Rektor UIN Sunan Kalijaga: Pancasila Harus Menjadi Kompas Moral di Era Globalisasi

Yogyakarta – Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa Pancasila tidak cukup dipahami sebagai dasar negara atau norma konstitusional semata. Di tengah derasnya arus globalisasi dan meningkatnya tantangan kebangsaan, Pancasila perlu dihidupkan sebagai pandangan hidup, kompas moral, sekaligus landasan etika dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Noorhaidi saat membuka Simposium Nasional Pendidikan Pancasila bertema “Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif” di Yogyakarta, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, perjalanan Indonesia selama hampir delapan dekade menunjukkan bahwa Pancasila telah menjadi fondasi yang mampu menjaga keutuhan bangsa di tengah keragaman suku, agama, bahasa, dan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Pancasila bukan sekadar ideologi negara, tetapi juga pandangan hidup bersama serta kompas moral dan etik bagi perjalanan kehidupan nasional kita,” ujarnya.

Ia menilai para pendiri bangsa telah mewariskan sebuah fondasi yang kokoh melalui Pancasila. Tanpa landasan tersebut, Indonesia yang memiliki tingkat kemajemukan sangat tinggi akan menghadapi risiko perpecahan yang jauh lebih besar.

“Tanpa landasan yang kokoh, saya kira Republik ini sudah tercerai-berai. Karena itu kita harus meyakini bersama bahwa Pancasila merupakan anugerah yang menjadi penuntun perjalanan bangsa menuju kemajuan,” katanya.

Namun, Noorhaidi mengingatkan bahwa keberhasilan Pancasila menjaga persatuan tidak berarti tantangan kebangsaan telah berakhir. Menurutnya, perubahan sosial akibat globalisasi menghadirkan dinamika baru yang menuntut pembaruan cara memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila.

Globalisasi, lanjutnya, membuka peluang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan teknologi. Di sisi lain, proses tersebut juga melahirkan kompetisi yang semakin ketat, menguatkan kecenderungan eksklusivisme, serta berpotensi memunculkan fragmentasi sosial apabila tidak diimbangi dengan penguatan nilai kebangsaan.

Karena itu, ia menilai pendidikan Pancasila tidak lagi memadai jika hanya mengandalkan pendekatan legalistik atau bersifat indoktrinatif. Pembelajaran harus mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan realitas kehidupan masyarakat sehingga lebih kontekstual dan relevan bagi generasi muda.

“Pancasila harus diajarkan melalui pendekatan integratif dan interkonektif agar nilai-nilainya tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan Simposium Nasional Pendidikan Pancasila, UIN Sunan Kalijaga ingin berkontribusi dalam memperkuat pengembangan pendidikan Pancasila yang lebih transformatif. Pendekatan tersebut diarahkan agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya hadir di ruang kuliah, tetapi juga menjadi dasar dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola kampus, serta budaya akademik secara keseluruhan.

Menurut Noorhaidi, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam melahirkan lulusan yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan etika publik.

Dengan mengintegrasikan Pancasila ke dalam pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, ia berharap perguruan tinggi mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, penguatan ideologi Pancasila pada akhirnya bukan sekadar menjaga warisan para pendiri bangsa, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap hidup, relevan, dan menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan Indonesia di masa depan.