Penguatan Pancasila Dinilai Mendesak di Tengah Ancaman Polarisasi Ruang Digital

Tangerang Selatan — Tantangan menjaga persatuan bangsa kini tidak lagi datang semata dari ancaman fisik. Di era digital, hoaks, intoleransi, hingga manipulasi informasi dinilai menjadi ancaman baru yang dapat menggerus nilai kebangsaan jika tidak diantisipasi sejak dini.

Isu itu menjadi sorotan dalam Webinar Literasi Digital bertema “Penguatan Ideologi Pancasila” yang digelar Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi I bersama Kementerian Komunikasi dan Digital di Tangerang Selatan, Selasa (19/5).

Anggota Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno Laksono, menegaskan bahwa ancaman terhadap bangsa saat ini semakin kompleks karena banyak muncul di ruang digital.

“Pancasila harus tetap menjadi kompas bangsa di tengah derasnya arus informasi digital. Penguatan ideologi Pancasila penting untuk menjaga persatuan nasional,” ujarnya.

Menurut Dave, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan menyerap informasi. Algoritma media sosial, kata dia, berpotensi menciptakan echo chamber atau ruang gema informasi yang membuat masyarakat terjebak dalam sudut pandang sempit.

Karena itu, ia menilai literasi digital berbasis nilai-nilai Pancasila harus menjadi prioritas, terutama untuk generasi muda yang paling dekat dengan teknologi.

“Generasi muda harus menjadi garda terdepan menjaga nilai kebangsaan di era digital. Pendidikan karakter dan toleransi harus terus diperkuat,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Komisi Kemitraan dan Infrastruktur Dewan Pers, Rosarita Niken Widiastuti, menekankan bahwa media digital seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat toleransi, bukan justru menyuburkan kebencian.

“Ruang digital tidak boleh menjadi sarana penyebaran kebencian. Media harus dimanfaatkan untuk mempererat persatuan,” tegasnya.

Sementara itu, akademisi Ahmad Gunawan menilai penguatan ideologi Pancasila harus dimulai dari pendidikan karakter yang terintegrasi dengan literasi digital.

Menurutnya, langkah itu penting agar masyarakat, khususnya anak muda, mampu menghadapi derasnya pengaruh budaya luar dan konten negatif yang semakin mudah diakses di era globalisasi.

Webinar ini menjadi pengingat bahwa menjaga Pancasila hari ini tidak cukup hanya lewat pidato atau simbol, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat menyaring informasi, menjaga toleransi, dan bijak berinteraksi di ruang digital.