Rawat Kerukunan di Tengah Disrupsi Digital, Masyarakat TTU Jadikan Toleransi Sebagai Mitigasi Sosial 

ATAMBUA — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi, masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terus didorong untuk memperkuat toleransi antarumat beragama. Sikap saling menghargai dan mendukung dinilai krusial sebagai fondasi utama untuk merawat kerukunan warga di era modern.

Muhammad Subhan, Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Timor Tengah Utara, mengatakan bahwa keharmonisan tatanan sosial di TTU telah terbangun secara organik melalui interaksi lintas agama dalam kehidupan sehari-hari. Praktik tolong-menolong ini menjadi instrumen mitigasi sosial yang terbukti efektif dalam mencegah potensi perpecahan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Terkait keberagaman, kami di TTU hidup dengan perbedaan umat beragama. Kami masing-masing tidak jalan sendiri, tetapi saling mendukung. Seperti ada kedukaan, kami pergi melayat untuk mendoakan, sebaliknya umat Kristen juga seperti itu,” ungkap Subhan seperti yang dilansir dari rri.co.id, Senin (14/9).

Sebagai representasi tokoh agama, Wakil Ketua 1 Takmir Masjid Agung Nurul Falah Kedamenanu ini menyoroti tantangan keberagaman yang saat ini dipicu oleh disrupsi teknologi. Tingginya paparan informasi digital menuntut masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai perbedaan agar tidak berkembang menjadi konflik horizontal.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif dan komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga ikatan persaudaraan yang sudah terjalin erat di wilayah tersebut.

“Sebagai Ketua PHBI TTU, saya harapkan agar masyarakat TTU terus saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Karena perkembangan teknologi di era modern saat ini kita banyak menemukan perbedaan, jadi kita harus mencegah itu secara bersama-sama,” tegasnya.