Serangan di London Picu Status “Severe”, Inggris Tingkatkan Kewaspadaan Teror

Jakarta – Pemerintah Inggris menaikkan tingkat ancaman terorisme ke level “severe” atau parah, menyusul insiden penusukan di kawasan Golders Green, London utara, yang telah ditetapkan sebagai aksi terorisme.

Serangan terjadi pada Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 11.15 waktu setempat. Seorang pria bersenjata pisau menyerang warga di dua lokasi berbeda di sekitar Highfield Avenue dan halte bus terdekat. Dua korban, masing-masing berusia 34 tahun dan 76 tahun, mengalami luka akibat serangan tersebut.

Aparat kepolisian bergerak cepat dan menangkap pelaku berusia 45 tahun di lokasi kejadian. Pelaku sempat mencoba menyerang petugas sebelum akhirnya dilumpuhkan menggunakan taser. Penanganan kasus kemudian diambil alih oleh unit antiterorisme setelah indikasi kuat bahwa serangan menargetkan komunitas Yahudi.

Sejumlah laporan media menyebut pelaku memiliki riwayat kekerasan dan masalah kesehatan mental, serta pernah masuk dalam program pencegahan radikalisasi pemerintah.

Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, menyatakan peningkatan status ancaman dilakukan berdasarkan analisis intelijen yang menunjukkan potensi serangan lanjutan. Level “severe” menandakan serangan teror dinilai sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Penetapan status ini dilakukan oleh Joint Terrorism Analysis Centre (JTAC) di bawah koordinasi MI5, dengan mempertimbangkan data intelijen, tren ancaman, serta evaluasi risiko.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah meningkatkan pengamanan di berbagai titik strategis, termasuk fasilitas komunitas Yahudi seperti sinagoga dan sekolah, serta ruang publik seperti stasiun transportasi dan pusat perbelanjaan. Patroli bersenjata dan pengawasan juga diperketat.

Meski status ancaman meningkat, pemerintah menegaskan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. Warga diimbau tetap waspada dan segera melaporkan aktivitas mencurigakan sebagai bagian dari sistem keamanan berbasis partisipasi publik.

Insiden ini kembali menyoroti pola ancaman “lone wolf” yang semakin dominan di Eropa. Pelaku bertindak sendiri, menggunakan senjata sederhana seperti pisau, namun mampu menimbulkan dampak besar dan sulit dideteksi lebih awal.

Model serangan ini dinilai menjadi tantangan baru bagi aparat keamanan, karena tidak melibatkan jaringan terorganisasi yang mudah dilacak. Dalam kondisi ini, kewaspadaan masyarakat menjadi elemen penting dalam pencegahan.

Kenaikan status ke level “severe” tidak hanya menjadi indikator ancaman, tetapi juga sinyal kesiapsiagaan nasional. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara peningkatan keamanan dan kebebasan sipil di tengah dinamika ancaman terorisme modern yang semakin kompleks.