Medan – Suasana Ramadan di SMA Negeri 2 Medan atau yang akrab disapa Smandu, tidak hanya diisi kegiatan ibadah, tetapi juga penguatan nilai toleransi antarumat beragama di lingkungan sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Naomi Damanik, menegaskan bulan suci ini dimanfaatkan sebagai momentum mempererat rasa saling menghormati di antara siswa dan guru.
“Yang kita harapkan, ini menjadi momen bagi seluruh warga Smandu untuk semakin meningkatkan toleransi,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Selama Ramadan, siswa Muslim mengikuti Pesantren Kilat Ramadan (PKR), sementara siswa Kristen menjalani kegiatan pendalaman Alkitab. Kegiatan berlangsung paralel dengan tetap menjaga kebersamaan dan suasana kondusif di sekolah.
Sikap saling menghormati juga terlihat dalam pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski siswa non-Muslim tidak berpuasa, sekolah memutuskan pembagian MBG dilakukan saat jam pulang.
“Walaupun yang Kristen tidak puasa, demi menghormati teman-teman yang berpuasa, MBG dibagikan saat pulang sekolah. Jadi tetap kondusif,” jelas Naomi.
Antusiasme siswa pun terasa. Lady Shyaqilla, siswi kelas X, mengaku kegiatan keagamaan selama Ramadan justru membuat suasana sekolah lebih menyenangkan.
“Lumayan semangat masuk sekolah. Karena ada kegiatan keagamaan, jadi nggak stres belajar. Bisa refreshing tapi tetap ketemu teman-teman,” katanya.
Selain beribadah, siswa mengikuti renungan, bernyanyi bersama, pendalaman Alkitab, hingga latihan kepemimpinan. Lady berharap suasana toleransi yang sudah terbangun di sekolah bisa terus dijaga.
“Puji Tuhan di sini nggak ada perundungan. Harapannya, toleransi agama di Indonesia semakin erat, dimulai dari sekolah kita,” ujarnya.
Dari sisi akademik, terdapat sejumlah penyesuaian jadwal. Apel pagi dan upacara sementara ditiadakan. Jam belajar tetap dimulai pukul 07.15 WIB hingga 14.15 WIB, namun durasi mata pelajaran dipersingkat dari 45 menit menjadi 40 menit.
Waktu istirahat pun disesuaikan menjadi 50 menit. Naomi menyebut pola ini hampir sama dengan tahun sebelumnya, hanya sistem PKR yang berbeda.
Jika sebelumnya pesantren kilat dilaksanakan dengan sistem menginap dua malam tiga hari, tahun ini kegiatan berlangsung tanpa menginap. Siswa tetap datang dan pulang sesuai jadwal reguler.
PKR dijadwalkan berakhir Rabu dan ditutup dengan buka puasa bersama di sekolah. Sementara itu, siswa kelas X dan XI akan menghadapi Penilaian Tengah Semester, sedangkan kelas XII bersiap untuk Penilaian Akhir Semester pekan depan.
“Kegiatan belajar mengajar berakhir 13 Maret dan sekolah kembali masuk 30 Maret setelah libur,” tutup Naomi.
Di tengah rutinitas akademik, Ramadan di Smandu menjadi lebih dari sekadar penyesuaian jadwal. Ia menjelma ruang pembelajaran karakter—tentang empati, penghormatan, dan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!