Pemkab Kotawaringin Timur Siapkan Regulasi Pembatasan Gadget Cegah Radikalisasi Online

Sampit– Ancaman terorisme siber yang menyasar tunas bangsa kian nyata. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mendeteksi dua orang anak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terpapar paham radikalisme melalui perantara game online. Merespons ancaman serius terhadap kedaulatan mental generasi muda ini, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bergerak cepat menyusun regulasi pembatasan gawai (gadget) bagi pelajar.

Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, mengatakan hal ini terungkap atas koordinasi dengan tim Densus 88 AT Polri yang mengungkapkan pola penyusupan paham radikal yang kini memanfaatkan game online.

“Densus 88 mendeteksi ada dua anak kita di wilayah kota yang terindikasi terpapar. Modusnya bermula dari game online seperti Roblox yang mengandung unsur kekerasan, kemudian mereka diajak masuk ke grup WhatsApp tertutup,” ungkap Irawati dengan nada prihatin namun tegas.

Dalam grup pesan instan tersebut, anak-anak yang masih dalam fase pencarian jati diri didoktrin dengan narasi kebencian, cara-cara kekerasan, hingga teknik membunuh. Para pelaku teror memanfaatkan kerentanan psikologis anak, termasuk celah perundungan (bullying), untuk menanamkan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

Tak ingin masa depan anak-anak Kotim dirusak oleh ideologi destruktif, Pemkab Kotim berencana mengeluarkan instruksi tegas terkait pembatasan penggunaan gawai bagi anak usia sekolah, khususnya jenjang SD hingga SMP (usia 5-15 tahun). Langkah ini terinspirasi dari kebijakan serupa yang telah diterapkan di Surabaya.

“Ini adalah bentuk perlindungan negara terhadap warganya. Kami akan berkoordinasi dengan Bupati untuk segera menerbitkan instruksi pembatasan gadget. Anak-anak di usia ini sangat rentan dan labil, kita tidak boleh membiarkan mereka dicekoki konten berbahaya,” tegas Irawati.

Saat ini, kedua anak yang terpapar tersebut telah berada dalam penanganan dan pengawasan ketat oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta dinas terkait. Pemkab memastikan negara hadir untuk merehabilitasi pola pikir mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Di sisi lain, Irawati menyerukan kepada seluruh orang tua untuk kembali menguatkan peran keluarga sebagai benteng utama. Ia mengimbau agar anak-anak dialihkan pada kegiatan positif seperti pengembangan bakat, les pelajaran, dan aktivitas sekolah yang membangun karakter cinta tanah air, daripada dibiarkan larut tanpa pengawasan di dunia maya.