Pesantren Bukan Sekadar Pusat Transmisi Ilmu Agama Tapi Benteng Pertahanan Ideologi Bangsa

Jakarta – Pondok Pesantren bukan sekadar pusat transmisi ilmu agama, melainkan benteng pertahanan ideologi bangsa. Menyadari peran strategis tersebut, Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta mengambil langkah preventif yang krusial dengan menyelenggarakan agenda bertajuk “Sosialisasi Kebangsaan: Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme”, Kamis (19/2/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai upaya kolektif untuk mempertebal wawasan kebangsaan sekaligus memberikan imunitas kepada para santri terhadap paparan paham-paham yang menyimpang dari konsensus nasional.

Program edukatif ini merupakan buah dari kolaborasi strategis antara Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri bersama Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia Kota Jakarta Selatan. Kehadiran dua instansi penting ini menegaskan bahwa urusan menjaga kedaulatan ideologi negara merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan koordinasi lintas sektor, mulai dari aparat keamanan, otoritas keagamaan, hingga institusi pendidikan.

Tujuan utama dari pertemuan besar ini adalah untuk menginternalisasi nilai-nilai toleransi ke dalam jiwa para santri. Di tengah arus informasi global yang sering kali disusupi oleh narasi-narasi ekstrem, santri perlu memiliki filter yang kuat. Materi yang disampaikan berfokus pada pembangunan kesadaran mengenai bahaya laten radikalisme yang dapat mengoyak tenun kebangsaan dan mengancam integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Narasumber utama, Kombespol Moh Dofir, S.Ag., M.H., yang menjabat sebagai Kasubdit Kontra Ideologi Ditcegah Densus 88 AT Polri, memaparkan materi kebangsaan dengan sangat komprehensif. Beliau menekankan bahwa paham radikal sering kali masuk melalui pintu eksklusivisme beragama. Oleh karena itu, pemahaman ideologi yang sehat harus sejalan dengan kecintaan pada tanah air, sebagaimana prinsip Hubbul Wathon Minal Iman.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Selatan, H. Muhammad Yunus Hasyim, S.Ag., dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi kepada pihak Darunnajah. Beliau menggarisbawahi pentingnya penerapan moderasi beragama (Wasathiyah). Menurutnya, agama tidak boleh dijadikan alat untuk membenarkan kekerasan. Sebaliknya, dialog dan musyawarah harus dikedepankan sebagai instrumen utama dalam merawat kerukunan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Suasana di dalam aula Pondok Pesantren Darunnajah tampak hidup dengan antusiasme ribuan santri yang menyimak pemaparan narasumber. Mereka tidak hanya berperan sebagai audiens pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam sesi diskusi. Banyak pertanyaan kritis yang muncul mengenai peran konkret generasi milenial dan Gen Z dalam menjaga keutuhan bangsa di era digital. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan tanggung jawab sebagai warga negara sudah mulai tumbuh subur di kalangan pelajar Muslim tersebut.

Pihak pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah sendiri menegaskan komitmen mereka untuk terus mendukung program-program pemerintah dalam pencegahan radikalisme. Pesantren berjanji akan terus menguatkan pendidikan karakter dan penguatan wawasan nusantara melalui kurikulum serta kebiasaan sehari-hari yang menjunjung tinggi rasa hormat terhadap perbedaan.

Kegiatan ini pada akhirnya menjadi manifestasi nyata dari sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan aparat keamanan. Kolaborasi ini sangat diperlukan untuk membangun ketahanan ideologi yang kokoh di tingkat akar rumput. Diharapkan, lulusan dari Pesantren Darunnajah tidak hanya unggul dalam khazanah keilmuan agama, tetapi juga mampu menjadi duta kedamaian yang berpikir kritis dan mampu menepis pengaruh ekstremisme dalam dinamika dunia kontemporer.

Melalui langkah proaktif ini, Darunnajah membuktikan posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang moderat dan berkomitmen penuh pada nilai-nilai cinta tanah air. Kerja sama antara Densus 88 dan Kementerian Agama ini diharapkan akan terus berlanjut di institusi pendidikan lainnya demi mewujudkan Indonesia yang damai, aman, dan toleran.