Surabaya – Hujan yang turun deras di kawasan GOR Hayam Wuruk, Minggu (22/2/2026) sore, tak menghalangi semangat puluhan anggota Asosiasi Masyarakat India Surabaya untuk menebar kebaikan. Sejak pukul 16.00 WIB, mereka telah bersiap membagikan ratusan paket nasi kotak kepada para pengguna jalan yang melintas.
Namun lebih dari sekadar berbagi takjil, kegiatan ini menjadi simbol nyata praktik toleransi di ruang publik. Di tengah mayoritas anggota komunitas yang bukan Muslim, semangat untuk ikut menyemarakkan Ramadan justru menjadi jembatan kebersamaan lintas keyakinan.
Tanpa membedakan latar belakang penerima, nasi kotak dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan untuk berbuka puasa. Senyum dan sapaan hangat menjadi pelengkap di antara rintik hujan yang tak kunjung reda.
Presiden Asosiasi Masyarakat India Surabaya, Minakshi Srivastava, mengatakan aksi sosial tersebut merupakan agenda rutin setiap Ramadan. Baginya, berbagi di bulan suci bukan semata kegiatan seremonial, melainkan wujud penghormatan terhadap nilai kemanusiaan yang universal.
Ia menuturkan, tradisi berbagi makanan saat momen keagamaan juga hidup di negara asal mereka. Nilai itulah yang ingin terus dirawat di Indonesia, khususnya di Surabaya, kota yang dikenal dengan keberagamannya.
“Kami percaya bahwa berbagi tidak dibatasi oleh perbedaan keyakinan. Ramadan adalah momentum yang indah untuk menunjukkan bahwa kebersamaan bisa tumbuh di atas keberagaman,” ujarnya.
Sementara itu, anggota asosiasi Albert Singh menambahkan bahwa komunitas warga India di Surabaya telah lama menjadikan kegiatan sosial sebagai bagian dari identitas mereka. Melalui aksi seperti ini, mereka ingin berbagi rezeki dari usaha yang dijalankan di kota tersebut kepada masyarakat, terutama umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.
Ia memastikan kegiatan sosial serupa akan terus dilakukan ke depan sebagai bentuk kontribusi nyata komunitas terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan, aksi kecil di bawah guyuran hujan ini menjadi pengingat bahwa toleransi tidak hanya berhenti pada wacana. Ia hidup dalam tindakan—sederhana, tulus, dan menyentuh.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!