Ramadan 1447 H di Lapas Wahai, Warga Binaan Muslim dan Kristen Beribadah Berdampingan

Ambon – Suasana Ramadan 1447 Hijriah di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Wahai berlangsung dalam nuansa yang hangat dan penuh kebersamaan. Di tengah aktivitas ibadah puasa dan tadarus yang dijalankan warga binaan Muslim, warga binaan beragama Kristen tetap menjalankan ibadah rutin dengan aman dan tertib, baik secara langsung maupun virtual, Kamis (26/2/2026).

Sejak pagi hingga menjelang malam, warga binaan Muslim terlihat memanfaatkan waktu Ramadan untuk memperbanyak ibadah di Masjid At-Taubah yang berada di dalam area lapas. Sementara itu, warga binaan Kristen melaksanakan ibadah di Gereja Ebenhaezer serta mengikuti kebaktian secara daring yang difasilitasi pihak lapas.

Salah satu warga binaan Muslim berinisial AG mengungkapkan bahwa kehidupan antarumat beragama di dalam lapas berjalan dengan baik dan saling menghormati.

“Kehidupan di dalam Lapas Wahai sangat toleran. Pembinaan kerohanian berjalan sangat baik untuk seluruh agama. Kalau ada hari raya keagamaan, biasanya kami juga saling mengisi acara,” ujarnya.

Menurut AG, suasana Ramadan justru semakin memperkuat rasa persaudaraan. Warga binaan yang tidak menjalankan puasa tetap menghargai mereka yang berpuasa, termasuk dengan menjaga ketertiban selama waktu ibadah.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa pembinaan kerohanian merupakan bagian penting dari proses pembinaan warga binaan. Ia memastikan seluruh pemeluk agama memperoleh hak yang sama untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.

“Kami ingin memastikan seluruh warga binaan, baik yang berpuasa maupun tidak, dapat menjalankan ibadah dengan tertib dan aman. Prinsip toleransi menjadi dasar agar seluruh program pembinaan berjalan selaras,” kata Tersih.

Ia menjelaskan bahwa pihak lapas secara rutin mengatur jadwal serta fasilitas ibadah agar tidak terjadi benturan kegiatan. Pendekatan tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya membangun karakter warga binaan agar menghargai perbedaan.

Apresiasi terhadap suasana kondusif tersebut datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Ia menilai keharmonisan yang terbangun di Lapas Wahai mencerminkan komitmen dalam membina mentalitas warga binaan yang menghormati keberagaman.

“Keharmonisan di bulan puasa ini menunjukkan semangat persaudaraan tetap tumbuh. Lapas Wahai bisa menjadi contoh praktik toleransi beragama di Maluku,” ujarnya.

Sementara itu, dalam ibadah virtual yang dipimpin Pendeta Jeff Siwu, jemaat diajak merenungkan pentingnya hidup dalam damai dan saling menghargai. Melalui pembacaan Alkitab dari 1 Petrus 2:17 dan Roma 14:19, ia mengingatkan bahwa setiap umat beriman memiliki panggilan untuk menebarkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

“Bulan Ramadan adalah momen sakral bagi rekan-rekan Muslim. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil menunjukkan kasih melalui tindakan nyata, menjaga perkataan dan perbuatan, apalagi dalam ruang terbatas seperti di lapas, agar pembinaan berjalan dengan penuh kerukunan,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan ruang dan aktivitas, kehidupan beragama yang berjalan berdampingan di Lapas Wahai memperlihatkan bahwa toleransi tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat diwujudkan dalam praktik sehari-hari.