internet. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan, khususnya ketika kita memperhatikan bahwa umumnya pengguna internet adalah kaum muda sehingga tidak menutup kemungkinan anak-anak muda yang aktif menggunakan internet dapat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran radikalisme yang pada ujungnya akan menjerumuskan mereka ke dalam tindak-tindak terorisme.

Saud Usman yang juga menjadi pembicara pada acara dialog dan seminar menekankan bahwa peran pemuda dan masyarakat sangat penting dalam pencegahan terorisme karena tanpa masyarakat, BNPT tidak akan mampu menjalankan misinya sebagai pihak yang berwenang untuk menanggulangi terorisme. Karena itu BNPT selama ini menjalin kerjasama dengan semua pihak termasuk para ulama dan kiyai-kiyai di pesantren untuk bersama-sama dan saling bahu-membahu dalam mencegah lahirnya teroris-teroris baru.

 #damaidarijogja