Suriah Tangkap Dua Terduga Anggota ISIS, Diduga Rencanakan Serangan terhadap Tempat Ibadah

HOMS – Aparat keamanan Suriah menangkap dua orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dalam operasi penggerebekan di wilayah Houla, bagian utara Provinsi Homs. Keduanya diduga terlibat dalam persiapan serangan yang menyasar tempat-tempat keagamaan dan patroli keamanan.

Mengutip laporan Asharq Al-Awsat pada 11 Oktober 2026, operasi tersebut dilakukan oleh Badan Keamanan Dalam Negeri Suriah bersama Direktorat Jenderal Intelijen. Dalam penggerebekan itu, aparat menyita dua alat peledak yang diduga berkaitan dengan rencana serangan.

Salah satu tersangka ditangkap ketika diduga berupaya memasang alat peledak di jalur kereta api. Berdasarkan penyelidikan awal, kedua orang tersebut diduga bertugas menerima dan mengangkut bahan peledak, sekaligus memantau sejumlah lokasi yang berpotensi dijadikan sasaran.

Pihak berwenang menduga aktivitas itu merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan kekacauan dan mengganggu stabilitas keamanan di wilayah tersebut. Namun, keterlibatan kedua tersangka dalam rencana serangan masih harus dibuktikan melalui penyelidikan lebih lanjut dan proses hukum yang berlaku.

Penangkapan di Houla berlangsung di tengah peningkatan operasi kontra-terorisme yang dilakukan aparat keamanan Suriah. Langkah tersebut juga menyusul penangkapan Khaled Raed Bayrouni, yang diduga menjabat sebagai kepala operasi ISIS di Provinsi Homs.

Bayrouni dituduh terlibat dalam sejumlah aksi terorisme, termasuk pengeboman sebuah masjid komunitas Alawite di Homs pada akhir 2025. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan delapan orang.

Aparat keamanan Suriah juga meningkatkan kewaspadaan setelah serangan mematikan terhadap sebuah bus di wilayah Suriah bagian tengah pada September 2026. Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa ancaman dari kelompok bersenjata masih menjadi tantangan bagi upaya pemulihan keamanan di negara tersebut.

Tempat ibadah, jalur transportasi, dan patroli keamanan menjadi perhatian dalam langkah pencegahan karena serangan terhadap sasaran-sasaran tersebut berpotensi menimbulkan korban jiwa serta memperbesar ketegangan sosial.

Operasi di Houla menjadi bagian dari upaya aparat untuk mengungkap jaringan yang diduga terlibat dalam perencanaan serangan, mengamankan barang bukti, dan mencegah aksi kekerasan sebelum terjadi. Penindakan juga diharapkan dapat mempersempit ruang gerak kelompok ISIS yang masih berupaya mempertahankan pengaruhnya di sejumlah wilayah Suriah.

Di tengah situasi tersebut, efektivitas pemberantasan terorisme tidak hanya bergantung pada penangkapan dan penindakan, tetapi juga pada kemampuan aparat mendeteksi ancaman sejak dini, melindungi warga sipil, serta menjaga keamanan fasilitas umum dan tempat ibadah.

Penyelidikan terhadap kedua tersangka di Houla diharapkan dapat mengungkap lebih jauh dugaan jaringan, motif, dan rencana serangan yang tengah disiapkan. Pada saat yang sama, penegakan hukum yang transparan dan berdasarkan bukti tetap diperlukan untuk memastikan pertanggungjawaban para pelaku serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.