Perempuan Jadi Penggerak Kerukunan, Forwala Bekasi Perkuat Toleransi Lintas Agama

CIKARANG UTARA – Menjaga kerukunan antarumat beragama tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Peran masyarakat, terutama perempuan, dinilai menjadi kunci dalam membangun toleransi dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga dan komunitas.

Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Toleransi bertema “Harmoni dalam Keberagaman” yang digelar Forum Wanita Lintas Agama (Forwala) Kabupaten Bekasi di Aula Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Senin (5/10/2026).

Mewakili Plt Bupati Bekasi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Kabupaten Bekasi Hudaya mengatakan keberagaman yang dimiliki Kabupaten Bekasi merupakan kekayaan sosial yang harus dirawat bersama.

“Kabupaten Bekasi merupakan daerah yang masyarakatnya sangat beragam. Kita hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang, suku, budaya, tradisi maupun keyakinan. Keberagaman ini merupakan kekayaan yang harus kita syukuri dan kita jaga bersama,” ujar Hudaya.

Menurut dia, perbedaan seharusnya tidak menjadi tembok yang memisahkan masyarakat. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi ruang untuk membangun pemahaman, penghormatan, dan persaudaraan antarsesama.

“Harmoni bukan berarti kita harus menjadi sama. Harmoni adalah ketika perbedaan dapat berjalan berdampingan, saling menghormati dan tetap berada dalam semangat persaudaraan,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Hudaya melihat perempuan memiliki posisi strategis. Nilai toleransi, empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap perbedaan dapat ditanamkan sejak dini melalui keluarga sebelum berkembang menjadi budaya di tengah masyarakat.

“Para ibu dan tokoh perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai empati, kepedulian dan penghormatan terhadap perbedaan, terutama sejak dari lingkungan keluarga,” ungkapnya.

Ia berharap Forwala tidak berhenti menjadi wadah pertemuan perempuan lintas agama, tetapi terus berkembang menjadi ruang silaturahmi sekaligus penggerak kerukunan di tengah masyarakat.

Toleransi, kata Hudaya, juga tidak cukup dimaknai sebatas menerima keberadaan orang yang berbeda keyakinan. Toleransi membutuhkan kemauan untuk memahami, menghargai, dan hidup berdampingan secara damai.

“Pemerintah Kabupaten Bekasi tentu akan mendukung berbagai inisiatif positif masyarakat dalam menjaga kerukunan dan persatuan. Sebab, menciptakan daerah yang aman, damai dan harmonis bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegas Hudaya.

Ketua Forwala Kabupaten Bekasi Sri Sugiarti mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Kerukunan Umat Beragama. Kegiatan sebelumnya diisi dengan kunjungan ke sejumlah tempat ibadah bersama unsur Pemerintah Kabupaten Bekasi.

“Rangkaian kegiatan ini dimulai sejak 23 September dengan berkunjung ke tempat-tempat ibadah bersama Plt Kesbangpol. Kemudian rangkaian kedua pada 5 Oktober ini kita melaksanakan seminar dengan tema Harmoni dalam Beragama,” jelas Sri.

Menurut Sri, kegiatan lintas agama tersebut sengaja melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan untuk memperluas pemahaman mengenai toleransi, khususnya di kalangan perempuan.

Ia mengakui dalam kehidupan masyarakat masih terdapat potensi gesekan ketika umat menjalankan aktivitas keagamaan. Namun, pengalaman Forwala menunjukkan bahwa persoalan semacam itu lebih mudah diselesaikan ketika komunikasi dan hubungan antarmasyarakat sudah terbangun.

“Tujuannya memang kita terus berupaya, khususnya untuk perempuan, bisa bertoleransi terhadap agama lain. Karena sudah banyak indikasi dan beberapa pengalaman ketika ada yang beribadah itu terjadi gesekan. Namun, karena kita terus menjalin silaturahmi dengan umat beragama, alhamdulillah persoalan-persoalan tersebut bisa diselesaikan,” tuturnya.

Seminar tersebut diikuti perwakilan berbagai kelompok keagamaan, antara lain Fatayat NU, Muslimat, Alisa Khadijah, LDII, GAMKI, perwakilan umat Hindu, dan Persatuan Buddha.

“Alhamdulillah semua agama, termasuk sayap organisasi keagamaan lainnya, hadir di sini sebagai perwakilan. Sebelum kegiatan dibuka, Bapak Bupati juga hadir memberikan dukungan dan kekuatan kepada Forwala agar semakin aktif menyosialisasikan toleransi beragama,” katanya.

Sri menilai secara umum kehidupan antarumat beragama di Kabupaten Bekasi berjalan baik. Meski demikian, penguatan pemahaman tetap diperlukan karena masyarakat memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam.

“Kalau untuk Kabupaten Bekasi, saya yakin dan kenyataannya saat ini sudah sangat bagus. Namun namanya masyarakat umum masih perlu diberikan pemahaman-pemahaman. Karena itu, FKUB melalui Forwala harus terus berupaya mengeratkan silaturahmi,” ujarnya.

Bagi Sri, saling mengenal menjadi salah satu modal penting dalam mencegah prasangka. Ketika hubungan antarmasyarakat sudah terjalin, perbedaan keyakinan tidak mudah berkembang menjadi persoalan.

“Insya Allah ketika kita sudah sering berkegiatan dan sudah saling mengenal, ketika akan beribadah pun karena sudah kenal, insya Allah tidak akan terjadi penolakan. Yang menjadi persoalan biasanya karena kurangnya komunikasi,” ungkap Sri.

Sejak berdiri pada 2023 sebagai sayap FKUB, Forwala tidak hanya mengandalkan kegiatan seminar untuk menyebarkan pesan toleransi. Organisasi tersebut juga membangun hubungan langsung dengan berbagai komunitas dan tempat ibadah melalui kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya.

“Setiap kegiatan itu pasti ada tiga unsur, yaitu unsur ekonomi, sosial dan budaya. Kita masuk ke semua tempat ibadah, bersilaturahmi, mengenalkan diri, kemudian membuat kegiatan-kegiatan bersama,” katanya.

Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan adalah festival dengan lomba memasak yang mempertemukan peserta dari berbagai agama. Menurut Sri, kegiatan sederhana semacam itu justru dapat menjadi sarana efektif untuk mencairkan sekat-sekat perbedaan.

“Dalam satu grup itu harus mencakup enam agama. Mereka memasak bersama-sama. Itu salah satu wujud bahwa kebersamaan dalam perbedaan itu luar biasa dan bisa menghasilkan sesuatu yang baik,” jelasnya.

Ke depan, Forwala juga akan terus menyasar lingkungan yang masih membutuhkan penguatan pemahaman mengenai toleransi. Pendekatan yang digunakan tidak selalu harus formal, melainkan dapat dimulai melalui kegiatan sosial dan interaksi sehari-hari.

Sri menilai pendekatan perempuan yang humanis dan berbasis silaturahmi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun penerimaan secara bertahap.

“Forwala mempunyai kewajiban memberikan pencerahan di lingkungan tempat ibadah yang sebelumnya belum disetujui. Mungkin langkah utamanya memang perempuan yang masuk, kemudian membuat kegiatan ekonomi, sosial, budaya maupun pemahaman. Tidak harus selalu dengan cara yang formal, tetapi membaur terlebih dahulu,” tandasnya.

Menurut Sri, kerukunan bukan sekadar isu sosial, tetapi juga menjadi modal penting bagi pembangunan daerah. Masyarakat yang hidup damai akan lebih mudah bekerja sama dalam berbagai bidang.

“Ketika kita sudah damai, kita bisa melakukan berbagai hal bersama, baik di bidang ekonomi, sosial maupun lainnya. Karena itu, pemerintah memang harus terus mendukung dan menyokong gerakan kerukunan,” pungkasnya.