BANJARBARU – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UID Kalselteng) memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di lingkungan kerja melalui kolaborasi dengan Densus 88 Anti Teror Polri. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan budaya kerja yang aman, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.
General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono mengatakan penguatan wawasan kebangsaan menjadi salah satu aspek penting dalam membentuk insan PLN yang berintegritas serta mampu menghadapi berbagai tantangan sosial, termasuk derasnya arus informasi di era digital.
“PLN berkomitmen terus membangun budaya kerja yang inklusif, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, serta memperkuat semangat persatuan di seluruh lingkungan kerja. Melalui edukasi yang berkelanjutan, kami berharap setiap insan PLN menjadi teladan dalam menjaga keharmonisan dan memperkuat rasa kebangsaan di tengah masyarakat,” ujar Iwan dalam keterangan tertulis, Sabtu.
Menurutnya, edukasi yang dilakukan secara berkesinambungan merupakan langkah strategis untuk membekali pegawai agar mampu mengenali dan mengantisipasi penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai persatuan, sekaligus memperkuat karakter sumber daya manusia yang profesional dan berintegritas.
Sebagai implementasi komitmen tersebut, PLN UP3 Palangka Raya bekerja sama dengan Densus 88 Anti Teror Polri menggelar sosialisasi secara daring yang diikuti seluruh pegawai. Kegiatan itu menghadirkan narasumber dari Tim Pencegahan Satgas Wilayah Kalimantan Tengah Densus 88 Anti Teror Polri, Iptu Ganjar Satriyono.
Dalam paparannya, Ganjar menjelaskan pentingnya deteksi dini terhadap penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, termasuk fenomena nihilisme serta True Crime Community yang berkembang di ruang digital.
Ia menekankan bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat harus memiliki kemampuan literasi digital yang baik agar tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengandung ajaran intoleran maupun radikal.
“Perkembangan teknologi membuat arus informasi bergerak sangat cepat dan bisa diakses siapa saja sehingga setiap individu perlu memiliki kemampuan menyaring informasi secara kritis, memahami risiko serta berpegang pada nilai-nilai kebangsaan di kehidupan sehari-hari maupun saat berinteraksi di ruang digital,” katanya.
Sementara itu, Manager PLN UP3 Palangka Raya Bagus Cahyadi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan membangun sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kehidupan berbangsa.
“Kami ingin memperluas wawasan pegawai terhadap berbagai isu yang berkembang. Dengan pemahaman yang baik, setiap insan PLN diharapkan mampu bersikap lebih bijak menyikapi informasi, menjaga keharmonisan, serta berkontribusi menciptakan suasana kerja yang aman dan produktif,” ujar Bagus.
Selain memperkuat pemahaman mengenai ancaman penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai persatuan, para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai indikator-indikator awal paparan IRET, pentingnya meningkatkan literasi digital, serta langkah-langkah membangun lingkungan sosial dan lingkungan kerja yang kondusif. Melalui sinergi dengan Densus 88 Anti Teror Polri, PLN berharap penguatan wawasan kebangsaan dapat menjadi bagian dari budaya organisasi sehingga seluruh pegawai mampu menjadi agen persatuan, menjaga keharmonisan di lingkungan kerja, serta berkontribusi menciptakan ruang digital yang sehat dan bebas dari penyebaran paham ekstrem.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!