Sulbar Perkuat Ketahanan Ideologi, Pelajar Jadi Sasaran Edukasi Anti Radikalisme

Mamuju – Upaya memperkuat ketahanan ideologi dan mencegah penyebaran paham radikalisme terus dilakukan di Sulawesi Barat. Hal itu terlihat dalam kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Polri dan Masyarakat tentang Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air dalam Menguatkan Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang digelar di SMK Negeri 1 Tapalang Barat, Jumat (10/4).

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari Polri, Densus 88 Anti Teror, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Badan Kesbangpol, unsur Tripika, kepala desa, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga para pelajar. Kolaborasi ini dilakukan sebagai langkah bersama memperkuat daya tangkal masyarakat terhadap intoleransi dan ideologi ekstrem.

Plt. Kasubdit Tibsos Ditbinmas Polda Sulbar Ipda H. Eman Sulaiman yang memimpin kegiatan menegaskan pentingnya pendekatan preventif melalui edukasi untuk memutus mata rantai radikalisasi sejak dini.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membangun kesadaran bersama bahwa menjaga keutuhan bangsa adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Eman dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, radikalisme kerap berkembang melalui proses panjang yang dimulai dari lingkungan terdekat. Karena itu, edukasi kebangsaan dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Perwakilan Badan Kesbangpol Provinsi Sulawesi Barat Muh. Darwis Damir menyampaikan materi mengenai penguatan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa Pancasila harus dipahami sebagai pedoman hidup yang diterapkan dalam interaksi sosial sehari-hari.

Menurutnya, pemahaman yang kuat terhadap nilai Pancasila akan membangun sikap toleransi dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Hal itu sekaligus menjadi benteng awal dalam menghadapi penyebaran ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

Sementara itu, narasumber dari FKPT Sulawesi Barat H. M. Sahlan menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam mencegah radikalisme. Ia mengatakan proses radikalisasi sering bermula dari pergaulan, media sosial, hingga forum diskusi yang menyebarkan paham eksklusif.

Karena itu, ia mengajak tokoh agama, tokoh pemuda, dan masyarakat untuk aktif menjadi agen kontra narasi di lingkungan masing-masing. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi penyebaran paham radikal.

Dalam kesempatan yang sama, narasumber dari Densus 88 Anti Teror Polri AKBP Soffan Ansyari menjelaskan bahwa ancaman terorisme tidak selalu berbentuk aksi kekerasan. Ia menegaskan bahwa terorisme umumnya diawali dengan proses radikalisasi ideologis yang berlangsung secara bertahap.

Ia mengajak peserta untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat koordinasi dengan aparat apabila menemukan indikasi penyebaran paham radikal di lingkungan sekitar.

Kepala SMK Negeri 1 Tapalang Barat Supriadi menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pembekalan wawasan kebangsaan penting bagi pelajar sebagai generasi penerus bangsa.

“Ini sangat bermanfaat bagi siswa kami, karena mereka mendapatkan pemahaman langsung dari para narasumber yang kompeten, sehingga dapat membentuk karakter pelajar yang nasionalis dan berintegritas,” katanya.

Ia menambahkan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter. Sinergi antara sekolah, aparat keamanan, dan masyarakat dinilai mampu memperkuat ketahanan ideologi generasi muda.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dan pelajar memiliki pemahaman yang lebih kuat terhadap nilai kebangsaan serta mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.