Radikalisme Masuk Lewat Digital, Pesantren Diminta Perkuat Pengawasan

Bandung – Lembaga pendidikan keagamaan di Jawa Barat kini berada di garis depan dalam menghadapi ancaman baru: infiltrasi paham radikal yang menyasar pelajar melalui jalur digital. Madrasah, pondok pesantren, hingga majelis taklim didorong untuk tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga memperkuat sistem kewaspadaan.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Barat, H. Dudu Rohman, menegaskan bahwa langkah pencegahan harus dimulai dari lingkungan belajar. Dalam pertemuan dengan jajaran Densus 88 di Bandung, Selasa (28/4/2026), ia menyampaikan rencana penerbitan imbauan resmi kepada seluruh lembaga pendidikan keagamaan.

Pendekatan yang dilakukan tidak sebatas administratif. Kemenag juga mendorong koordinasi aktif dengan Forum Komunikasi Pondok Pesantren serta memperkuat silaturahmi langsung ke lembaga-lembaga pendidikan. Tujuannya, membangun kesadaran bersama agar deteksi dini bisa berjalan efektif.

Di sisi lain, Densus 88 menyoroti perubahan pola penyebaran paham ekstrem yang semakin adaptif. Kasatgaswil Jawa Barat, Kombes Pol. Bogiek Sugiarto, menyebut pelajar tingkat menengah kini mulai menjadi target, bukan semata karena faktor ideologi, tetapi juga pengaruh tren di ruang digital.

“Konten ekstrem bisa masuk dari berbagai pintu, termasuk media sosial dan game online,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pengawasan penggunaan gawai oleh sekolah dan keluarga. Tanpa kontrol yang memadai, ruang digital dapat menjadi celah masuk bagi narasi yang menyesatkan.

Upaya pencegahan pun diarahkan pada penguatan pemahaman keagamaan yang moderat. Sosialisasi terus digencarkan di madrasah dan pesantren agar pelajar memiliki fondasi berpikir yang seimbang.

Evaluasi menunjukkan, lemahnya pembinaan spiritual menjadi salah satu faktor kerentanan. Karena itu, penguatan kegiatan keagamaan dan pendampingan rohani dinilai penting sebagai benteng utama dalam mencegah penyebaran paham ekstrem sejak dini.