Reresik Pesantren Sambut Hari Santri 2026, Sleman Perkuat Toleransi dan Cegah Radikalisme

YOGYAKARTA – Menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Sleman bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman memperkuat upaya merawat toleransi melalui aksi nyata di lingkungan pondok pesantren. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Reresik Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Anwar Futuhiyyah, Tempel, yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN), penyuluh agama, dan tokoh lintas iman.

Kegiatan gotong royong ini tidak sekadar bertujuan menjaga kebersihan lingkungan pesantren. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan lintas agama untuk memperkuat kebersamaan, menumbuhkan sikap saling menghormati, serta membangun ketahanan masyarakat terhadap intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, H. Nadhif, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu berjalan beriringan dengan komitmen menjaga kerukunan dan menghargai keberagaman.

“Saya menegaskan bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. Semangat gotong royong harus terus kita hidupkan, disertai komitmen kuat untuk menjaga kerukunan serta menghormati keberagaman sebagai modal utama membangun masyarakat yang damai, harmonis, dan terbebas dari ancaman ideologi ekstremis,” ujar Nadhif saat memberikan arahan di lokasi kegiatan.

Melalui kegiatan tersebut, Kankemenag Sleman dan FKUB berupaya menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk bekerja sama dalam kepentingan bersama. Interaksi langsung dalam kegiatan sosial diharapkan dapat memperkuat kepercayaan antarkelompok masyarakat sekaligus menangkal narasi eksklusif yang berpotensi memecah belah persatuan.

Pendekatan ini menjadi penting karena upaya mencegah radikalisme tidak cukup hanya dilakukan melalui penegakan hukum. Penguatan toleransi, pendidikan karakter, dan keterlibatan masyarakat juga diperlukan agar nilai kebangsaan dan penghormatan terhadap perbedaan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Nadhif menekankan, peringatan HSN 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, bukan berhenti pada kegiatan seremonial.

“Saya berharap sesuai dengan tema HSN 2026 ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas’, peringatan ini tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial belaka. Kita harus mewujudkannya melalui tindakan nyata sehari-hari yang merawat toleransi. Rangkaian Reresik Pesantren ini diselenggarakan di beberapa titik, termasuk Pondok Pesantren Ash Sholihah, Anwar Futuhiyyah Tempel, dan Al-Ikhlas Berbah,” katanya.

Selain mengembangkan kepedulian sosial melalui kegiatan kebersihan lingkungan, Kankemenag Sleman juga memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda melalui Program Bimbingan Remaja Usia Sekolah. Program ini diarahkan untuk membangun pemahaman keagamaan yang moderat, wawasan kebangsaan, serta kecakapan emosional agar para santri mampu menghadapi berbagai tantangan sosial dan informasi yang berkembang di lingkungan mereka.

Program tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Ash Sholihah Mlati, Al-Fitroh Wahid Hasyim Depok, dan Al-Ikhlas Berbah. Melalui kegiatan edukasi yang berkelanjutan, para santri diharapkan memiliki bekal yang memadai untuk menyikapi perbedaan pandangan, menyaring informasi, serta mengenali ajaran yang mendorong kebencian dan kekerasan.

Penguatan ketahanan generasi muda juga dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi dan pengembangan kreativitas santri. Kemandirian ekonomi dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam menyiapkan generasi muda yang produktif, percaya diri, dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi positif bagi masyarakat.

Dalam rangkaian HSN 2026, Kankemenag Sleman menggelar Lomba Video Kegiatan Pesantren pada 10–20 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan tersebut akan mencapai puncaknya melalui Upacara dan Kirab Santri pada 22 Oktober 2026 di Lapangan Pemda Sleman.

Kankemenag Sleman juga meluncurkan Program Santri Preneur 2026 untuk mendorong kreativitas dan kemandirian ekonomi di kalangan santri.

“Kami menggelar Lomba Video Kegiatan Pesantren sejak tanggal 10 hingga 20 Oktober, yang akan dipuncaki dengan Upacara dan Kirab Santri pada 22 Oktober di Lapangan Pemda Sleman. Tidak kalah penting, kami juga meluncurkan Program Santri Preneur 2026 untuk mendorong kreativitas dan kemandirian ekonomi santri agar mereka menjadi generasi berdaya yang tidak mudah tergiur oleh rekrutmen kelompok teroris,” ujar Nadhif.

Kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan tokoh lintas agama tersebut memperlihatkan bahwa pemeliharaan kerukunan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan karakter, penguatan kepedulian sosial, dan penanaman nilai kebangsaan.

Di tengah tantangan penyebaran paham intoleran dan radikal, penguatan lingkungan pendidikan yang terbuka, dialogis, serta menghargai keberagaman menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Santri perlu dibekali pemahaman agama yang mendalam sekaligus kemampuan untuk hidup berdampingan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

Nadhif berharap seluruh rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional dapat mendorong santri di Kabupaten Sleman semakin aktif menjaga lingkungan, merawat toleransi, dan memperkuat persatuan bangsa.

“Para santri harus peduli terhadap lingkungan, serta senantiasa menjunjung tinggi nilai toleransi dan persatuan bangsa. Ketika rasa saling menghormati sudah mengakar di benak santri, ideologi radikalisme dan terorisme tidak akan pernah mendapatkan ruang untuk tumbuh di bumi Nusantara,” pungkasnya.