Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memulai safari Ramadan perdananya di Masjid Lautze, Sawah Besar, Sabtu (21/2/2026). Masjid yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa itu menjadi simbol keberagaman yang menyatu dalam kehidupan ibu kota.
Dalam sambutannya, Rano menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang telah ia terima sejak kecil dari lingkungan keluarga. Ia mengaku dibesarkan dalam suasana yang mengajarkannya hidup berdampingan di tengah perbedaan.
“Toleransi agama itu salah satu fondasi pengajaran dari orang tua. Dari kecil saya sudah diajarkan hidup dalam perbedaan,” ujarnya.
Di hadapan jamaah, Rano juga menyinggung sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang membesarkan namanya. Menurutnya, kisah dalam tayangan tersebut secara tidak langsung memotret wajah Jakarta yang majemuk—beragam karakter dengan latar belakang berbeda hidup rukun tanpa mempersoalkan identitas agama.
“Kalau nonton Si Doel ada Ahong, ada Idung Gede, ada Sarah. Kita enggak pernah tahu agamanya apa, yang penting kita bangsa Indonesia,” katanya.
Bagi Rano, pesan kebersamaan yang tergambar dalam cerita kampung di Si Doel merupakan cerminan pendidikan sosial masyarakat Jakarta sejak dulu. Ia berharap semangat yang sama terus tumbuh, terutama di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.
Selain itu, Rano turut berbagi kisah perjalanan pendidikannya yang ditempuh di sekolah Katolik, yakni di Strada Van Lith dan SMA Negeri 6 Jakarta. Pengalaman tersebut, menurutnya, semakin memperkaya pemahaman tentang pentingnya saling menghormati antarumat beragama.
“Sejak kecil sampai SMA saya sekolah di Katolik. Enggak pernah kebayang bisa jadi orang pemerintahan,” tuturnya.
Safari Ramadan perdana ini bukan hanya agenda silaturahmi, tetapi juga menjadi penegasan bahwa Jakarta dibangun di atas fondasi keberagaman. Dari Masjid Lautze, pesan toleransi kembali digaungkan sebagai modal utama menjaga harmoni ibu kota.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!