Strategi Baru Islamic State Apabila Ambisi Kekhalifahan Runtuh

Apabila kita membicarakan tentang  kelompok teroris Islamic State (Negara Islam) yang lebih dikenal sebagai ISIS, maka kita sebaiknya memperhatikan analisis intelijen dari pemerintah Amerika Serikat, karena musuh utama Islamic State adalah negara-negara Barat (baca AS). Presiden Amerika Barrack Obama hampir dua tahun yang lalu saat diwawancarai TV CBS, Minggu (28/9/2014) menyatakan bahwa Intelijen AS meremehkan Islamic State. Ditegaskannya bahwa ISIL atau ISIS telah mengambil keuntungan dari kekacauan perang saudara di Suriah dan negara ini kini sudah menjadi “ground zero”  bagi semua jihadis di seluruh dunia.

“Kepala komunitas intelijen kami, Jim Clapper, telah mengakui bahwa saya pikir mereka meremehkan apa yang telah terjadi di Suriah,” kata Obama. Menanggapi hal ini, juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest mengatakan, Senin (29/9/2014) bahwa Presiden Obama tidak menyalahkan pejabat intelijen yang dinilainya telah meremehkan ancaman Negara Islam dan melebih-lebihkan kemampuan pasukan keamanan Irak untuk melawan mereka. Earnest mengatakan, “Analisis Intelijen adalah bisnis yang sulit, dan pada akhirnya, akan menjadi prediksi,” katanya. Menurutnya, presiden tetap mempercayai Jim Clapper serta komunitas intelijen.

Dalam hal ini, nampaknya Presiden Obama khawatir dengan perkembangan ISIS yang tiga bulan sebelum dia diwawancarai telah mengganti nama dari ISIS/ISIL menjadi Islamic State (IS). Kelompok ini mampu membuktikan  penguasaan wilayah  di Suriah dan Irak sejak 2014 memang mencengangkan. Islamic State yang dipimpin oleh dan didominasi oleh tokoh Arab Sunni dari Irak dan Suriah pada Maret 2015, mampu menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Lewat kelompok lokalnya, IS juga berhasil menguasai wilayah kecil di Libya, Nigeria, dan Afghanistan.

peshmerga
Pasukan dari Suku Kurdi, Peshmerga pada masa lalu (foto : bbc)

                                           

IS  ini juga dinilai sukses dan berbahaya, mampu meluaskan daerah operasi serangan teror dan  memiliki afiliasi di berbagai belahan dunia, termasuk Afrika Utara dan Asia Selatan. Dengan ambisi kekhalifahan, IS mengklaim kendali agama, politik, dan militer atas semua Muslim di seluruh dunia, dan “Keabsahan semua keamiran, kelompok, negara, dan organisasi tidak diakui lagi setelah kekuasaan khilafah meluas dan pasukannya tiba di wilayah mereka.”  Islamic State ini dicap sebagai organisasi teroris oleh PBB, Uni Eropa dan negara-negara anggotanya, Amerika Serikat, India, Indonesia, Israel, Turki, Arab Saudi, Suriah, dan beberapa  negara-negara lain.

Tetapi di lain sisi, ketegasan IS menyatakn konsep sebagai negara Islam dengan hukum Islam (syareat) versi mereka telah berhasil menarik jihadis dari 100 negara dan menciptakan simpatisan, jauh melebihi apa yang diperoleh oleh Al-Qaeda. Maka berbondong-bondonglah aliran jihadis luar negeri bergabung ke Suriah dan Irak.

Para tokoh Muslim di seluruh dunia mengutuk ideologi dan aksi-aksi kelompok teroris Negara Islam ini,  yang menegaskan bahwa Islamic State   sudah melenceng jauh dari ajaran Islam yang sejati dan segala tindakannya tidak mencerminkan ajaran atau nilai-nilai  Islam.

Perkiraan Presiden Obama saat itu berbeda dengan analisis dari James Clapper (Director of National Intelligence) yang berfungsi sebagai penasehat utama Presiden, Dewan Keamanan Nasional, dan Dewan Keamanan Dalam Negeri tentang masalah-masalah intelijen berkaitan dengan keamanan nasional. Presiden Obama melihat bahwa IS akan terus melebarkan sayapnya dan akan mampu menyerang negara-negara di kawasan Timur Tengah baik dengan ideologi maupun semangat jihadnya. Clapper berpendapat bahwa pembinaan dan penguatan pasukan Irak dengan dukungan AS akan mampu mengalahkan kelompok teroris tersebut.

Basic Descriptive Intelligence (ISIS/Islamic State)

ISIS-Graduation-2
Kekuatan tempur utama ISIS adalah militansi pasukannya yang terlatih, kekuatan totalnya sempat mencapai 100.000 orang (Foto : bizpackreview)

            

Pada akhir tahun 2014, Islamic State menunjukkan perkembangan yang signifikan. Kekuatan jihadis (pasukan), diperkirakan sekitar 100.000 org, yang tersebar di Suriah 50.000 orang (termasuk 20.000 WNA dari Teluk Chechnya dan Eropa Barat). Kekuatan IS di  Irak 30.000 org (3.200 – 4.000 WNA). Sumber dana yang dimiliki  sekitar 95 % berasal dari  hasil pemerasan, penyelundupan minyak, uang tebusan, dan dari Bank-bank di Mosul,  sedang yang 5% berasal  dari negara-negara teluk. ISIS saat itu mampu menggalang kekuatan baik mereka dengan motif ideologis maupun motif ekonomi. Mereka kaya dengan perampokan dan penjualan minyah gelap dibawah harga pasar dunia.

Pada Juni 2014, ISIS mampu menguasai Provinsi Nineveh yang dihuni mayoritas umat Kristiani, kemudian mereka memungut pajak, dan mengusir warga yang menolak. ISIS kemudian menguasai sebagian besar wilayah Irak Utara dan Barat. ISIS juga mengkafirkan kelompok lain yang tidak sejalan dgn organisasi tersebut serta tidak mau berbai’at kepada  Amirnya,  Abu Bakar al- Baghdadi. Pada pertengahan Juni 2014, beberapa akun yang terafiliasi dengan ISIS men-tweet lebih dari 50 foto tentang eksekusi massa terhadap tentara Irak. Hal itu menjatuhkan moril pasukan Irak.

Pada 10 Juli 2014, ISIS menghancurkan tempat ibadah seperti masjid dan gereja di beberapa wilayah di Suriah dan Irak. ISIS pun diberitakan saat itu akan menghancurkan Ka’bah krn dinilai melenceng dari ajaran agama Islam. ISIS juga  menyerang sejumlah makam tua di Kota Mosul termasuk makam Nabi Yunus. Pada 3 Agustus 2014, ISIS menyerang Suku Yazidi (penganut kepercayaan Zoroaster) di Kota Sinjar, Irak Utara. Pada 20 Agustus 2014, ISIS mengunggah video eksekusi James Wright Foley (Wartawan Amerika Serikat). Pada 2 September 2014, ISIS mengunggah video eksekusi Steven Sotloff dan David Haines (Relawan Inggris).

The-media-strategy-of-the-Islamic-State-Online-ISIS-propaganda
Strategi media Islamic State, propaganda ISIS online (Foto :versiondaily)

                                 

ISIS menyebarkan pengaruhnya terutama melalui Video Propaganda pembelaan Umat Muslim di beberapa negara seperti Tiongkok, India, Palestina, Somalia, Jazirah Arab, Suriah, Mesir, Irak, Afghanistan, Philipina, Iran, Pakistan, Tunisia, Libia, Ajazair, Maroko dan Indonesia. ISIS disambut positif oleh beberapa kelompok militan seperti Hezb-e-Islami Afghanistan (HIA), Ansharut Tauhid fii Bilaad al-Hind India, East Turkistan Islamic Movement (ETIM). Di Indonesia ISIS mendapat dukungan dari kelompok Tauhid Wal Jihad (TWJ), Pengikut Abu Bakar Ba’asyir (JAT), MIT (Mujahidin Indonesia Timur) serta FAKSI (Forum Aktivis Syariat Islam).

Pada September 2014, Amerika Serikat dan negara-negara  Arab yang tergabung dalam koalisi global mulai melancarkan kampanye serangan udara terhadap kelompok  Islamic State (IS) di Suriah, dengan melibatkan sejumlah jet tempur dan pesawat pembom serta misil Tomahawk. Serangan itu menyasar sejumlah wilayah atau lokasi yang menjadi basis kekuatan IS, termasuk Kota Raqqa yang dijadikan markas pusat IS.

Pasukan Irak Merebut  Fallujah 

Pemerintah Irak telah melancarkan operasi militer untuk merebut kembali kota Fallujah, yang berada di bawah kendali dan kontrol militan Negara Islam (IS) selama lebih dari dua tahun. Kota, yang terletak 65 kilometer di Timur  Baghdad itu telah menjadi kubu jihadis lebih lama daripada kota-kota lain di Irak atau Suriah. Fallujah selama ini menjadi benteng terkuat kelompok IS. Pasukan bersenjata Irak mengklaim berhasil sepenuhnya menguasai kota Fallujah pada Minggu, 26 Juni 2016.  Operasi dimulai pada tanggal 22 Mei 2016, tiga bulan setelah pasukan Irak telah mulai melakukan pengepungan Fallujah.

shutterstock_324849629-1
Kota Fallujah saat di serang psukan Irak, di bom AU koalisi (foto : shutterstock)

                                

Brigadir Jenderal Haider al-Obeidi yang memimpin  operasi mengatakan kepada Associated Press bahwa dalam pertempuran di Fallujah, disampaikan sebanyak 2.500 gerilyawan IS telah tewas . Saat mengunjungi Fallujah, PM Irak Haider al-Abadi menyatakan di televisi, “Ini menggembirakan semua rakyat Irak dan hak semua penduduk Irak merayakan perebutan kembali Fallujah,” katanya.

Pada awal serangan, pasukan pemerintah Irak membombardir pusat kota Fallujah, kubu terakhir militan ISIS di provinsi Anbar. Kota-kota besar lainnya di Anbar, termasuk Ramadi, juga telah direbut kembali. Amerika Serikat dan koalisi memberikan dukungan Serangan Udara Langsung (SUL) dengan jet tempur dan pembom, pasukan AS memberikan latihan kepada dua brigade tempur dan memberikan bantuan peralatan kepada  pasukan  Irak. Namun pasukan darat AS tidak terlibat secara langsung baik dalam pertempuran darat maupun rencana operasional.

Juru bicara pasukan AS di Irak, Kapten Jeff Davis mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang pada akhirnya ditentukan oleh pasukan keamanan Irak, yang akan menentukan urutan dan daftar prioritas apa yang akan mereka kejar terlebih dahulu. Dan tentunya Fallujah menjadi prioritas. Islamic State  adalah musuh yang terpojok. Mereka memiliki kecenderungan untuk menyerang dengan cara asimetris di waktu dan lokasi di mana bila mereka menderita kerugian simetris di medan perang. Kita sudah melihat itu di Baghdad dan kita harus mempersiapkan dan waspada terhadap upaya serangan lanjutan seperti ini,” katanya.

a10
Dukungan Serangan Udara Pesawat Tempur AS menjadi penentu keberhasilan Serangan Darat, Pesawaqt tempur A-10 Warthog melakukan straffing (Foto : controversialtimes)

           

Selama penyerbuan dan perebutan Fallujah, kampanye  serangan udara baik dari AU Irak maupun AU koalisi yang dipimpin oleh USAF dinilai sukses dalam  memberikan dukungan kepada  pasukan darat Irak. Serangan udara koalisi membunuh semua militan IS yang mencoba melarikan diri dari Saqlawiyah di atas rakit. Menurut laporan, 70  teroris tewas selama penyerbuan Saqlawiyah, termasuk beberapa gerilyawan asing.

Pada tanggal 29 Juni, jet tempur Irak menyerang konvoi militan IS dan pendukung mereka yang melarikan diri dari  Fallujah. Angkatan udara Irak mengklaim bahwa sekitar 426 kendaraan yang membawa sekitar 2.000 militan berhasil dihancurkan. Sebagian besar militan terbunuh.

isis car destroy
Kampanye serangan Udara terhadap militan IS yang melarikan diri keluar Fallujah dihancurkan 200 kendaraan, 348 tewas (Foto : i24news)

  

Kemudian pada hari yang sama, Angkatan Udara AS melakukan serangan udara terhadap posisi IS di pinggiran Fallujah, yang mengakibatkan kematian sedikitnya 250 militan dan menghancurkan 40 kendaraan. Tercatat keseluruhan, 348 gerilyawan tewas dan lebih dari 200 kendaraan berhasil dihancurkan.

Sebelumnya para pejabat Eropa yang bertemu di Brussels, Senin (24/5/2016) menyatakan keyakinan bahwa tentara Irak sekarang mampu mengalahkan militan IS. Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond  mengatakan, “Kami melihat peningkatan kemampuan militer Irak dan kepercayaan diri yang tumbuh karena mereka sudah sukses berturut-turut. Mereka menyingkirkan ISIS dari lembah Efrat serta mempersiapkan tujuan jangka panjang untuk serangan di Mosul,” katanya.

Para pemimpin Eropa secara khusus ingin membebaskan Irak dan Suriah dari militan Islamic State karena kebrutalan kelompok itu telah memaksa jutaan orang melarikan diri, menyebabkan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perebutan Mosul (Ibu Dari Semua Pertempuran)

Setelah menguasai Fallujah, maka fokus selanjutnya pasukan Irak adalah kota Mosul. Walaupun sebenarnya serangan terhadap konsentrasi IS di Mosul sudah dimulai sejak April 2016, tetapi saat itu kekuatan militer Irak dan koalisi terpecah dalam perebutan Fallujah. Nah, kini mereka akan fokus untuk merebut Mosul yang dikatakan oleh Jenderal pasukan AS sebagai “Ibu dari semua pertempuran dengan IS di Irak.” Mosul adalah kota terbesar kedua Irak dan terbesar yang dikuasai oleh kelompok Islamic State.

islamic-states-recruits-yh-0742a_11b52add2c36ea4cf86d1e070f93ed07.nbcnews-ux-600-480
Para pendukung Islamic State di kota Mosul (foto : breakingnews)

                                        

Pada tahap pertama serangan  untuk merebut Mosul, pasukan Irak mendapat perlawanan sengit disekitar Mosul.  Sekitar 4.000 orang pasukan Irak mulai bergerak maju ke sejumlah desa sekitar 75 kilometer di Tenggara Mosul. Pasukan Kurdi atau Peshmerga mengatakan sebagian dari desa di kota Mosul itu telah dikosongkan.

Pasukan Peshmerga, mulai melakukan serangan dari arah  Timur, Utara dan Barat Mosul, sementara pasukan Irak bergerak dari arah Selatan. Pasukan penyerbu akan membersihkan militan IS dari kota-kota dan desa-desa di sekitarnya, sebelum memasuki Mosul. Ancaman serangan IS adalah  kombinasi yang biasa dilakukan kelompok teror, yaitu   penembak jitu, pengebom bunuh diri, bom mobil bunuh diri dan ribuan Improvised Explosive Devices (IEDs).

Jenderal Najat Ali  dari pasukan Peshmerga (Kurdi), mengatakan pasukan Irak telah berhasil merebut empat  desa tapi belum bisa menguasai seluruh daerah. “Mereka bergerak maju tapi ketika mencapai desa-desa itu militan IS menyerang mereka dengan serangan mematikan bom bunuh diri, tembakan mortir, dan senapan mesin. Pasukan Irak kemudian terhenti, dan tidak bisa bergerak maju,” katanya.

FATAH001
Operation Fatah, opsgab antara Iraqi Army dengan Peshmerga mengepung Mosul (Foto: militarybureau)

        

Operasi untuk merebut Mosul dilakukan dengan sandi Operation Conquest or Operation Fatah Mosul Ofensif (2016), merupakan bagian pada serangan yang berlangsung  di provinsi Niniwe, posisi IS di Mosul dan wilayah di sekitarnya. Serangan itu adalah operasi gabungan antara   pasukan pemerintah Irak dengan milisi sekutu, Irak Kurdistan, pasukan darat AS yang terbatas, dan dukungan serangan udara dari  pasukan koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Dua brigade pasukan  Irak dari Divisi ke-15 yang dilatih Amerika yang terlibat dalam penyerbuan itu adalah  anggota dari suku Sunni yang menurut para komandan Peshmerga penting untuk mempertahankan daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai militan Islamic State dari suku Sunni sejak 10 Juni 2014. Sebagian lainnya pasukan Irak adalah suku Syiah. Pasukan Irak, yang didukung oleh serangan udara yang dipimpin AU-AS, berhasil merebut kembali pangkalan udara Al-Qayyara yang dikuasai  IS dekat Mosul.

chlorin bomb
Bom Chlorin buatan Islamic State meledak di Irak (Foto : cbsnews)

                                          

Dalam mempertahankan Mosul, IS  dilaporkan telah mulai menggunakan laboratorium kimia dari Universitas Mosul untuk membuat bom. Pada tanggal 9 April, sedikitnya 30 militan ISIL tewas oleh serangan udara koalisi di Mosul. Pada 16 April 2016, serangan udara koalisi membunuh Imad Khalid Afar, seorang komandan IS senior/penasihat, dekat Rumah Sakit Salam. Pada tanggal 18 April, pasukan AS dan Peshmerga melakukan penggerebekan prominent target di Hamam Alil, Selatan Mosul, menewaskan 3 militan ISIL. Salah satunya adalah Salam Abd Shabib al-Jbouri, komandan militan IS di Mosul.

Pada tanggal 27 April, Angkatan Darat Irak berhasil merebut  Mahana, sebuah desa di wilayah Makhmour terletak sebelah tenggara dari Qayyarah. Pertempuran dan pemboman udara di Mahana mengakibatkan tewasnya   200 orang militan IS.  pada tanggal 29 April, Angkatan Darat Irak berhasil menggagalkan sebuah serangan balik IS di desa Mahana dan Khardan, menewaskan 91 militan IS.  Dalam pertempuran itu, seorang jihadis (perekrut) asal Australia, Neil Prakash, alias Abu Khaled al-Cambodi tewas dalam serangan udara AS di Mosul pada hari yang sama.

Pada tanggal 3 Mei, pukul 7:30 pagi waktu setempat, 125 militan IS dengan lebih dari 20 kendaraan menyerang posisi Peshmerga, dekat kota Tel Skuf, berjarak antara 28-30 km di Utara Mosul, di mana satu regu  pasukan AS bertindak sebagai penasehat . Sekitar 13 pesawat tempur dan pembom AS  yang terdiri dari F-15 F-16, A-10, B-52 dan 2 drone (pesawat tanpa awak)  melakukan  31 serangan udara yang menghancurkan 2 truk bermuatan bom dan juga bersama-sama pasukan koalisi menghalau serangan. Pertempuran terus selama 12 jam, tercatat 58 gerilyawan tewas, 3 sarang mortir dan 20 kendaraan mereka hancur.

bomber
Ilustrasi pesawat Pembom AS (USAF) B-1B Lancer melakukan pemboman, kemana akan sembunyi? (Foto : project.thestar)

        

Karena ketatnya perlawanan IS, Kolonel Steve Warren seorang perwira Angkatan Darat AS menyatakan bahwa Mosul sebagai salah satu operasi medan tempur yang  paling kompleks.  Sejak Desember 2015,  pesawat koalisi pimpinan AS melakukan serangan udara dengan sasaran  laboratorium roket klorin , gas klorin dan bahan beracun lainnya milik IS di desa al-Saawiya di Distrik Qayyara , dimana serangan udara  berhasil  menewaskan 30 militan IS yang berada di dalam laboratorium dan menghancurkan laboratorium tersebut.

Pada tanggal 7 Mei 2015, pesawat-pesawat koalisi AU melakukan serangan udara, menghancurkan stasiun bahan bakar IS di Selatan Mosul, menewaskan 17 militan IS. Pada tanggal 29 Mei, pasukan Peshmerga, yang terdiri dari 5.500 pejuang, yang didukung  serangan udara koalisi, berhasil merebut kembali al-Muftiyah dan Jim Kour yaitu kota di dekat Mosul. Antara tanggal  28-30 Mei 2016, pasukan Peshmerga merebut kembali 9 desa di sebelah tenggara Mosul, termasuk Mufti, Tulaband, Shuqali dan Wardak.

Pada 25 Juni 2016, empat anggota pasukan Peshmerga dan 140 militan IS tewas dalam pertempuran. Dilaporkan terdapat dua orang  komandan senior kelompok Negara Islam yang tewas dalam serangan udara AS di Mosul. Pentagon mengungkapkan, serangan udara juga telah  membunuh wakil menteri perang IS yang bernama Basim Muhammad Ahmad Sultan al-Bajari, dan seorang komandan militer, Hatim Thalib al-Hamduni. Al-Bajari yang patut diduga bertanggung jawab mengorganisir serangan gas mustard dan pemimpin pengambilalihan Mosul pada tahun 2014.

ashton_carter_obama_sec_defense_nomination_120514_1000x667
Menhan Amerika Serikat, Ashton Carter bersama Presiden Barack Obama (Foto:aei)

                        

Ashton B. Carter, Menteri Pertahanan Amerika, mengumumkan pada hari Senin (11/7/2016)  dalam perjalanan menuju  Baghdad bahwa Amerika Serikat akan mengambil langkah-langkah baru untuk membantu Irak merebut kembali Mosul dari Negara Islam. AS mulai mengirimkan kembali pasukan, setelah menghentikannya pada 2011, khususnya setelah Islamic State berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak. Presiden Obama pada akhirnya menyetujui mengirimkan pasukan darat AS ke Irak dalam jumlah terbatas, karena keinginannya menyerahkan Irak yang bebas dari Islamic State kepada penggantinya. Menurut beberapa sumber terdapat sebanyak 4.647 militer AS kini bertugas di Irak.

Konsep Strategi Baru Islamic State Apabila Kekhalifahan Gagal

Mengacu perkembangan pertempuran di Fallujah dimana pasukan darat Irak yang beroperasi dengan pasukan Kurdi Peshmerga, dan didukung kekuatan udara Irak serta AU koalisi pimpinan AS, maka Mosul bisa diperkirakan juga akan jatuh pada bulan-bulan mendatang. Titik lemah dan yang merupakan kerawanan kelompok Islamic State karena kelompok teroris ini tidak memiliki Pertahanan Udara dan sekaligus tidak memiliki Alutsista udara. Mereka hanya bertumpu dan mengandalkan militan tempur darat dengan pola serangan aksi teror dan pasukan yang siap mati (berjihad).

Memang mereka hanya kelompok teroris yang tidak memerlukan AU, tetapi dengan klaim sebagai sebuah state, dengan wilayah kekuasaan yang cukup luas, menguasai beberapa lapangan udara, kenihilan unsur udara adalah titik rawannya yang kini di eksploitir oleh perencana serbuan. Disinilah penulis sepakat dengan Director of National Intelligence (AS) James Clapper yang purnawirawan AU, bahwa pasukan Darat Irak akan mampu menyerang dan melumpuhkan IS dengan dukungan kampanye udara. Konsep serupa pernah dilakukan CIA saat memberikan dukungan udara kepada para pmberontak di Lybia. Pasukan Darat loyalis Khadafi tidak berdaya setelah berigade Tank dihancurkan oleh USAF.

Terkait dengan sikon terkini di Irak, dalam pesannya baru-baru ini di media, pemimpin Islamic State mengakui menurunnya kemampuan organisasi teror di medan perang. Ini merupakan signal yang menguatkan kemungkinan benteng terkuatnya yang tersisa (Mosul) akan jatuh.

al-adnani
Abu Muhammed al-Adnani, Juru Bicara Islamic State (Foto : activist1)

                                     

Setelah bertahun-tahun membual tak terkalahkan, pemimpin seperti Abu Muhammad al-Adnani (juru bicara IS) mulai mengakui kerugiannya di medan perang. Para pemimpin IS mengakui adanya kesalahan strategis dan taktis terhadap kondisi Negara Islam saat ini. Mereka hanya berjuang sendiri dan hanya didukung jihadis manca negara, yang harus melawan array yang luas dari kekuatan besar dari  koalisi Barat, Arab Sunni, Muslim Syiah, Rusia dan Kurdi. (McCants, Brooking Institute).

Al-Adnani,  pada bulan Mei 2016 menyerukan kepada simpatisan dan sel IS di mancanegara untuk melakukan serangan kampanye terorisme global pada bulan Ramadhan. Dikatakan oleh Adnani, “Apakah kami dikalahkan ketika kehilangan kota di Irak dan di padang pasir tanpa kota atau tanah? Dan akankah kami dikalahkan dan Anda menang jika Anda mengambil Mosul, Sirte atau Raqqa, atau bahkan mengambil semua kota?” “Tentu tidak!”tegasnya. Dilain sisi para analis intelijen menilai, Adnani  terlihat menyiapkan kondisi akan kekalahan perang

Ditegaskan oleh al-Adnani, “Sementara  struktur inti kami di Irak dan Suriah diserang, kami telah mampu memperluas dan telah menggeser beberapa perintah melalui media dan struktur kekayaan ke negara-negara yang berbeda. Dari sanalah akan dilakukan serangan”.

Terjadinya serangan pada bulan Ramadhan yang mematikan terhadap Istanbul Ataturk Airport dan distrik perbelanjaan Karrada, Baghdad serta teror di Orlando, granat di Malaysia dan bom di Solo memang merupakan bentuk teror, tetapi juga merupakan pembalikan terhadap situasi tekanan militer di Irak dan Suriah.  Adnani nampaknya mempersiapkan bahwa kemunduran militer IS telah memaksa IS melakukan perubahan strategi. Penulis setuju dengan pendapat  McCants, di satu sisi serangan teror di luar negeri merupakan indikasi kekhawatiran yang mendalam di home base IS.

teror-truk-di-nice-perancis_20160715_110628
Teror truk yang menabrak kerumunan orang di Nice saat perayaan Bastille (Foto:banjarmasin.tribunnews)

       

Tetapi mereka benar-benar mencoba untuk mempersiapkan pengikut mereka untuk mengatasi kelemahan dan kegagalan dengan ‘khalifah’ yang tidak lagi merupakan sebuah kekhalifahan. Yang dikatakan al-Adnani mulai dibuktikan, “Berupa pesan ke semua anggota koalisi yang melawan kami. Kami tidak akan lupa, dan kami akan datang ke negara Anda dan memukul Anda, dengan satu cara atau cara lain yang menakutkan.”

Abu Muhammad al-Adnani selanjutnya menyebarkan pesan melalui media, mengatakan dalam sebuah rekaman yang dirilis tanggal 21 Mei 2016, “Jangan repot-repot datang ke Suriah karena tindakan terkecil yang Anda lakukan di jantung mereka lebih baik dan lebih kekal kepada kita dari apa yang Anda lakukan jika Anda berada dengan kami.” Pejabat kontra teror Perancis menyatakan, “Mereka sekarang akan memperluas ke taktik lain dan mulai melaksanakan ops jauh lebih berbahaya dan rahasia, di kota-kota besar,” katanya.

Prediksi itu terbukti,  kembali Perancis diserang aksi teror, pada peristiwa hari Kamis (14/7/2016) malam, saat sebuah truk trailer menubruk kumpulan warga Perancis di Nice saat mengikuti perayaan hari Bastiles. Korban tewas mencapai 87 jiwa (bisa lebih) dan yang luka-luka diatas 150 orang. Pelaku tewas ditembak polisi. Serangan itu bukan bom dan tembakan, tetapi menabrakkan mobil ke kerumunan manusia. Jelas ini akan menginspirasi karena  merupakan teror yang mudah di copy.

john_brennan001_16x9
Direktur CIA (Central Intelligence Agency), Joh Brennan (Foto : brokings)

                                     

Direktur CIA John Brennan dalam wawancara dengan media al-Arabiya beberapa hari sebelum penembakan di Orlando menyatakan, “Negara-negara di seluruh dunia harus khawatir tentang potensi individu atau kelompok individu untuk bertindak sendiri, tanpa kontak langsung dengan teroris terorganisir atau kelompok.” Kemudian terjadi serangan yang dilakukan oleh WN Amerika, Omar Mateen di Orlando yang menewaskan 49 orang  dan  melukai 53 orang, ini merupakan bukti serangan IS yang mendapat rilis dari Raqqa. Mateen terbukti menyatakan kesetiaan (ber ba’iat) kepada pimpinan Islamic State Abu Bakr al Baghdadi.

Kesimpulan

Kelompok Teror Islamic State di Irak dan Suriah kini berhasil ditekan oleh pasukan gabungan baik Irak, Suriah, Rusia, Kurdi dan negara-negara koalisi pimpinan AS. Setelah kota-kota penting seperti Ramadi dan Fallujah jatuh, kini pertahanan dan benteng terakhir IS adalah Mosul.

Penulis memperkirakan Mosul juga akan  jatuh seperti Fallujah dan berarti kekuasaan ke wilayahan Islamic State akan berakhir. Mereka seperti penulis katakan sebelumnya memiliki kelemahan dalam penilaian intelijen sebagai bentuk kerawanan atas ketidak mampuannya mengatasi gempuran udara dengan teknologi tinggi. Bom pintar, penyadapan dan penyerangan senyap dengan drones akan dengan mudah menghancurkan pusat-pusat militer Islamic State dan membunuh militan IS dalam jumlah banyak , yang tidak mampu mereka tangkal .

Nah, apakah dengan akan jatuhnya Mosul kemudian masalah terorisme menjadi selesai? Nampaknya belum, justru akan ada babak baru. Mereka akan memanfaatkan dan mengaktifkan sel-sel teror di banyak negara, disamping para militan terlatih, terdoktrin yang selama ini bergabung di Suriah dan Irak  akan kembali ke negaranya masing-masing. Oleh karena itu, perang teror diperkirakan akan bergeser ke tiga benua dan banyak negara yang akan merasa tidak nyaman dan aman seperti Perancis masa kini.

Khusus bagi Indonesia, monitoring intelijen sebaiknya harus bersiap mengantisipasi prediksi ancaman terorisme yang makin berkembang. Ancaman teror global dipastikan akan berlangsung apabila kekhalifahan mereka runtuh. Langkah deradikalisasi harus semakin berjalan, revisi UU anti terorisme Nr : 15/2003 harus cepat diselesaikan. Monitoring sel teror terutama bagi mereka yang baru kembali dari Timur Tengah harus lebih fokus.

BNPT-Densus-88-BIN
Densus, BIN dan BNPT akan mendapat tantangan berat pada masa-masa mendatang dalam menghadapi terorisme (Foto :islamedia)

       

Tidak ada pilihan lain, rakyat harus faham dan waspada serta dilibatkan. Bom Thamrin dan Solo hanya low eksplosive, kapabilitasnya rendah, tetapi itu adalah bukti adanya aksi sel Islamic State di Indonesia. Jelas kita tidak ingin seperti Perancis, yang tidak tenang di negaranya sendiri. Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Polri, Densus, BIN dan BNPT serta beberapa instansi terkait.  Nilai positif kontra teror Indonesia adalah dengan dilantiknya Jenderal Pol Tito Karnavian (sebagai pejabat yang sangat faham soal terorisme) menjadi Kapolri.  Semoga bermanfaat.