Peringati Harlah Pancasila 1 Juni 2026, Ribuan Pemuda Ikuti Karnaval Budaya di Bali

Ribuan peserta dari berbagai elemen, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Kepemudaan, pelajar, hingga instansi pemerintah, tumpah ruah menyemarakkan Karnaval Pancasila 2026 di Denpasar, Bali, pada Senin (1/6/2026). Kegiatan parade budaya ini digagas oleh Rumah Kebangsaan Kebhinnekaan Pasraman Satyam Eva Jayate bersama sejumlah organisasi kepemudaan untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.

Ketua Umum Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan Pasraman Satyam Eva Jayate, Udi Prayudi, menegaskan bahwa peringatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai persatuan sekaligus menjadi sarana edukasi agar generasi muda tidak sekadar menghafal, tetapi mampu mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan nyata.

“Ini memperingati Hari Lahir Pancasila merupakan dasar falsafah mengayomi bangsa yang beraneka ragam ini. Nilai-nilai Pancasila yang adiluhung itu harus kita tetap jaga, pertahankan, dan juga yang penting adalah aktualisasikan,” ujar Udi Prayudi.

Karnaval yang mengambil titik awal di depan Jayasabha Denpasar dan berakhir di Art Centre Denpasar ini menampilkan keberagaman seni Nusantara, mulai dari Reog Ponorogo, Barongsai, Okokan, hingga pawai pakaian adat daerah.

Lebih lanjut, Udi memaparkan bahwa penyelenggaraan karnaval edisi ketiga ini merupakan hasil kolaborasi murni berbagai elemen masyarakat tanpa mengandalkan satu sumber pembiayaan saja. Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat Provinsi Bali dan Kota Denpasar turut bahu-membahu menyukseskan acara bersama mahasiswa dan ormas.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan kendaraan, tahun ini seluruh peserta yang jumlahnya dibatasi lebih dari 1.000 orang tersebut berjalan kaki layaknya parade Pesta Kesenian Bali (PKB). Rute yang dilintasi juga sarat makna historis karena melewati kawasan Lapangan Puputan Badung yang merupakan titik nol perjuangan di Kota Denpasar.

Udi berharap, pesta kebangsaan berbasis budaya pertama di Indonesia ini dapat menjadi wadah rutin yang mempererat persaudaraan lintas suku, sekolah, dan organisasi di Tanah Air.