Ramadhan Bukan Sekadar Ritual, Tapi Jalan Cinta kepada Allah

Gowa – Menteri Agama RI Prof. KH Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan Lailatul Qadar sebagai satu-satunya tujuan ibadah Ramadhan. Menurutnya, esensi ibadah justru terletak pada upaya meraih ridha Allah SWT sebagai sumber segala kemuliaan.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus II, Gowa, Sulawesi Selatan.

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu menjelaskan, peringatan Isra’ Mi’raj yang hadir menjelang Ramadhan merupakan bentuk persiapan spiritual bagi umat Islam. Momen tersebut, kata dia, berfungsi sebagai “prolog” agar Ramadhan dijalani dengan kesiapan batin, bukan sekadar rutinitas ritual.

“Menjelang datangnya Ramadhan, Allah memberi kita semacam shock therapy untuk menyiapkan diri secara spiritual, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj,” ujar Nasaruddin dalam siaran pers Kementerian Agama, Senin (9/2/2026).

Ia menegaskan, Ramadhan harus dimaknai sebagai momentum penyucian diri yang tidak berhenti pada hubungan personal dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam relasi sosial dan kepedulian terhadap alam semesta.

“Kita jangan hanya mengejar Lailatul Qadar. Mana yang lebih penting, mencari Lailatul Qadar atau mencari yang menurunkan Lailatul Qadar? Lailatul Qadar itu makhluk, surga itu makhluk. Yang kita cari adalah Allah SWT,” ucapnya.

Menurut Nasaruddin, kesadaran tersebut akan melahirkan ibadah yang lebih tulus dan berdampak sosial. Ia menekankan bahwa solidaritas, empati, dan kepedulian terhadap sesama tumbuh dari cinta sejati kepada Allah.

Dalam tausiyahnya, ia mengutip pemikiran sufi perempuan Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah yang dilandasi mahabbah atau cinta kepada Tuhan.

“Saya menyembah Tuhan karena I love you, my God. Kalau mahabbah yang berbicara, surga dan neraka menjadi kecil. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” ujarnya.

Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menyikapi keberagaman dan perbedaan pendapat sebagai rahmat yang memperkuat persaudaraan umat, sebagaimana diteladankan para sahabat Nabi. Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya melahirkan perpecahan, melainkan memperkaya cara pandang.

“Perbedaan pendapat itu rahmat. Jangan mendebat tanpa cinta. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah. Jika semuanya disandarkan kepada Allah, beban seberat apa pun akan terasa ringan,” jelasnya.

Ia menambahkan, menjelang Ramadhan, Kementerian Agama mendorong penguatan narasi Islam yang damai, toleran, dan solutif terhadap berbagai persoalan sosial. Ramadhan, kata dia, harus menjadi madrasah spiritual untuk mengasah kepekaan sosial, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian alam melalui pendekatan ekoteologi.