Strategi BNPT Atasi Terorisme

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) punya dua strategi untuk mengatasi terorisme di Indonesia. Deradikalisasi dan kontra-radikalisasi menjadi senjata utama BNPT menghadapi bahaya terorisme.

Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengatakan, deradikalisasi ditujukkan kepada kelompok yang terlibat langsung aksi terorisme, sedangkan kontra-radikalisasi melalui pendekatan pendidikan, baik  formal maupun non-formal.

“Masyarakat kita terutama di daerah terpencil perlu diberi pemahaman khusus. Jangan berperawakan timur tengah, pakai sorban, jenggot panjang, ngomong bahasa Arab, terus dianggap keturunan nabi, cium tangan dan ucapannya wajib diikuti, kan belum tentu juga dia benar,” kata Agus saat berkunjung ke Metro TV, Senin (19/10/2015).

Ia mengungkapkan, pihaknya sedang membuat forum di tiap provinsi. Forum berisi tokoh agama, guru, remaja, RT RW.  Forum itu akan gencar berdialog menganai pemahaman terorisme. “Kita lakukan pendekatan kultural, budaya negara kita beda dengan negara lain. Banyak juga negara lain yang mau belajar ke Indonesia cara atasi teroris,” ujarnya.

Menurut Agus, banyak kalangan di daerah terpencil yang kurang peduli. BNPT mendapat kesulitan untuk masuk langsung ke masyarakat yang sudah terdoktrin pada hal tertentu.

“Masalah keyakinan ini sangat sensitif. Kita tidak bisa langsung masuk. Banyak di daerah terpencil yang kurang peduli. Mereka anggap semua orang kafir, kecuali golongannya. Ini susah kita atasi. Pendekatannya harus kontra radikalisasi,” kata Agus.

Untuk mencegah dan memberantas paham radikalisme dan terorisme di Indonesia, menurut Agus, wawasan kebangsaan masyarakat harus dikuatkan. Ia yakin jika wawasan kebangsaan masyarakat Indonesia lebih kuat, paham radikalisme dan terorisme tidak akan bisa masuk.

Sumber : MetroTvNews.com