Talk Show Tenun Kebinekaan, Menag Soroti Peran Perempuan Menjaga Toleransi

YOGYAKARTA — Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak masyarakat melihat agama dari perspektif yang lebih humanis, indah, dan penuh cinta. Menurutnya, nilai-nilai agama tidak hanya hadir dalam bentuk aturan dan hukum, tetapi juga tercermin melalui keindahan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menghadiri Talk Show Tenun Kebinekaan bertema “Hidup Damai Bersama Dalam Perbedaan Agama dan Ragam Budaya Indonesia” yang diselenggarakan Edukasi Peradaban Indonesia Kini (EPIK) bersama komunitas Srikandi Berkebaya Indonesia di Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).

Dalam sambutannya, Nasaruddin menilai selama ini agama kerap dipersepsikan secara formal dan kaku, identik dengan aturan, larangan, serta batas-batas yang tegas. Padahal, menurutnya, agama juga mengajarkan keindahan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap keberagaman.

“Namun hari ini, bersama Srikandi Berkebaya Indonesia, kita diingatkan untuk melihat agama dari sudut yang paling jernih dan paling indah, yaitu sudut estetika, sudut rasa, dan sudut cinta,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam tradisi Islam, Tuhan digambarkan sebagai Zat Yang Maha Indah dan mencintai keindahan. Karena itu, manusia seharusnya mampu melihat kehadiran nilai-nilai ketuhanan tidak hanya melalui teks dan aturan, tetapi juga melalui harmoni alam, seni, dan budaya.

Menurut Nasaruddin, pemahaman keagamaan yang terlalu menonjolkan aspek hukuman dan ketegasan sering kali membuat masyarakat melupakan sifat kasih sayang Tuhan yang justru menjadi inti ajaran agama.

“Setiap kali memulai sesuatu, kita mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Itu menunjukkan bahwa kasih sayang menjadi fondasi utama dalam hubungan manusia dengan Tuhan maupun sesama,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menyoroti kebaya sebagai simbol penting yang merepresentasikan identitas perempuan Indonesia sekaligus mencerminkan nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan.

Ia menilai kebaya bukan sekadar produk fesyen atau pakaian tradisional, melainkan simbol yang sarat makna sosial dan spiritual.

“Kebaya adalah sebuah traktat teologis dan sosiologis yang hidup,” ujarnya.

Menurut dia, setiap unsur dalam kebaya memiliki filosofi tersendiri. Potongan yang sederhana namun anggun mencerminkan kesederhanaan dan ketelitian, sementara kain jarik mengajarkan kehati-hatian dalam melangkah. Kancing yang berada di bagian depan juga dimaknai sebagai simbol keterbukaan dan kejujuran.

Lebih jauh, Nasaruddin menyebut kebaya sebagai representasi nyata moderasi beragama. Kebaya menunjukkan bahwa seseorang dapat tetap menjaga nilai-nilai keagamaan tanpa harus meninggalkan akar budaya dan identitas kebangsaan.

“Kebaya membuktikan bahwa manusia, terutama perempuan, bisa menjadi religius sekaligus berbudaya pada saat yang sama. Inilah harmoni antara ajaran agama dan budaya lokal,” katanya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kebaya sekadar busana seremonial yang dikenakan pada acara tertentu. Menurutnya, kebaya harus dimaknai sebagai simbol gerakan moral yang mendorong lahirnya perempuan-perempuan yang aktif menebarkan kedamaian dan toleransi.

Nasaruddin berharap perempuan Indonesia dapat menjadi pelopor dalam membangun ruang publik yang lebih sehat, termasuk di media sosial, melalui penyebaran pesan-pesan persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap kekerasan dan ujaran kebencian.

“Jangan biarkan kebaya hanya menjadi pakaian upacara. Kebaya harus menjadi simbol gerakan perempuan yang menolak kekerasan, menyebarkan kesejukan, dan merangkul perbedaan dengan penuh keanggunan,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, Nasaruddin menegaskan bahwa keberagaman agama dan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dirawat. Menurutnya, nilai toleransi, moderasi, dan cinta kasih merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.