Peserta Pelatihan Duta Damai Dapat Sentuhan Motivasi Dalam Meraih Impian dan Cita-Cita

Medan – Kegiatan acara Pelatihan Duta Damai Dunia Maya yang digelar di Hotel Aryaduta Medan kembali dilanjutkan pada Rabu pagi ini hingga nanti malam. Kegiatan yang diikuti sebanyak 60 orang dari kalangan Programmer IT, Blogger/penulis dan Digital Komunikasi Visual/DKV pada hari ini akan difokuskan pada diskusi untuk memperdalam materi pada bidangnya masing-masing dan akan diasuh dari tim Pusat Media Damai (PMD) BNPT.

Namun sebelum memasuki kegiatan diskusi, para peserta mendapatkan sesi materi Motivasi Kebangsaan dari seorang motivator yang juga novelis, pekerja sosial dan mantan pernah juga menjadi wartawan yakni Ahmad Fuadi.

Dalam kesempatan tersebut Ahmad Fuadi yang dikenal dengan karya novelnya Negeri 5 Menara memberikan sentuhan motivasi kepada para peserta untuk dapat mengajak menulis secara bijak dan damai agar generasi muda Indonesia terbebas dari bahaya radikal terorisme melalui dunia maya.

Selain itu dirinya mengajak para generasi muda kita untuk tidak mudah menyerah dengan cita-cita ataupun impiannya agar bisa terwujud kelak di kemudian hari.

“Manfaat dari kegiatan ini menurut saya adalah untuk membukakan pikiran generasi muda bangsa kita tentang bagaimana memaksimalkan potensi cita-cita ataupun impian kita dan disaat yang sama harus bisa juga meminimalisir efek-efek dari radikalisme dan terorisme” ujar Anwar Fuadi di acara tersebut

Selain itu dirinya berharap kegiatan ini juga bermafaat untuk dapat melakukan pemetaan di dunia maya. Karena mereka juga harus tahu apa yang terjadi saat ini terhadap isu-isu ataupun efek yang terjadi terhadap radikal terorisme di dunia maya.

“Karena di dunia maya sendiri juga menjadi ajang pertempuran ide. Dan mereka ini kita berikan pembekalan untuk ikut di dunia maya tetapi dengan jalan yang damai,” ujar pria alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor tahun 1992 ini.

Pria yang juga pernah menempuh pendidikan di Kanada, Amerika dan Inggris menjelaskan bahwa selama ini kelemahan generasi muda kita dalam menghadapi serbuan kelompok radikal terorisme di dunia maya adalah masalah pola pikir dalam menyampaikan pesan atau ajakan untuk melakukan perdamaian untuk dapat meraih impian ataupun cita-citanya.

“Saya rasa mereka ini sebenarnya sudah hebat di dunia maya. Tapi mereka belum ada pola pikir atau strategi dalam menyuarakan pesan-pesan perdamaian yang tentunya juga harus ada pesan yang dapat membakar semangat generasi muda untuk tidak mudah terpengaruh terhadap bahaya radikal terorisme agar dapat tercapai impian dan cita-citanya. Membakar semangatnya tentunya juga dengan kata-kata atau kalimat yang damai,” ujar pria kelahiran ayur Maninjau, Sumatera Barat, 30 Desember 1972 ini.

Untuk itu dirinya berharap kepada para generasi muda kita untuk dapat memaksimalkan impian ataupun cita-citanya dapat dibagi menjadi 2 cara. Cara pertama yakni dengan kesungguhan. “Konsep saya itu ya Man Jadda Wajada. Yakni melebihkan usaha kita diatas rata-rata orang lain. Jadi siapa yang bersungguh – sungguh, tentunya akan berhasil,” katanya.

Lalu cara yang kedua para generasi muda tidak boleh meremehkan setinggi apapun terhadap cita-cita mereka, karena tuhan itu maha mendengar. “Jadi kita tugasnya bercita-cita dan membela cita-cita kita secara habis-habisan. Dan percaya bahwa ini bisa diraih,” ujarnya.

Dirinya memberikan contoh terhadap apa yang telah dilakukannya sebagai penulis. Apalagi saat masih berada di Pesantren Gontor, kebetulan tamunya macam-macam, tokoh-tokoh penting di dunia yang akhirnya dirinya mencoba belajar mewawancarai tokoh-tokoh penting itu. “Saya berpikir mungkin jadi wartawan itu asyik. Dan ternyata setelah lulus kuliah, saya jadi wartawan juga,” ungkap Ahmad.

Kepada para peserta dirinya bercerita sekaligus memberikan contoh bahwa menulis itu lebih kuat dari peluru. Misalnya kalau orang ditembak, kemungkinan besar orang itu mati, tapi pelurunya hanya tinggal di kepala orang itu saja.

“Tapi kalau orang menulis tulisan yang kuat, satu tulisan atau satu kalimat atau satu kata itu akan menembus tak cuma satu kepala orang, bisa ratusan, bisa ribuan, bisa jutaan orang. Dan itu luar bisa pengaruhnya bisa menggerakkan. Jadi menulis itu luar biasa kekuatannya,” ujar pria yang pernah menjadi wartawan Tempo dan VOA ini.

Karena menurutnya menulis juga bisa bikin awet muda. “Awet muda karena umur kita akan jadi sangat panjang. Setelah kita meninggal, kalau tulisan kita baik dan bagus, itu terus dibaca orang. Untuk itu marilah menulis dengan dilandasi niat agar bermanfaat dalam kebaikan,” ujar suami Danya Dewanti ini mengakhiri.

BERSAMA CEGAH TERORISME #AKSIDUTADAMAI