Jakarta – Di tengah derasnya perdebatan soal istilah moderasi beragama, bulan Ramadan justru menjadi momentum untuk menjernihkan maknanya. Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa moderasi bukanlah upaya melemahkan iman atau meliberalkan ajaran agama.
Dalam detikKultum Ramadan, Rabu (25/2/2026), ia menjelaskan bahwa moderasi beragama berarti menempatkan ajaran agama secara proporsional — tidak ekstrem ke satu sisi, dan tidak pula mengaburkan prinsip.
“Moderasi itu bukan melemahkan kualitas keagamaan, bukan desentralisasi, bukan liberalisasi. Moderasi artinya menempatkan agama pada posisi tengah. Itulah yang disebut Islam wasatiyah,” ujarnya.
Bukan Soal Lemah atau Keras, Tapi Soal Tepat
Menurutnya, dalam praktik beragama setidaknya ada tiga kecenderungan sikap. Pertama, kelompok yang terlalu longgar hingga cenderung menyamakan semua perbedaan. Kedua, kelompok yang terlalu keras hingga memaksakan perbedaan. Dan di antara keduanya, ada jalan tengah: moderasi.
Ia menggambarkan posisi itu seperti tiga kolom: kiri (liberal), kanan (radikal), dan tengah (moderat). Sikap moderat, jelasnya, adalah membiarkan sesuatu sebagaimana adanya.
“Yang sama tetap sama, yang berbeda tetap berbeda. Itulah moderat,” tegasnya.
Dalam pandangannya, radikalisme muncul ketika perbedaan dipaksakan menjadi konfrontasi. Sementara liberalisme berlebihan terjadi ketika semua perbedaan dilebur tanpa batas. Moderasi hadir sebagai keseimbangan, bukan kompromi terhadap prinsip.
Ramadan sebagai Latihan Keseimbangan
Lebih jauh, Prof Nasaruddin mengingatkan bahwa Ramadan sejatinya adalah latihan pengendalian diri. Ketegasan dalam ketaatan harus berjalan beriringan dengan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
“Ramadan meminta kita menjadi manusia yang tegas, taat, dan bertanggung jawab. Moderasi beragama itu harus dipelihara,” pesannya.
Di tengah polarisasi sosial dan perdebatan identitas yang kerap mengeras, penegasan ini menjadi relevan. Moderasi bukan berarti abu-abu, melainkan sikap dewasa dalam beragama dan bermasyarakat.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!