Jakarta – Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan peristiwa peledakan SMA 72 Jakarta Utara, yang salah satu sebabnya karena terinspirasi oleh pergerakan white supremacist dari Barat. Sebagai salah satu pemahaman yang berbahaya, radikalisme sayap kanan bisa dikatakan adalah dampak dari lemahnya penanaman wawasan kebangsaan secara komprehensif.
Belakangan ini, di beberapa negara seperti Jerman, Prancis, dan Belanda, ketegangan antara populasi lokal dan imigran Muslim kembali meningkat. Kelompok sayap kanan ekstrem menggunakan narasi “benturan peradaban” untuk menyerang simbol-simbol Islam, yang kemudian dibalas dengan narasi radikal oleh kelompok ekstremis di sisi lain. Hal ini jelas tidak menguntungkan bagi pihak manapun yang terlibat, dan semakin memperparah segregasi kelompok masyarakat di Eropa.
Far-Right politics menjadi alat yang dipilih untuk menyatukan masyarakat dengan dasar punya “musuh bersama” (common enemy), yang utamanya adalah kaum imigran yang secara etnis dan agamis berbeda dengan mayoritas bangsa Eropa. Walaupun demikian, banyak pihak mencurigai penggunaan “arus kanan” dalam politik hanyalah kamuflase untuk menutupi kegagalan para pejabat dalam mensejahterakan rakyatnya.
Para politisi pendukung gerakan arus kanan merasa perlu menciptakan “musuh bersama” untuk memindahkan perhatian masyarakatnya, dari kegagalan para “punggawa” sebagai penyebab menurunnya kualitas hidup, kepada para imigran yang dilabeli sebagai pembawa pengaruh buruk dan kesialan.
Data resmi menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2024 hingga awal 2026, terjadi pergeseran signifikan dalam peta politik global. Hal ini ditandai dengan partai-partai bernarasi nasionalisme radikal, anti-imigran, dan proteksionisme (arus sayap kanan) memperoleh kemenangan elektoral yang besar.
Berikut adalah beberapa ringkasan kejadian dan tren yang menggambarkan membesarnya gelombang arus kanan di Eropa:
Belanda (Partai PVV): Geert Wilders, yang dikenal dengan retorika anti-Islam yang keras, memenangkan kursi terbanyak di parlemen Belanda. Hal ini menandai pergeseran besar di negara yang secara tradisional dikenal paling liberal di dunia.
Prancis (Rassemblement National – RN): Partai pimpinan Marine Le Pen terus mendominasi jajak pendapat dan meraih kursi signifikan di Parlemen Eropa, memberikan tekanan besar pada pemerintahan moderat Emmanuel Macron.
Jerman (AfD – Alternative für Deutschland): Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, partai sayap kanan Jerman meraih suara besar di negara-negara bagian Timur, meskipun di bawah pengawasan ketat intelijen karena potensi ekstremisme.
Hungaria & Italia: Viktor Orbán (Hungaria) dan Giorgia Meloni (Italia) terus memperkuat blok konservatif di Uni Eropa yang sering kali membenturkan “Nilai-nilai Kristen Eropa” dengan pengaruh luar/imigran.
Fenomena semacam ini seharusnya meneguhkan bangsa Indonesia untuk bisa menghargai dan mensyukuri lahirnya Pancasila sebagai landasan bernegara. Kehadiran Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah berhasil menghindarkan Indonesia dari implementasi prinsip nasionalisme secara sempit dan justru memicu perpecahan di antara warga negaranya.
Tidak hanya persoalan keragaman suku dan bangsa, Pancasila juga hadir memberikan aspek inklusivitas dalam memeluk keyakinan bagi rakyat Indonesia. Hal ini termaktub dalam UUD 1945 pasal 29, yang pada ayat 2 berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Ayat ini adalah janji negara untuk melindungi hak setiap warga dalam beragama tanpa diskriminasi.
Jika di Eropa warganya sering dipertontonkan bagaimana nasionalisme sering dibenturkan dengan identitas keagamaan hingga memicu kerusuhan, maka Indonesia melalui penanaman wawasan kebangsaan dan pemahaman Pancasila, seharusnya bisa menjadi model dunia dalam memanusiakan manusia. Terutama saat negara-negara lain membanggakan salah satu etnis sebagai “ras unggulan”, Indonesia mampu membuktikan bahwa identitas etnis, suku, golongan, hingga agama bisa bersatu melalui semangat kemanusiaan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!