Rawat Kerukunan di Tengah Keberagaman, Wawali Balikpapan Ajak Jemaat GKPS Perkuat Toleransi

Rawat Kerukunan di Tengah Keberagaman, Wawali Balikpapan Ajak Jemaat GKPS Perkuat Toleransi

BALIKPAPAN – Keberagaman suku dan agama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kota Balikpapan. Dengan 131 paguyuban etnis yang hidup berdampingan, upaya menjaga toleransi dan memperkuat persatuan dinilai perlu terus dilakukan agar keharmonisan sosial tetap terpelihara.

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengajak seluruh jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dan masyarakat untuk menjadikan toleransi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kerukunan bukan sekadar kondisi yang patut disyukuri, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dirawat melalui sikap saling menghormati dan gotong royong.

Ajakan itu disampaikan Bagus saat menghadiri Pesta Pembangunan GKPS Balikpapan sekaligus peresmian Jemaat GKPS Tarakan menjadi jemaat penuh di Swiss-Belhotel Balikpapan, Minggu (25/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan jemaat GKPS dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Banjarmasin, serta Bupati Simalungun Anton Achmad Saragih.

Bagus mengatakan, keberagaman yang tumbuh di Balikpapan selama ini dapat menjadi kekuatan apabila dibarengi komunikasi yang baik dan kesediaan masyarakat untuk saling menghargai. Keberadaan Forum Komunikasi Paguyuban Kota Balikpapan (FKPB), menurut dia, turut membantu membangun hubungan harmonis di antara kelompok masyarakat dengan latar belakang etnis yang berbeda.

“Alhamdulillah, sampai saat ini kita tidak pernah ada konflik horizontal. Semuanya bisa saling menghargai dan menghormati, sehingga kondusivitas Kota Balikpapan khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya bisa terjaga dengan baik,” ujar Bagus.

Ia menilai, kehidupan masyarakat yang rukun menjadi salah satu modal penting untuk menjaga stabilitas daerah. Hal ini semakin relevan seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang menghadirkan dinamika sosial baru dan mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia.

Dalam situasi tersebut, toleransi perlu diwujudkan melalui ruang perjumpaan, komunikasi lintas kelompok, serta penghormatan terhadap hak setiap warga untuk menjalankan keyakinannya. Pemerintah dan organisasi masyarakat, termasuk lembaga keagamaan, memiliki peran untuk memastikan keberagaman tetap menjadi perekat persatuan.

Bagus mengapresiasi keluarga besar GKPS yang menjadi bagian dari masyarakat Balikpapan dan turut berkontribusi dalam menjaga kerukunan antarumat beragama maupun antaretnis. Ia berharap keberadaan gereja tidak hanya memperkuat kehidupan rohani jemaat, tetapi juga memperluas kontribusi sosial bagi lingkungan sekitar.

“Atas nama Pemerintah Kota Balikpapan, kami mengucapkan selamat atas peresmian Jemaat GKPS Tarakan menjadi jemaat penuh. Semoga momentum bersejarah ini semakin memperkuat pelayanan gereja, meningkatkan kualitas kehidupan rohani jemaat, serta memperluas kontribusi gereja dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis,” katanya.

Menurut Bagus, pembangunan gereja tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan fisik. Proses tersebut juga mencerminkan iman, pengorbanan, persatuan, dan semangat gotong royong yang tumbuh di antara jemaat.

Karena itu, keberhasilan pembangunan rumah ibadah tidak cukup diukur dari berdirinya bangunan yang kokoh dan megah. Lebih dari itu, gereja diharapkan mampu menjadi tempat tumbuhnya kehidupan rohani, pembentukan karakter, serta penguatan persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam.

Ia menambahkan, gereja memiliki peran penting sebagai tempat ibadah, pembinaan umat, dan penanaman nilai moral. Nilai kasih, kejujuran, kepedulian, serta tanggung jawab yang diajarkan dalam kehidupan beragama dapat menjadi landasan untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan saling menghormati.

Bagus pun mengajak seluruh elemen masyarakat menerapkan toleransi melalui tindakan sederhana, mulai dari saling membantu ketika menghadapi kesulitan hingga memberikan ruang kepada setiap warga untuk beribadah sesuai keyakinannya. Menurutnya, kerukunan akan semakin kuat ketika nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai seruan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan itu, Bagus turut menyinggung bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan. Ia berharap para pemuka agama dan jemaat dapat bersama-sama memanjatkan doa agar kondisi segera membaik.

“Kerukunan antarumat harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya mengajak seluruh keluarga besar GKPS dan masyarakat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta menciptakan lingkungan yang damai dan inklusif,” tegasnya.

Bagus juga berharap pembangunan gereja GKPS Balikpapan dapat segera diselesaikan sehingga fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan ibadah, pembinaan jemaat, dan pelayanan sosial kepada masyarakat.

Sementara itu, Ephorus GKPS, Pdt. John Christian Saragih, menyampaikan rasa syukur atas sambutan masyarakat dan Pemerintah Kota Balikpapan terhadap kehadiran GKPS di Kalimantan. Ia mengatakan, pertemuan tersebut menjadi momentum sukacita bagi keluarga besar GKPS, khususnya jemaat yang berada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Wilayah pelayanan GKPS di Kalimantan merupakan bagian dari GKPS Distrik VII yang mencakup pelayanan lintas daerah. Menurut Pdt. John Christian, sambutan hangat yang diterima jemaat menjadi dorongan untuk terus menjalankan pelayanan keagamaan sekaligus membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat.

“Kami bersukacita karena mendapat sambutan yang hangat dari Kota Balikpapan yang ramah. Ini juga menjadi ucapan syukur bagi kami karena GKPS diterima di Bumi Kalimantan ini dengan ramah dan dapat melanjutkan misi Kristus di Kalimantan,” ujarnya.

Ia berharap GKPS dapat terus memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat melalui pelayanan keagamaan dan kegiatan sosial. Nilai kasih dan persaudaraan, menurutnya, perlu terus diwujudkan dalam hubungan antarsesama agar keberadaan gereja turut memperkuat toleransi di tengah keberagaman. Pesta pembangunan dan peresmian jemaat tersebut pun menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat dalam merawat keharmonisan. Di tengah dinamika pembangunan Kalimantan, persatuan dan sikap saling menghormati menjadi modal bersama untuk menjaga Balikpapan tetap damai, inklusif, dan terbuka bagi seluruh warganya.