Sinergi Korem 084/Bhaskara Jaya dan GMNI Surabaya Tutup Ruang Infiltrasi Radikalisme Kampus

Surabaya – Jaringan ekstremis dan kelompok intoleran kerap membidik basis akademis serta generasi muda sebagai ladang subur penyebaran doktrinasi manipulatif mereka. Menyadari adanya potensi ancaman terselubung tersebut, Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Kohir, mengambil langkah taktis proaktif dengan menerima audiensi jajaran pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Surabaya di Lobi Makorem pada Senin, 8 Juni 2026.

Pertemuan strategis yang berlangsung hangat dan sarat semangat kebangsaan ini bukan sekadar silaturahmi formal antara aparat keamanan dan kelompok aktivis, melainkan sebuah konsolidasi ideologis yang sangat krusial. Fokus utama dari dialog ini adalah membentengi dunia kampus dari bahaya radikalisme, memperkokoh wawasan kebangsaan, serta menyelaraskan visi pemuda dalam menjaga iklim demokrasi yang sehat tanpa terjebak dalam aksi anarkis yang rawan ditunggangi oleh oknum pemecah belah bangsa.

Sebagai institusi komando teritorial, Korem 084/Bhaskara Jaya memandang bahwa ketahanan non-militer di kalangan mahasiswa merupakan instrumen terpenting dalam menangkal radikalisme sebelum termaterialisasi menjadi aksi teror. Brigjen TNI Kohir secara gamblang menguraikan bagaimana kaum muda harus menempatkan nalar kritis mereka sebagai penyaring utama dari doktrin anti-kemajemukan.

“Saya secara pribadi menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif dari rekan-rekan GMNI Surabaya yang terus aktif membangun komunikasi dan kolaborasi konstruktif dengan kami di jajaran TNI,” tegas Kohir saat membuka arahannya. Beliau menilai bahwa idealisme mahasiswa tidak boleh sampai dieksploitasi oleh kelompok radikal yang menghendaki polarisasi sosial. 

“Bagi saya, mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis sebagai agen perubahan sekaligus kontrol sosial di tengah masyarakat. Namun, saya juga harus mengingatkan bahwa kaum intelektual saat ini menjadi target utama dari kelompok ekstremis yang lihai memanipulasi keresahan sosial anak muda. Oleh karena itu, saya sangat berharap GMNI dapat terus menyuarakan kritik yang objektif, konstruktif, dan berbasis solusi nyata. Saya percaya bahwa kritik yang disampaikan dengan cara yang baik dan konstitusional akan menjadi energi positif bagi pembangunan nasional, sekaligus membantu kami dalam menjaga stabilitas politik demi kesejahteraan rakyat dari rongrongan paham intoleran,” jelasnya.

Merespons pandangan tersebut, jajaran pengurus DPC GMNI Surabaya yang dipimpin oleh sang Ketua, Alfito, bersama Razaq Ramadhan (Sekretaris), Fajar Kharisma (Bendahara), dan Fajar Soleh (Kabid Organisasi), menegaskan bahwa asas nasionalisme yang mereka pegang adalah musuh alami dari segala bentuk radikalisme keagamaan maupun politik. GMNI sebagai organisasi ekstra-kampus terbesar berkomitmen untuk terus menjaga agar mimbar akademik tetap bersih dari narasi kebencian.

“Kami di jajaran GMNI Surabaya memiliki komitmen sejarah yang tidak akan pernah goyah untuk terus mencetak kader-kader pejuang pemikir yang berjiwa nasionalis sejati,” ujar Alfito dengan penuh optimisme. Beliau menambahkan bahwa frustasi sosial di kalangan pemuda harus dikanalisasi melalui jalur demokrasi yang sehat agar tidak bertransformasi menjadi anarkisme yang destruktif. 

“Saya melihat bahwa ruang-ruang demonstrasi belakangan ini sangat rawan disusupi oleh aktor-aktor intoleran yang hanya ingin menciptakan kekacauan demi mendelegitimasi negara. Oleh sebab itu, saya memastikan bahwa kami akan selalu menyalurkan aspirasi masyarakat secara tertib, damai, dan sesuai koridor hukum yang berlaku. Saya tidak ingin idealisme mahasiswa dijadikan alat tunggangan oleh jaringan radikal, dan bagi saya, sinergi bersama Korem 084 ini merupakan bukti nyata bahwa elemen pemuda nasionalis dan TNI siap berdiri bersama menjaga keutuhan NKRI,” jelas Alfito mempertegas sikap organisasinya.

Audiensi strategis ini ditutup dengan kesepakatan bersama untuk memperbanyak ruang dialog wawasan kebangsaan di lingkungan kampus, guna mengisolasi ruang gerak sel-sel radikal dan memastikan Surabaya tetap menjadi kota yang inklusif, aman, serta toleran bagi seluruh komponen bangsa.